Sebelum Minyak Menyerang: Sepak Terjang Kafir Penjajah di Timur Tengah

Share the idea

Retorika Jerman.

Kaiser Wilhelm II (k. 1888-1918), penguasa Jerman yang menjalin hubungan istimewa dengan Khilafah ‘Utsmaniyyah, pernah bertandang ke makam sang pahlawan umat, Shalahuddin al-Ayyubi. Dalam kunjungan yang dilaksanakan hanya setahun pasca penobatannya, Wilhelm berpidato,

“Semoga Sultan dan 300 juta warga muslimnya yang tersebar di seluruh pelosok dunia, yang memuliakannya sebagai khalifahnya, percaya bahwa Kaiser Jerman akan menjadi sahabat mereka selamanya.”

Kaiser Wilhelm II di Damaskus. 7 November 1898.

Sebagaimana yang disampaikan dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda, berbagai pergerakan Jerman saat itu bukan untuk menjalin persahabatan yang tulus. Dengan lebih dari 100 juta Muslim yang berada di bawah kekuasaan Inggris di India, Teluk Persia, dan Mesir; Jerman melihat potensi untuk memanfaatkan Islam sebagai senjata melawan Inggris apabila diperlukan.

Selain berpidato, sang Kaiser juga menghadiahkan karangan bunga keemasan di makam Shalahuddin. Berbalut bahasa Arab, pada karangan bunga itu diukir kalimat, “Mahkota ini dipersembahkan oleh Yang Mulia, Kaisar Jerman Wilhelm II untuk mengenang kunjungannya ke makam Shalahuddin al Ayyubi”.

Karangan bunga (kiri) dan air mancur (kanan) hadiah dari Kaiser Jerman

Saat ini, karangan bunga keemasan itu sudah tidak ada di makam. Pada 11 November 1918, Kolonel Thomas Edward Lawrence membawa dan menyerahkannya ke Imperial War Museum di Inggris.

Lawrence merupakan agen Inggris berpengaruh yang banyak menghasut dan membantu para penguasa maupun masyarakat Arab untuk memberontak kepada Khilafah yang dicitrakan sebagai penjajah. Sebagaimana yang disampaikan juga oleh Imperial War Museum, foto Lawrence dalam balutan gaun tradisional Arab di Balkon Hotel Victoria Damaskus (foto kanan atas), diambil pada 3 Oktober 1918 pasca pengunduran dirinya dari tentara Arab.

Dua hari sebelumnya, intel Inggris yang jago berbahasa Arab ini turut berpartisipasi dalam pasukan Allenby untuk menaklukkan Damaskus sebagai salah satu wilayah penting ‘Utsmaniyyah di Timur Tengah.

Selain mendekati beberapa penguasa muslim secara personal, negara-negara kafir penjajah juga berusaha mengeksplorasi potensi minyak bumi di Timur Tengah.

Siasat ini, seringkali dibungkus dengan rapi. Buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda” mengungkap, bahwa Jerman berambisi menguasai petroleum di kawasan Arab “dengan pura-pura mengirimkan sejumlah ilmuwan dengan dalih ingin melakukan penelitian arkeologi.”

Inggris, yang meminta izin pada Sultan Abdul Hamid II untuk mengeksplorasi minyak bumi di Irak dan Suriah, berdalih bahwa eksplorasi itu bukan untuk menggali minyak bumi. Melainkan untuk menemukan benda-benda arkeologis dan sumber air bagi daerah-daerah kering sebagai aksi peduli “atas nama kemanusiaan”.

Sultan Abdul Hamid II membaca langkah politik ini dan menuliskan analisisnya dalam catatan hariannya,

“Aku pun menolak usulan tersebut. Bahkan tidak hanya itu, aku juga secara resmi menyegeldanmenutupsumur-sumuryang telah mereka buat di Mosul dan Bagdad. Pihak Inggris pun sangat kecewa dan marah dengan langkah yang aku ambil itu. Lalu mereka membiarkan sumur-sumur itu terbengkalai seperti apa adanya.

Namun, mereka mulai melancarkan aksi provokatif untuk menciptakan kegaduhan dan instabilitas politik dengan memunculkan isu Khilafah (Arab, pen). Dalam hal ini, mereka memanfaatkan Jamaluddin al-Afghani untuk mewujudkan tujuan-tujuan mereka. Disamping itu, mereka juga ingin memuluskan rencana itu dengan ‘merangkul’ amir Hijaz.”  

Wilfrid Scawent Blunt (kiri) dan Jamaluddin al-Afghani (kanan). Dua agen Inggris berbahaya yang memainkan peran penting di Timur Tengah

Amir Hijaz yang dimaksud tentu saja Syarif Husayn bin ‘Ali, penguasa Mekkah yang berambisi mengambil alih jabatan Khalifah dengan dukungan Inggris yang ingin membentuk “Khilafah Arab” di bawah kendalinya.

Menariknya, negosiasi antara Inggris dan Husayn berlangsung alot. Inggris mencukupkan kekuasaan Husayn hanya di wilayah Hijaz, namun Husayn meminta juga wilayah Lebanon, Suriah, dan Irak.

Sebagaimana yang dituliskan dalam bukuKhilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda”, Lawrence yang dongkol kemudian mengeluhkan, “Si tua bangka itu adalah figur yang tragis dalam menempuh jalan hidupnya… Ia berani, berkepala batu, sudah habis masanya tanpa bisa diharapkan, dan menjengkelkan.”

Ketika berahinya kepada Syarif Husayn meredup, gairah Inggris mulai menggebu-gebu kepada sekutunya yang lain dari kalangan penguasa Arab: Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman al-Saud. Pada Desember 1916, Inggris dan Raja Ibn Saud mengukuhkan perjanjian di mana Inggris menjamin kekuasaan independen bagi Ibn Saud di Najd, al-Hasa, Qathif, dan Jubayl. Inggris juga memberi Ibn Saud uang 20 ribu poundsterling dan amunisi persenjataan.

Pada Juli 1924, Ibn Saud mengumpulkan perwiranya di Riyadh untuk merebut Hijaz dari tangan sang pseudo-Khalifah, Syarif Husayn. Sebelum ke Makkah, pasukan Ibn Sa’ud menyerang terlebih dahulu kota Tha’if yang terletak tak jauh dari Makkah untuk mengetes reaksi Inggris. Ternyata, Inggris hanya berdiam diri dan membiarkan penyerangan tersebut –  sebuah tanda bahwa restu Inggris telah turun kepada Ibn Saud.

Jika di Jakarta ada konser Korea dengan peserta mbak-mbak berjilbab dan berkerudung yang bercampur baur dengan laki-laki, maka di Riyadh ada konser Blackpink dengan peserta mbak-mbak bercadar.

Seabad yang lalu, Riyadh pernah digunakan Ibnu Saud sebagai basis pasukannya. Saat ini, Riyadh menjadi basis liberalisasi Arab Saudi.

Makin mantaplah pasukan Wahhabi menaklukkan Hijaz secara penuh. Kota suci umat Islam sedunia, Makkah, berhasil dikuasai Raja Abdul Aziz pada bulan Oktober, menyusul Madinah pada Januari 1925. Terusirlah Husayn yang menjadi korban harapan palsu Inggris ke tempat pembuangannya di Cyprus.

Pada 1938, masih di masa Raja Abdul Aziz, Amerika akhirnya berhasil menemukan ladang minyak yang mengubah nasib Arab Saudi selamanya. Saat ini, tentu saja kita sedang sama-sama menikmati pertunjukan liberalisasi Arab Saudi dengan pemimpinnya yang “tersandera” oleh kepentingan musuh-musuh Islam.

Sumber dan Rekomendasi Bacaan:

Nicko Pandawa. 2021. Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda. Komunitas Literasi Islam: Bogor.

https://www.iwm.org.uk/history/who-was-lawrence-of-arabia

https://m.facebook.com/iwm.london/photos/a.282614210478/10159711184500479/

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *