Sejarah Islam Abangan dan Populernya Komunisme di Masyarakat Desa

Share the idea

Perang Jawa alias Perang Diponegoro (1825—1830) yang dipimpin oleh Pengeran Diponegoro ini merupakan perang semesta yang melibatkan semua elemen masyarakat Jawa, mulai dari para pengeran dan priyayi keraton, para ulama, santri, serta masyarakat pedesaan Jawa. Kolonial Belanda sendiri untuk pertama kalinya menghadapi sebuah unsur perlawanan yang sangat rapi sekaligus modern, sehingga merombak total strategi perang.

Meskipun perang ini praktis hanya melanda wilayah Jawa bagian tengah dan timur serta berlangsung hanya lima tahun, namun pengaruhnya meluas ke seluruh Nusantara dan terasa hingga hari ini. Inilah perang yang membuat pemerintah kolonial Belanda tidak hanya menghadapinya dengan kekuatan militer tapi juga pendekatan sosial budaya.

Kedahsyatan perang ini berhasil merugikan Belanda, baik secara meteriil maupun non materiil. Kas negara berkurang hingga 20 juta gulden. Bahkan di Eropa, perang ini memicu Belgia mengambil kesempatan untuk merdeka dari Belanda.

Berkaca dan trauma pada perang ini, Kolonial Belanda melakukan segala cara agar perlawanan serupa Diponegoro tak terulang lagi di Jawa. Untuk itu, Belanda melakukan politik belah bambu masyarakat Jawa.

Tindakan pertama adalah merangkul dan mengikat para bangsawan atau priyayi dalam proyek cultuur-stelsel atau Tanam Paksa. Proyek Tanam Paksa ini menjadikan para bangsawan menjadi pengawas untuk mengawasi hasil panen tanaman ekspor tersebut. Para pejabat mulai setingkat bupati (regent) hingga lurah langsung berada di bawah kendali pemerintah kolonial dan digaji oleh mereka. Efek dari hal ini adalah para bangsawan tak lagi menjadi pelindung rakyat tapi berlomba-lomba menghisap kekayaan bangsanya demi status di depan penguasa kolonial.

Penguasa kolonial juga menjauhkan para bangsawan ini dari para ulama (hingga pelarangan berhaji). Tak lupa, Belanda kemudian menjejali para bangsawan dengan model pendidikan Barat.

Di sisi lain, target kristenisasi kepada para bangsawan gagal, sebagaimana ucapan bupati Rembang pada rekan Belandanya, “Lebih baik saya Bertuhan satu dan diperkenankan beristri empat, ketimbang hanya beristri satu namun bertuhan empat”. Para bangsawan lebih memilih mengikuti gerakan Teosofi-Freemasonry yang juga banyak diikuti petinggi kolonial Belanda.

Tindakan kedua adalah meminimalisir pengaruh ulama dan kaum santri (putihan). Dianggap sebagai aktor utama penggerak perlawanan, Belanda terus menekan kaum putihan. Sejak berakhirnya Perang Jawa, mereka dijauhkan dari Keraton dan desa-desa pedalaman dan dilokalisir di kawasan pesisir saja. Sejumlah perlawanan di desa-desa selama tahun-tahun 1930-an hingga awal 1900-an menyebabkan Belanda menerbitkan berbagai UU untuk mempersempit gerak kaum putihan, mulai dari pelarangan kunjungan orang Arab ke Jawa, kewajiban penyematan gelar haji agar mudah diawasi oleh intel penguasa, hingga Ordonantie Pendidikan yang menyebabkan banyak pesantren dicap sebagai sekolah liar dan dibubarkan.

Kaum Putihan yang terpisah dari Kraton dan rakyat desa pada akhirnya tercabut dari masyarakatnya. Ketika mereka mengikuti gelombang modernisme yang melanda dunia Islam pada awal abad ke-20, mereka tidak mampu men-dialektika-kan konsep itu kepada masyarakat, sehingga yang terjadi adalah benturan yang sesuai dengan harapan penjajah Belanda. Namun, kaum putihan tetap dianggap sebagai pemimpin masyarakat dan nanti perannya masih terasa hingga masa perang kemerdekaan.

Tindakan ketiga adalah memperbudak rakyat. Rakyat kecillah yang paling menderita sejak pelaksanaan Tanam Paksa. Mereka kehilangan pelindung dari para bangsawan dan priyayi, mereka juga kehilangan pemimpin sekaligus pembimbing yaitu kaum putihan. Inilah menjadi sebab utama mudah tersulutnya kaum petani dalam pemberontakan mulai dari Banten, Brebes, hingga Sidoarjo. Melahirkan mitos perlawanan sebagaimana kisah Sarip Tambak Oso hingga Pak Sakera yang sering ditampilkan di panggung ludruk Jawa Timuran.

Dijauhkan dari ulama menyebabkan rakyat perdesaan menciptakan pola beragamanya sendiri. Konsep berislam mereka mengalami keterputusan dengan dinamika Islamisasi, karena semakin sedikitnya ulama dan kaum santri yang mendampingi mereka. Juga semakin hilangnya pesantren-pensantren desa yang merupakan wadah pendidikan bagi masyarakat desa. Maka lahirlah konsep Islam yang bercampur tradisi (sebenarnya suatu hal yang lumrah dan sejak dulu telah muncul di Jawa). Namun konsep ini dipandang sebagai konsep yang menyimpang di kalangan kaum santri yang telah terpengaruh modernisme Islam yang kala itu menggejala. Walhasil, lahirlah istilah “abangan” untuk menggambarkan konsep spiritual masyarakat pedesaan Jawa.

Pengistilahan ini semakin menunjukkan perpecahan antara kaum ulama dan santri di satu sisi dengan rakyat pedesaan di sisi lain. Sebuah hal yang dulu disatukan oleh Sunan Kalijaga dan dijaga oleh para penguasa Demak, Pajang, Mataram hingga Yogyakarta dengan “menanam” para kyai di tiap-tiap desa untuk menjadi pembimbing masyarakat.

Penetrasi penjajahan serta sikap curiga oleh para kaum putihan yang dirasakan oleh kaum tani pedesaan, pada akhirnya membuat mereka memilih bergabung dengan gerakan komunisme yang dalam jargon-jargonnya sering mengetengahkan pembelaan terhadap kaum tani perdesaan. Sebuah pilihan satu-satunya bagi kaum petani perdesaan. Pilihan inilah yang nanti seba’da kemerdekaan, menempatkan mereka untuk berlawanan dengan para priyayi desa dan para ulama’.

Peristiwa G30S/PKI menjadi puncak dari pecah belah Belanda. Ketika para petani pedesaan yang bergabung dengan PKI pada akhirnya memilih untuk dikristenkan karena merasa tidak mendapat tempat lagi di mata kaum putihan (ulama dan santri).

Hingga hari ini, retakan tersebut masih terjadi dan diaminkan oleh banyak pihak (baik oleh orientalis maupun golongan Islam). Walaupun sebagaimana ungkapan Andre Muller, bahwa Islamisasi di Jawa itu ibarat sebuah siklus. Meski seakan terpisah, bagaimanapun kaum abangan dan priyayi tetap membutuhkan dan akan berubah menjadi kaum putihan ketika menghadapi satu momen krusial dalam hidup, yaitu kematian. Kaum abangan dan priyayi akan otomatis akan menjadi santri dan dekat dengan ritus-ritus peribadatan Islam, di kala mencapai usia senja.

Siklus ini tergambar dalam tembang macapat yang menggambarkan fase kehidupan manusia. Dimulai dari maskumambang (dalam kandungan) kemudian mijil (lahir) dan lalu melewati fase sinom (kanak-kanak), kinanthi (fase menuntut ilmu dan akhlak), asmaradana (muncul rasa asmara), gambuh (menikah), lalu dhandanggula (merasakan pahit manis kehidupan) dan mencapai fase durma (mendermakan diri pada masyarakat), pangkur (berpaling dari gemerlap dunia) hingga megatruh (wafat) dan pocung (memasuki alam kubur).[]

Sumber:

Irfan Afifi, 2019. Saya, Jawa, dan Islam. Yogyakarta;Tanda Baca

M.C. Ricklefs, 2012. Mengislamkan Jawa. Jakarta;Serambi

M.C. Ricklefs, 2008. Sejarah Indonesia Modern. Jakarta;Serambi

Peter Carey, 2012. Kuasa Ramalan jilid 1 dan 2. Jakarta;Kepustakaan Populer Gramedia

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *