Strategi Snouck Hurgronje Melemahkan Kekuatan Umat Islam

Share the idea

“Betapa pun hebatnya pengaruh faktor-faktor politik dan ekonomi, agama Islam lah yang dalam arti tertentu menyatukanbangsa Arab yang sebelumnya terpecah-belah. Islam lah yang membuat mereka mampu mendirikan komunitas internasional yang luar biasa besar. Islam lah yang menyatukan negara-negara yang dengan cepat melakukan konversi agama bahkan setelah kehancuran kekuasaan politik mereka, dan yang masih mengikatmereka kini ketika yang tersisa hanyalah kekuatan itu yang menyedihkan.”

Snouck Hurgronje dalam bukunya, “Muhammadanisme”.

Berbagai perang yang dihadapi oleh Kolonalis Belanda di masa penjajahan tentu mengancam eksistensi penjajahan mereka di Indonesia, sekaligus menambah pundi-pundi kerugian materiil. Oleh karena itu, sangat masuk akal jika mereka berusaha sekuat tenaga melumpuhkan Islam sebagai kekuatan politik yang membahayakan penjajahan mereka.

Sejarah telah membuktikan bahwa Belanda mengalami “kesulitan” menghadapi rakyat Indonesia yang tidak tinggal diam. Tercatat, mayoritas perang perlawanan dikobarkan atas nama Islam, dengan para ulama, tokoh muslim, dan santri sebagai garda terdepan.  Kita tentu mengenal berbagai perang yang pernah meletus, seperti Perang Paderi (1825-1837) di Sumatera Barat, Perang Dipenogoro (1825-1830) di Jawa Tengah, dan yang terlama adalah Perang Aceh (1871-1912).

Bila kita membaca sejarah Perang Aceh – Perang Sabil – pada tahun 1871-1912, maka sosok yang tak dapat dilupakan sekaligus dimaafkan adalah Snouck Hurgronje, seorang orientalis asal Belanda, sekaligus peneliti lulusan di Universitas Leidein. Untuk memuluskan rencananya, ia telah “mendalami” ajaran Islam bahkan belajar hingga ke Mekkah dan berpura-pura masuk Islam.

Menurut Ajip Rosiji dalam bukunya “Snouck Hurgronje Seorang Pelopor dalam Mempelajari Islam”, menuturkan sejarah singkat sosok Hurgronje: C.S. Hurgronje adalah anak seorang Pastur Gereja Gereformeerd (Calvinist), ia lahir pada tanggal 8 Februari 1857. Pada usia 18 tahun, ia masuk Fakultas Teologi Leiden. Setelah lulus kandidat examen, kemudian ia pindah ke Fakultas Sastra jurusan Arab. Setelah berhasil meraih gelar Doktor dalam bidang Sastra Semit (1880) ia menjadi dosen di Leiden, dalam Institut yang mempersiapkan pegawai-pegawai Belanda untuk Indonesia (Indologie). Jabatan tersebut dipegangnya sampai tahun 1887. Selama itu pula ia menyelidiki Fiqih (Hukum Islam), biografi Nabi Muhammad SAW dan Sejarah Islam.

PEMIKIRAN SNOUCK HURGRONJE

Bersebab kolonialis Belanda melihat Islam – khususnya di Aceh – sulit untuk ditaklukkan, maka Belanda mempelajari Islam secara ilmiah dengan serius. Akhirnya didirikan sebuah lembaga yang diberi nama, “Indologie” untuk mengenal lebih jauh pribumi Indonesia, khususnya umat islam yang menurut kolonial Belanda, semacam ‘obstacle’ (penghambat/penghalang). Tentu, tujuan dari Indologie ini agar menghasilkan para pegawai yang dapat “mengurusi” pemerintahan penjajah saat itu.

Akhirnya, Snouck Hurgronje ditugaskan menangani masalah umat Islam Indonesia. Belanda menyebutnya sebagai, “Islam Politiek”, yakni kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda dalam mengelola masalah-masalah Islam di Indonesia, terkhusus di Tanah Aceh.

Pemikiran ‘Islam Politiek’ ala Snouck Hurgronje tidak lahir begitu saja. Ini sudah ada saat menjadi mahasiswa di Universitas Leiden. Pada 1876, Snouck menyatakan, “Adalah kewajiban kita untuk membantu penduduk negeri jajahan (muslim Indonesia) agar terbebas dari Islam”. Pandangan ini akhirnya benar-benar mewarnai sejarah hidup seorang Snouck Hurgronje.

Setelah berhasil membujuk Pemerintah Belanda untuk merealisasikan ambisinya, ia mendirikan Kantor urusan pribumi (Kantor voor Indlandsche Zaken) pada tahun 1889, dan menjadi pejabat pertama. Dia merumuskan beberapa rekomendasi sebagai landasan kebijakan kolonialis Belanda terhadap negeri jajahan. 

Snouck menuturkan, bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama (agama ritual), tetapi ketika Islam digunakan sebagai doktrin politik.

Menurutnya,“Dalam bidang agama Pemerintah Hindia Belanda hendaknya memberikan kebebasan kepada umat Islam Indonesia untuk menjalankan agamanya sepanjang tidak mengganggu kekuasaan pemerintah, menggalakkan asosiasi dalam bidang kemasyarakatan, dan menindak tegas setiap faktor yang bisa mendorong timbulnya pemberontakan dalam lapangan politik”

Berkat kejeniusan dan kedalaman mendalami Ajaran Islam. Menurut Aqib Suminto (1985) dalam bukunya, “Politik Islam Hindia Belanda”, Snouck Hurgronje berhasil mem-formulasikan ajaran Islam ke dalam tiga dimensi, yakni :

  1. Bidang Agama murni atau ibadah;
  2. Bidang social kemasyarakatan; dan
  3. Bidang politik.

Dia pun secara ‘cerdas’ memberikan rekomendasi kebijakan yang berbeda di antara ketiganya. Masing-masing bidang mendapat perlakukan berbeda. Resep Snouck inilah yang akhirnya dikenal sebagai “Islam Politik”, atau kebijakan pemerintah kolonial untuk menangani masalah Islam di Indonesia.

Formula Snouck terhadap ketiga dimensi ajaran Islam itu tertuang seperti yang dituliskan oleh K. Subroto (2017) dalam Makalahnya, “Strategi Snouck Mengalahkan Jihad di Nusantara” sebagai berikut :

1. Bidang Agama murni atau ibadah.

Pemerintah kolonialis harus memberikan kebebasan kepada umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya, asalkan tidak mengganggu kekuasaan kolonialis Belanda.

Mengenai bidang ini pemerintah tidak boleh menyinggung dogma atau ibadah murni, karena ia tidaklah berbahaya. Ia pun berpendapat bahwa di kalangan umat Islam akan terjadi perubahan secara perlahan (evolusi) dengan sendirinya untuk meninggalkan ajaran agama Islam.

2. Bidang kemasyarakatan.

Pemerintah memanfaatkan adat dan kebiasaan yang berlaku dengan menggalakkan rakyat agar mendekati pemerintah Belanda. Belanda berusaha mempererat ikatan antara negeri jajahan dengan negara penjajah melalui kebudayaan, dimana lapangan pendidikan menjadi garapan utama. Sadar atau tak sadar, dengan adanya asosiasi ini Indonesia mengikuti kebudayaan Belanda tanpa mengabaikan kebudayaannya sendiri.

3. Bidang politik.

Pemerintah Belanda dengan tegas menolak setiap usaha yang membawa rakyat pada fanatisme dan Pan Islamisme – Khilafah –. Unsur politik dalam Islam dan ajaran yang menjurus kepada politik wajib diwaspadai dan ditindak tegas. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah menghindari segala tindakan yang menentang kebebasan beragama.

Beberapa kalangan menyebut bahwa formula Snouck atas Politik Islam-nya telah sukses dalam memahami dan menguasai penduduk Indonesia yang mayoritas muslim. Dia didaulat sebagai seorang ‘arsitek’ keberhasilan Politik Islam paling legendaris yang telah melengkapi pengetahuan Belanda tentang Islam, terutama bidang sosial dan politik. Menurut Aqib Suminto, “bahkan kehadirannya betul-betul telah membuka lembaran baru bagi sejarah penjajahan Belanda dalam menghadapi Islam di Indonesia”. 

Terkhusus kepada Snouck, bahkan Effendi (2012) dalam risalahnya, “Politik Kolonial Belanda” menuturkan, “Kedatangan Snouck ke Indonesia telah mengukir lembaran baru sejarah Kolonial Belanda dengan konsepnya yang terkenal ‘Splitsings Theorie’, suatu politik pemisahan antara agama dan politik dalam Islam – Sekulerisme –. Keutuhan ajaran Islam dipecah-pecah kepada tiga kategori yang masing-masing dihadapi secara ilmiah dan terencana untuk dilumpuhkan. Semua diarahkan untuk melenyapkan pengaruh islam dari bumi Indonesia dan di atas kekalahan Islam akan dibangun Hindia Belanda modern dan maju dibawah naungan kerajaan Belanda (Pax Neeerlandica)”.

Sumber:

Adian H. dkk. 2013. Filsafat Ilmu : Perspektif Barat dan Islam. Gema Insani. Depok.

Bernard lewis, What Went Wrong? : Westren Impact and Middle Eastren Response, Phoenix. London.

Efffendi, 2012. Politik Kolonial Belanda Terhadap islam di Indonesia dalam perspektif Sejarah (Studi Pemikiran Snouck Hurgronye). Jurnal TAPIs [8] : 82-112.

H.M. Rosjidi, “Snouck Hurgronje Seorang Pelopor dalam Mempelajari Islam”, dalam A. Adaby Darban, Snouck Hurgronje dan Islam di Indonesia. Yogyakarta: tp., tt. hal. 1.

Kant, 1996. Was ist Aufklarung?. Book Builders Incorporated. New York.    

Mark J., 1993. The New Cold War?. University of California Press. London.

Subroto K., 2017. Strategi Snouck Mengalahkan Jihad di Nusantara. Syamina [1] : 1 – 41.

Suminto, H. Aqib. Politik Islam Hindia Belanda. Jakarta. LP3ES, 1985.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *