Sejarah

Sang Ulama yang Dipenjara: Jalinan Kisah Hamka dan Soekarno

Share the idea

Penulis: Dila Retta

Tragedi ini berawal setelah Pemilu 1955. Saat itu Buya Hamka terpilih nenjadi anggota Dewan Konstituante dari Masyumi mewakili Jawa Tengah. Ia bersama dengan Moh. Natsir, Moh. Roem, dan Isa Anshari menjadi pihak yang paling konsisten dalam memperjuangkan formalisasi syariat Islam.

Namun kala itu, Presiden Soekarno mendasarkan negara Indonesia dengan landasan Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis), yang tentu ditentang keras oleh Hamka.

Dalam sebuah sidang, Soekarno pernah menyatakan pandangannya dengan mengatakan “Inilah ash-shiraath al-mustaqiim!” (jalan yang lurus). Namun, Hamka menimpalinya dengan mengatakan, Bukan, itu adalah ash-shiraat ila al-jahiim!” (jalan menuju Neraka Jahanam).

Tragedi ini berawal setelah Pemilu 1955. Saat itu Buya Hamka terpilih nenjadi anggota Dewan Konstituante dari Masyumi mewakili Jawa Tengah. Ia bersama dengan Moh. Natsir, Moh. Roem, dan Isa Anshari menjadi pihak yang paling konsisten dalam memperjuangkan formalisasi syariat Islam.

Namun kala itu, Presiden Soekarno mendasarkan negara Indonesia dengan landasan Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis), yang tentu ditentang keras oleh Hamka.

Dalam sebuah sidang, Soekarno pernah menyatakan pandangannya dengan mengatakan “Inilah ash-shiraath al-mustaqiim!” (jalan yang lurus). Namun, Hamka menimpalinya dengan mengatakan, Bukan, itu adalah ash-shiraat ila al-jahiim!” (jalan menuju Ner4ka Jah4nam).

Saat sidang Konstituante di Bandung pada tahun 1957, Buya Hamka menyampaikan pidato penolakan atas gagasan Soekarno yang akan menerapkan sistem Demokrasi Terpimpin. Hal tersebut membuat Soekarno geram. Dengan “palu godam”nya, Soekarno pada 5 Juli 1959 akhirnya membubarkan Dewan Konstituante melalui Dekrit Presiden. Masyumi juga terkena imbasnya dan dibubarkan pada tahun 1960.

Setelah Dewan Konstituante dan Masyumi dibubarkan, Hamka tak lagi terlibat dalam politik. Ia hanya memfokuskan kegiatannya dalam berdakwah dan memimpin jama’ah Masjid Agung Al-Azhar. Dari sanalah, lahir karyanya yang paling monumental dan dikenal dengan “Tafsir Al-Azhar“.

Pada tahun 1964, Soekarno memenjarakan Hamka dengan tuduhan telah mengadakan rapat gelap, yang bertujuan menggulingkan Presiden. Selama ditahan, ia terus mendapat siksaan dan penindasan agar mau menerima tuduhan terhadapnya.

Tahun 1966, saat kekuasaan PKI hancur, Buya Hamka dibebaskan dan tuduhannya dihapuskan.

Meski telah mendapat banyak perlakuan kejam, namun tak sedikit pun Hamka menyimpan dendam. Ia bahkan tetap berkenan memenuhi permintaan terakhir Bung Karno, sosok yang telah menjebloskannya ke dalam penjara.

Hal itu terjadi pada tanggal 16 Juni 1970. Saat Soekarno wafat, ia menitipkan salah satu pesan terakhirnya yang menyatakan, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam sholat jenazahku”. Hamka pun menerima dan melaksanakan pesan tersebut. Ia segera mendatangi Wisma Yaso dan mulai memimpin sholat jenazah, sebagaimana keinginan terakhir sang mantan penguasa negara.

Selama 2 tahun 4 bulan ditahan, ia merasa jika semua itu adalah anugerah dari Allah kepadanya. Hikmah terbesarnya, jika bukan dalam tahanan, tidak mungkin baginya memiliki cukup waktu untuk mengerjakan dan menyelesaikan Tafsir Al-Azhar dengan paripurna.

RIWAYAT LAMA TUTUPLAH SUDAH. SEKARANG BUKA LEMBARAN BARU. BAIK HENTIKAN TERMENUNG GUNDAH, APALAH GUNA LAMA TERHARU.”

Buya Hamka

Sumber dan Rekomendasi Bacaan: Thowaf Zuharon dan Anab Afifi. 2015. Ayat-Ayat yang Dis3mb3lih. Jagat Publishing.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *