Sejak Kapan Rakyat Aceh Menjadi Warga Negara Khilafah?

Share the idea

Tulisan ini adalah lanjutan dari postingan @komunitasliterasiislam sebelumnya yang berjudul, “Pengaruh Pembebasan Konstantinopel: Pujian Rakyat Jawi Atas Khalifah”

Sejak kapan Kesultanan Aceh berada “di bawah perintah Sulṭān Rūm”? (Sultan Rum adalah sebutan untuk para Khalifah ‘Utsmaniyyah). Ini dijawab Sultan Manshur Syah (penguasa Aceh ke-30, k. 1823-1838) dalam suratnya yang berbahasa Arab: 

وبعد تقبيل الأعتاب السامية التي هي ملجأ العفاة ومحل الكرم الذي ما خاب من اقتفاه فالمنهي إلى المسامع الكريمة والعواطف الرحيمة إننا معاشر سكان إقليم آشي بل وجميع سكان جزيرة سماطرا كلهم محسوبين من رعايا الدولة العلية العثمانية جيلا بعد جيل من مدة مولانا المرحوم السلطان سليم خان ابن المرحوم مولانا السلطان سليمان خان ابن المرحوم مولانا السلطان سليم أبي الفتوح خان عليهم من المولى الرحمة والرضوان وذلك مثبوتا في الدفاتر السلطانية

Setelah mengecup “Jenjang-jenjang tangga yang tinggi” yang merupakan tempat perlindungan bagi para pencari kebaikan dan tempat kemurahan yang tidak akan kecewa orang yang mendatanginya, maka telah sampai kepada “Pendengaran yang mulia dan Perasaan yang penuh kasih sayang” bahwa sesungguhnya kami seluruh penduduk Negeri Aceh, bahkan seluruh penduduk Pulau Sumatra tergolong sebagai rakyatnya Negara Adidaya Utsmaniyyah dari generasi ke generasi semenjak zaman Tuan kami al-Marḥūm Sulṭān Selim Khān anak al-Marḥūm Tuan kami Sulṭān Süleyman Khān anak al-Marḥūm Tuan kami Sulṭān Selim Abū al-Futūḥ Khān, semoga terlimpah rahmat dan ridha Allah atas mereka semuanya. Dan itu telah tercantum dalam arsip kesultanan (BOA. İ.HR, 73/3511).

Menurut Sultan Manshur Syah, segenap penduduk Aceh atau bahkan seluruh penduduk pulau Sumatera “tergolong sebagai rakyatnya Negara Adidaya Utsmaniyyah dari generasi ke generasi” (kulluhum maḥsūbīna min ri’āyā al-Daulah al-‘Aliyyah al-‘Uṡmāniyyah jīlan ba’da jīl).

Ketergolongan mereka sebagai rakyat Khilafah Utsmaniyyah sudah berlangsung, sebut Sultan Manshur Syah, sejak masa Sultan Selim II bin Süleyman I Kanuni bin Selim I. Klaim penguasa Aceh ini memiliki tingkat akurasi historis yang cukup sempurna. Ia mendaulatkan pengakuannya dengan merujuk kepada “arsip kesultanan” (wa żālika maṡbūtan fī al-dafātir as-sulṭāniyyah).

Tidak hanya Aceh dan Sumatera, gema Khilafah Utsmaniyyah atau Sultan Rum juga tersohor sampai Jawa.

Banyak kitab-kitab sastra Jawa yang menggambarkan Sultan Rum dengan citra yang demikian positif. Para pujangga Mataram (Yogyakarta dan Surakarta) mengarang kitab-kitab sastra seperti Serat Paramayoga, Serat Jangka Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, Serat Wedda-Musyawarat, sampai Serat Centhini. Dalam serat itu semua, dikisahkan bahwa “Sultan Ngerum” (Sultan Rum) memiliki jasa dalam mengislamkan tanah Jawa. Walau tentu kita harus berhati-hati dalam menggunakan kitab-kitab sastra Mataram ini untuk mengambil sumber historis. Setidaknya, secara kultural citra Khilafah Utsmaniyyah atau “Sultan Rum” tetaplah istimewa.

Salah satu penguasa Jawa yang dikatakan mempunyai hubungan kuat dengan Khilafah Utsmaniyyah adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo, sultan terbesar Mataram. Sebelum bergelar sultan, ia dijuluki sebagai Raden Mas Rangsang.

Untuk melegitimasi kekuasaannya, Sultan Agung mengirim utusan ke Hijaz dan menemui Syarif Makkah yang berada di bawah kepemimpinan Khilafah Utsmaniyyah. Ketika utusan ini kembali ke Jawa, Sultan Agung dianugerahi gelar “Sultan ‘Abdullah Muhammad Maulana al-Matarami”.

Di kompleks makamnya yang ada di puncak bukit Imogiri, kita dapat melihat salah satu dari empat gentong yang dikatakan merupakan hadiah dari “Sultan Ngerum”.

Perjalanan hidup Sultan Agung dan hubungannya dengan Khilafah Utsmaniyyah juga diceritakan pemimpin perang Jawa yang luar biasa, Pangeran Diponegoro.

Dalam karyanya yang ditulis di Manado pasca-berakhirnya peperangan, Pangeran Diponegoro menceritakan pengalaman mencari ilmu agama yang dilakukan Sultan Agung yang merupakan nenek moyangnya.

Konon, sebelum menjadi penguasa, Sultan Agung adalah seseorang yang sangat gigih mencari ilmu ke berbagai penjuru negeri Islam seperti Makkah, Mesir, Syam, Istanbul, dan sebagainya. Kisah ini diceritakan dalam Babad Diponegoro pupuh 11 tembang Pocung bait ke-13 sampai ke-16:

Sampun lama jeng pangran neng Makkah iku, sanget mati raga, tan arsa kondura mangke, Mesir, Ngesam, Bental Mukades jinajah. // Naning mendhadhru wis langip lampahipun, nut lembak ing driya, tan mantra putraning aji, ing Setambul ing Ngerum sampun jinajah. // Dadya kathah kanjeng pangran tilasipun, saben-saben ngambah, ana tilas siji siji, gen manekung saking karem dating sukma. // Saben ana seh terang maring ngelmu, samya ginuronan, dadya sangsana tyas neki, tingalira dumeling kodrat kang mulya.

(Telah lama pangeran berada di Makkah, ia hidup dengan membuat dirinya prihatin. Ia tidak ingin pulang ke Jawa. Mesir, Syam, Baitul Muqaddas telah dijelajahinya. // Tetapi seperti komet, perjalanannya meski pelan terus melangkah mengikuti keinginan panca inderanya, tidak nampak lagi bahwa dirinya adalah putra raja. Istanbul di Turki telah ditempuhnya. // Banyak tempat telah dikunjungi oleh sang pangeran, setiap mendatangi satu tempat ia beribadah di sana saking cintanya kepada Allah. // Setiap ada Syekh yang dikenal memiliki ilmu ia akan berguru, sehingga hatinya menjadi tempat yang tepat bagi takdir mulia yang akan diterimanya kelak.)

Ismail Hakki Kadi dan A.C.S. Peacock telah menghimpun arsip yang mencatat relasi hubungan Khilafah Utsmaniyyah dengan Asia Tenggara yang ada dalam arsip kenegaraan Utsmaniyyah (Basbakanlik Osmanli Arsivi). Penghimpunan dan penelitian yang memakan waktu 11 tahun ini telah dibukukan dalam dua jilid buku berjudul Ottoman-Southeast Asian Relations: Sources from the Ottoman Archives.

Di dalamnya, ada sejumlah penguasa Asia Tenggara yang tercatat pernah menyatakan loyalitasnya kepada Khilafah Utsmaniyyah, yakni:

  1. Aceh (Sultan ‘Alauddin Ri’ayat Syah al-Qahhar, Sultan ‘Alauddin Manshur Syah, Sultan ‘Alauddin Mahmud Syah, Sultan ‘Alauddin Muhammad Dawud Syah).
  2. Kedah, Malaysia (Sultan Ahmad Tajuddin Halim Syah).
  3. Johor, Malaysia (Sultan Ibrahim Khan).
  4. Riau (Raja Yang Dipertuan Muda ‘Ali bin Raja Ja’far).
  5. Tambusai, Rokan Hilir (Sultan Zaynal ‘Abidin).
  6. Jambi (Sultan Thaha Sayfuddin bin Fakhruddin).
  7. Pontianak (Sultan Muhammad bin Yusuf al-Qadri).
  8. Brunei (Sultan Hasyim Jalil al-‘Alam).
  9. Pattani, Thailand (Sultan Sulayman Khan).

Allahu a’lam bish-shawwab []

Sumber dan Rekomendasi Bacaan:

Başbakanlık Osmanlı Arşivi (BOA/Arsip Perdana Menteri Utsmani), Istanbul, İ. dengan nomor panggil HR. 73/3511

Nindya Noegraha (ed). 2016. Babad Dipanegara. Narasi: Yogyakarta.

Ismail Hakki Kadi dan A.C.S. Peacock. 2019. Ottoman-Southeast Asian Relations: Sources from the Ottoman Archives. Brill: Leiden.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *