Sejarah Lahirnya Feminisme dan Awal Mula Pergerakannya di Indonesia

Share the idea

Penulis : Hana Annisa Afriliani, S.S.

Gelombang Pertama

Gelombang pertama dimulai dengan tulisan Mary Wollstonecraft yang berjudul, The Vindication of the Rights of Woman” (1792) hingga perempuan mencapai hak pilih pada awal abad keduapuluh (Sanders, 2006). Tulisan tersebut mengkritisi soal posisi perempuan yang kurang beruntung daripada laki-laki dalam realitas hak mendapat pendidikan, hak berpolitik, hak kepemilikan dan hak pekerjaan di ranah publik. Menurutnya, kondisi tersebut disebabkan oleh kebanyakan perempuan yang masih buta huruf, miskin, dan tak memiliki keahlian.

Maka, Wolstonecfrat memusatkan perjuangannya pada pengembangan intelektualitas perempuan sehingga mampu berkembang menjadi individu yang mandiri, terutama secara finansial (Richardson, 2002). Perjuangan Wollstonecraft dilanjutkan oleh pasangan Harriet dan John Stuart Mill. Mereka memperjuangkan perluasan kesempatan kerja bagi perempuan dan hak-hak legal perempuan dalam pernikahan maupun perceraian.

Aktivitas para perempuan ini memicu tumbuhnya kesadaran mengenai ketertindasan perempuan yang kemudian mendorong munculnya berbagai organisasi untuk membela nasib kaum perempuan. Aktivitas kaum feminis di Inggris ini bergaung juga di Amerika yang mencapai tonggak penting pada Seneca Falls Convention (1848) yang menuntut dihapuskannya semua diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Di Amerika, feminisme mulai berkembang pesat  pada tahun 1869 setelah munculnya publikasi John Stuart Mill yang berjudul The Subjection of Women (Broto dalam Darma, 2009:145).

Pada akhirnya, gerakan feminisme gelombang pertama ini sampai pada perjuangan untuk mengubah tatanan sosial. Mereka menghendaki agar perempuan memiliki hak untuk memilih dalam pemilu. Perjuangan panjang mereka dalam hal ini baru terwujud pada tahun 1918.

Sementara itu, pada tahun 1785 perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda. Kemudian tahun 1837, kata feminisme dicetuskan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier.

Gelombang Kedua

Feminisme gelombang kedua dimulai pada tahun 1960an yang ditandai dengan terbitnya The Feminine Mystique (Freidan, 1963), diikuti dengan berdirinya National Organization for Woman (NOW, 1966) dan munculnya kelompok-kelompok Conscious Raising (CR) pada akhir tahun 1960an (Thompson, 2010). Feminisme gelombang kedua dinilai sebagai feminisme yang paling kompak dalam paham dan pergerakan mereka (Thornham, 2006).

Adapun feminisme gelombang kedua bertema besar ―women’s liberation yang dianggap sebagai gerakan kolektif yang revolusionis. Gelombang ini muncul sebagai reaksi ketidakpuasan perempuan atas berbagai diskriminasi yang mereka alami meskipun emansipasi secara hukum dan politis telah dicapai oleh feminisme gelombang pertama.

Oleh karena itu, feminisme gelombang kedua lebih memusatkan diri pada isu-isu yang memengaruhi hidup perempuan secara langsung, seperti soal reproduksi, pengasuhan anak, kekerasan seksual, seksualita perempuan, dan masalah domestisitas (Gillis, et.al., 2004)

Feminisme gelombang kedua terbagi ke dalam dua aliran, yakni aliran kanan yang dikenal dengan aliran liberal dan aliran kiri yang dikenal dengan aliran radikal. Aliran liberal memperjuangkan partisipasi perempuan di ranah publik secara total agar setara dengan laki-laki. Di antara perjuangan mereka juga adalah menuntut gaji setara dengan para pekerja laki-laki.

Sementara aliran radikal, lebih mengkritisi soal budaya patriarki yang melekat pada institusi pernikahan, sehingga “memaksa” perempuan harus bersikap patuh terhadap suami, mengalah, dan lemah lembut.

Menurut feminis gelombang kedua, conscious rising (pencerahan akan kondisi tertindasnya perempuan oleh patriarki) merupakan solusi alternatif terbaik untuk menyadarkan perempuan dari keterkungkungan mereka (O‘Reilly dan Porter, 2005). Sementara itu, Kate Millett dan Firestone berpendapat lebih radikal. Bergerak di bidang sastra, Kate Millett mengembangkan kajian sastra, film, dan budaya untuk melawan penindasan terstruktur melalui kontrol ideologis. Sementara Firestone mengikuti ajaran Marxis dan mengajak perempuan untuk memiliki kendali penuh atas alat reproduksinya (Tong, 2009).

Gelombang Ketiga

Adapun feminisme gelombang ketiga atau biasa disebut dengan postfeminism mulai berkembang pada akhir tahun 1980an. Hal ini berawal dari adanya pergolakan di antara kalangan para feminis itu sendiri, pasca banyaknya kritik atas feminisme gelombang kedua yang dinilai tak berpihak pada perempuan kulit hitam, perempuan pekerja, dan kaum lesbian. Oleh karena itu, feminis gelombang ketiga berusaha membenahi arah perjuangan mereka. Mereka menganggap bahwa apa yang selama ini mereka perjuangan bersifat rasis dan endosentris.

Akibat banyaknya suara yang tak terwakili dalam feminisme gelombang kedua yang berpadu dengan perkembangan

post-modernisme, perkembangan feminisme sejak akhir tahun 1980an menjadi sangat majemuk. Post-modernisme menolak wacana monolitik dan kebenaran tunggal serta pengaburan batas-batas adi budaya dengan budaya masa (dalam hal ini budaya populer).

Dengan konsep-konsep post-modernis ini, banyak suara yang tadinya dipinggirkan mendapatkan kesempatan untuk menyuarakan diri dan didengar. Hal ini mengakibatkan begitu banyak aliran yang mewarnai perkembangan feminisme era post-modern ini.

Gerakan Feminis di Indonesia

Gerakan feminisme di Indonesia dimulai sejak masa pra-kemerdekaan. Banyak aktivis feminis mengklaim bahwa gerakan feminisme di Indonesia ditandai dengan munculnya beberapa tokoh perempuan yang rata-rata berasal dari kalangan atas, seperti Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, dan lain-lain. Mereka berjuang dalam merespon kondisi perempuan di lingkungannya.

Padahal kenyataannya, model gerakan Dewi Sartika dan Kartini lebih mengarah pada pendidikan dan itu pun baru upaya melek huruf serta mempersiapkan perempuan sebagai calon ibu yang terampil. Karena baru sebatas itulah perjuangan yang memungkinkan untuk dilakukan pada masa itu. Jadi, tidak ada konsep kesetaraan gender dalam corak perjuangan mereka sebagaimana yang selama ini digembar-gemborkan kaum feminis.

Sementara itu, Cut Nyak Dhien yang hidup di lingkungan yang tidak sepatriarki Jawa, telah menunjukkan kesetaraan dalam perjuangan fisik tanpa batasan gender.

Kemudian di era orde lama, presiden Soekarno memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi aktivis feminis untuk memberikan pengajaran soal keperempuanan dan perjuangan perempuan. Sampai akhirnya muncul Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), yakni organisasi perempuan yang cukup progresif dalam menyuarakan isu-isu yang berkaitan dengan perempuan. Gerwani juga turut serta dalam bidang politik demi menjembatani antara politik dan kebutuhan sosial perempuan.

 Sementara itu, pada masa Orde Baru, gerakan keperempuanan ini agak tersingkirkan. Pada masa ini, perempuan dicitrakan hanya sebatas pendamping lelaki bahkan berada di belakangnya. Barulah pada masa reformasi, gerakan feminis bangkit kembali, bahkan berkembang pesat lewat diskursus seputar kesetaraan gender.

Pada akhirnya, gerakan feminisme sejak awal kelahirannya semakin menunjukan perkembangan, baik dari sisi pergerakan maupun pemikiran. Namun, inti dari kesemuanya adalah menginginkan perempuan menjadi subjek aktif di kancah kehidupan. Pada feminisme gelombang ke-3 terlihat bahwasannya terjadi sebuah kegalauan struktural pada pemikiran feminis itu sendiri, sehingga menyebabkan ketidakpuasan terhadap apa yang telah mereka perjuangkan sejak lama. Akhirnya, pada feminisme gelombang ke-3 muncul beragam aliran dan pemikiran feminis yang majemuk. Termasuk yang sampai di bumi pertiwi ini. Wallahu a’lam.[]

Sumber:

Ni Komang Arie Suwastini. 2013. Perkembangan Feminisme Barat dari Abad Kedelapan Belas Hingga Postfeminisme: Sebuah Tinjauan Teoritis. Jurnal Sosial dan Humaniora. 2 (1): 198-208.

Hesty Aulia Rahmi. 2017. Feminisme di Indonesia: Sekilas Sejarah dan Dinamika. https://nalarpolitik.com/feminisme-di-indonesia-sekilas-sejarah-dan-dinamika/

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *