Strategi Kristen Menghancurkan Pemikiran Muslim

Share the idea

“I come to meet the moslems, not with arms but with words, not by force but by reason, not in harded but in love”

Henry Martyn, Misionaris Kristen

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”

TQS Al-Baqarah: 120

“Sungguh, kalian benar-benar akan mengkuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun, kalian pasti akan mengikuti mereka. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?”

(HR Muslim)

Proses shooting fil “The Santri”

Musuh-musuh Islam telah belajar dari Perang Salib, bahwa umat Islam tak dapat dikalahkan sebelum pemikiran mereka dihancurkan. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Henry Martyn sang seorang misionaris Kristen, “I come to meet the moslems, not with arms but with words, not by force but by reason, not in harded but in love.”

Hari ini kita dapat menyaksikan, bagaimana sekularisme, liberalisme, dan pluralisme telah berhasil menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya. Bahkan, ia tidak lagi disajikan langsung oleh tangan orang-orang kafir, namun melalui perantara umat Islam sendiri.

Strategi yang diterapkan pun bukan cara sekaligus, namun perlahan-lahan. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah, “…sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta…”

Dahsyatnya perang pemikiran yang dilakukan pun tak ayal menjadikan banyak umat Islam yang bersikap tidak proporsional. Membela mati-matian orang-orang kafir, namun sangat keras dan tajam kepada sesama muslim.

Di sisi lain, banyak bagian dari umat yang khawatir disebut sebagai “Islam fanatik”. Penggunaan istilah “Islam fanatik” sebagai sebuah bagian dari agenda “monsterisasi istilah” ini sebagaimana yang pernah disebut oleh Tony Blair (Perdana Menteri Inggris 1997-2007) dalam pidatonya tertanggal 14 September 2001,

Our belief are the very opposite of the fanatics. We believe in reason, democracy, and tolerance. These beliefs are the foundation of our civilised world.”

Sesungguhnya, pertarungan antara yang haq dan yang bathil akan

terus berlangsung hingga hari kiamat. Generasi-generasi yang melanjutkan perjuangan Shalahuddin Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih akan terus lahir.

Maka, barisan mana yang akan kita pilih?

Sumber:

Samuel M. Zwemmer. 1985. Islam: A Challenge to Faith. Darf Publisher: London.

Hamid Fahmy Zarkasyi, dkk. 2004. Tantangan Sekularisasi dan Liberalisasi di Dunia Islam. Penerbit Khairul Bayan: Jakarta.

https://www.theguardian.com/politics/2001/sep/14/houseofcommons.uk1
Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *