Strategi Samudra Pasai Dan Walisongo Awal Dalam Mengislamkan Nusantara

Share the idea

SUNAN GRESIK DENGAN SUMATRA PASAI, KHILAFAH ‘ABBASIYYAH, DAN DUNIA ISLAM GLOBAL

Pada tahun 1912, seorang peneliti Belanda, Jean-Pierre Moquette mempublikasikan artikelnya yang berjudul “Komparasi Makam-Makam di Pasai dan Gresik dengan Monumen yang Selaras di Hindustan” (De grafsteenen te Pase en Grisee vergeleken met dergelijke monumenten uit Hindoestan).

Dalam artikel itu, Moquette membandingkan tipikal dan stilistik makam Sunan Gresik (Malik Ibrahim) di Gresik (w. 822/1419) dan makam Malikah Nahrasyiyah putri Sultan Zayn al-‘Abidin di Pasai (w. 831/1428), dengan makam seorang pedagang yang dikubur di Cambay, Gujarat, India, bernama ‘Umar al-Kazaruni (w. 734/1333). Nisan makam ketiga orang ini sama-sama terbuat dari bahan dasar marmer putih-krem halus yang dihiasi dengan kaligrafi Arab bergaya naskhi dan kufi, serta hiasan motif floral di bagian kepala dan nisan kaki.

Nisan-nisan ini dikenal sebagai nisan bertipologi Cambay; dimana Cambay yang terletak di Gujarat (India) ini, merupakan tempat produksi utama nisan-nisan yang tersebar di banyak tempat di pesisir-pesisir Samudra Hindia.

Elizabeth Lambourn mengelaborasi lebih dalam tentang persebaran nisan bertipologi Cambay dalam artikelnya yang bertajuk From Cambay to Samudera Pasai and Gresik –The Export of Gujarati Grave Memorials to Sumatra and Java in the Fifteenth Century C.E, dipublikasikan pada tahun 2003.

Jangkauan ekspor nisan-nisan Cambay ini, jelas Lambourn, mencakup Tanzania dan Mogadishu di Afrika Timur; Aden dan Juban di Yaman; Dhofar di Oman; Fars di Persia; Delhi, Deccan, termasuk Gujarat sendiri di India; Trincomalee di Sri Lanka; Pasai di Sumatera; dan Gresik di Jawa.

Persebaran nisan tipologi Cambay di Samudera Hindia (Lambourn, 2003: 289)

Dari sekian banyak tokoh yang dimakamkan menggunakan nisan tipologi Cambay yang sama dengan Malik Ibrahim di Gresik, salah satunya adalah cicit Khalifah ‘Abbasiyyah yang terkubur di Pasai: Shadr’ul-Akabir ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Qadir al-‘Abbasi (w. 816/1413), keturunan ke-5 Khalifah al-Mustanshir Billah yang dulu berkuasa penuh di Baghdad. Jika kita menilik tahun wafat Malik Ibrahim di Gresik yang terjadi pada tahun 822/1419, kita bisa menyimpulkan dengan pasti kalau kedua tokoh ini hidup sezaman.

Lantas, apakah Sunan Gresik (Malik Ibrahim) dan Shadru’l-Akabir ‘Abdullah al-‘Abbasi di Pasai pernah saling bertemu dan mengenal, atau bahkan bekerja sama? Kita tidak bisa memastikan dengan pasti karena tidak tersedianya catatan historis yang detail.

Walau begitu, bolehlah kita menduga, Malik Ibrahim adalah utusan resmi Kesultanan Sumatra Pasai untuk berdakwah kepada raja dan masyarakat Majapahit langsung di pusat kekuasaannya di Jawa Timur. Ini sangat masuk akal. Nisan Malik Ibrahim adalah satu-satunya nisan bertipologi Cambay yang ada di pulau Jawa, dan satu-satunya padanan nisan Malik Ibrahim di kawasan Asia Tenggara hanya ada di Sumatera Pasai.

Gelar-gelar yang disematkan kepada Malik Ibrahim juga punya kemiripan dengan gelar tokoh-tokoh Sumatra Pasai yang mengadopsi gelar kenegaraan dari era Khilafah ‘Abbasiyyah. Khususnya gelar Malik Ibrahim sebagai ‘Umdah as-Salathin wa’l-Wuzara’; sementara gelar wakil Sultan Pasai, sebagaimana yang ditandaskan Ibn Bathuthah, adalah ‘Umdah al-Mulk.

Apakah ini menandakan kalau Sunan Gresik (Malik Ibrahim) adalah wakil Sultan Sumatra Pasai yang diutus secara khusus untuk berdakwah di Majapahit? Anything’s possible.

Kiri: Nisan Shadr’ul-Akabir Abdulla al-Abbasi (w. 816/1413), keturunan ‘Abbasiyyah di Sumatra Pasai. Kanan: Nisan Maulana Malik Ibrahim alias Sunan Gresik (w. 822/1419), Gresik 

Kami tidak mengatakan kalau Malik Ibrahim yang disebut-sebut sebagai angkatan pertama “Wali Songo” merupakan utusan langsung dari Khilafah ‘Abbasiyyah.

Terlebih dengan sejumlah pendapat yang mengatakan kalau Wali Songo ini adalah utusan Khilafah ‘Utsmaniyyah; kami belum berani meng-iya-kannya karena sumber primer yang menjelaskan hal tersebut memang belum ditemukan.

Namun dengan penghubungan relasi Malik Ibrahim dengan Kesultanan Sumatra Pasai ditilik dari kesamaan tipologi nisan mereka, semuanya akan menjadi lebih masuk akal jika dikaitkan dengan Khilafah ‘Abbasiyyah. Eksisnya pusara cicit Khalifah ‘Abbasiyyah di Sumatra Pasai merupakan pertanda relasi politis Pasai dengan Khilafah ‘Abbasiyyah yang pada abad ke-15 sudah berpindah ibukotanya ke Kairo.

Ditambah lagi dengan fakta, bahwa sultan-sultan Pasai banyak mengadopsi gelar sultan-sultan Mamluk yang menjadi “wakil penguasa” (na’ib as-sulthan) Khalifah ‘Abbasiyyah di Kairo; seperti gelar khas Mamluk Malik azh-Zhahir yang dipakai Sultan Muhammad bin Malik ash-Shalih.

Kesultanan Sumatra Pasai merupakan kekuasaan Islam yang mempunyai visi dakwah dan jihad demi penyebaran Islam di kawasan yang masih diliputi kekuasaan selain Islam.

Sultan Malik ash-Shalih, penguasa pertama Sumatra Pasai, salah satu gelarnya yang termaktub di nisannya adalah al-‘Abid al-Fatih. Ia adalah seorang yang ahli ibadah. Di saat yang bersamaan, ia juga seorang al-Fatih, seorang penakluk dan pembebas dar al-kufri di Asia Tenggara menjadi dar-Islam. Ibn Bathuthah mencatat kehidupan dakwah dan atmosfer jihad yang sangat aktif di Sumatra Pasai tatkala ia berkunjung ke sana:

“Sultan Jawa (Sumatra Pasai, red.) ialah Sultan Malik azh-Zhahir. Ia salah seorang dari raja-raja utama dan pemurah. Seorang pengikut mazhab Syafi’i yang juga menyukai fuqaha. Para fuqaha kerap menghadiri majelisnya untuk menelaah dan mengkaji. Ia juga seorang yang banyak sekali melakukan jihad dan pembebasan. (Meski demikian) ia adalah seorang yang rendah hati; pergi untuk shalat Jumat dengan berjalan kaki. Rakyat negerinya penganut mazhab Syafi’i pula. Mereka gemar berjihad dan secara sukarela pergi (untuk berjihad) bersama Sultan. Mereka menguasai (negeri-negeri) orang kafir di sekitar mereka, dan orang-orang kafir itu pun membayar jizyah (untuk) jaminan damai.

Jika memang Malik Ibrahim Sunan Gresik adalah utusan resmi Kesultanan Sumatra Pasai ke Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, maka ia adalah bagian dari dakwah terorganisir yang diemban oleh negara.

Dakwah yang dilakukan adalah dakwah yang politis, langsung di jantung kekuasaan Majapahit. Hal ini bertujuan agar kekuatan Majapahit yang cukup dominan di Asia Tenggara dapat berubah menjadi kekuasaan Islam tanpa perlu menaklukkannya melalui jihad.

Usaha ini pun membuahkan hasil ketika dakwah Malik Ibrahim diteruskan oleh para ulama yang berorganisasi dalam kelompok dakwah yang kelak dikenal dengan nama Wali Songo, ditandai dengan berdirinya Kesultanan Demak pada tahun 1475. Ulama-ulama Wali Songo tidak bekerja sendirian. Para ulama dan wali ini mendapatkan sokongan dari kekuasaan-kekuasaan Islam di luar pulau Jawa agar dakwah mereka tetap hidup.

Poster Walisongo

Dari sini, peran Sumatra Pasai tentu tak bisa dianggap remeh. Konektivitas mereka dengan dunia Islam yang lebih luas seperti di India, atau bahkan langsung ke Kairo sebagai Ibukota Khilafah ‘Abbasiyyah; membantu dakwah di pulau Jawa dengan jaringan iman dan keilmuan, yang menjadikan orang-orang Muslim Jawa masuk dalam pelukan satu umat yang global: umat Islam. Umat yang menjadi rahmat bagi semesta alam.[]

Sumber dan Rekomendasi Bacaan

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, al-Iqtishad fî al-I’tiqad, (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424 H)

Claude Guillot dan Ludvik Kalus, Inskripsi Islam Tertua di Indonesia, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008)

Elizabeth Lambourn, “From Cambay to Samudera-Pasai and Gresik –The Export of Gujarati Grave Memorials to Sumatra and Java in the Fifteenth Centuryu C.E”, Indonesia and the Malay World, Vol 31, No. 90 (July 2003), pp. 221-289.

Hasan al-Basya, al-Alqab al-Islamiyyah fi at-Tarikh wa al-Watsa’iq wa al-Atsar, (Kairo: ad-Dar Al-Fanniyah, 1409 H/1989 M)

Ibn Khaldun, Muqaddimah, Penerjemah Ahmadie Thoha (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000)

Ibn Bathuthah, Rihlah Ibn Bathuthah: Tuhfah an-Nuzhzhar fi Ghara’ib Amshar wa ‘Aja’ib al-Asfar, ed. Muhammad ‘Abdul Mun’im al-’Uryan, (Beirut: Dar al-Ihya al-’Ulum, 1987)

Jean-Pierre Moquette, “De grafsteenen te Pase en Grissee vergeleken met dergelijke monumenten uit Hindoestan”, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 54 (1912), pp. 536-548.

Mizuar Mahdi (ed.), Melintasi Jejak Perjalanan Sejarah Aceh, (Banda Aceh: Masyarakat Peduli Sejarah Aceh, 1439/2018)

Mona Hassan, Longing for the Lost Caliphate: A Transregional History, (New Jersey: Princeton University Press, 2016)

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Historical Fact and Fiction, (Johor: Universiti Teknologi Malaysia Press, 2011)

Taqiyuddin Muhammad, Daulah Shalihiyyah di Sumatera: Ke Arah Penyusunan Kerangka Baru Historiografi Samudera Pasai, (Lhokseumawe: Center for Information of Samudra Pasai Heritage, 2015)

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *