Strategi Tiongkok Mengendaikan Penguasa dan Tokoh Muslim untuk Menutupi Kasus Uighur

Share the idea

Berita ini, tentu tidak viral dan tidak akan seviral pidato sang Yonkou, ibu Prof. Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri. Demikianlah ketika kita berbicara isu muslim Uighur.

Pada 8 Januari, lebih dari 30 cendekiawan muslim dari 14 negara diundang pemerintah Tiongkok untuk mengunjungi Urumqi, ibukota Xinjiang. Selain Arab Saudi dan Indonesia, delegasi lain yang hadir adalah dari Bosnia dan Herzegovina, Serbia, Mesir, Suriah, UEA, Tunisia, Bahrain, Kuwait, hingga Mauritania.

Delegasi Indonesia (berbalut peci) dan negeri muslim lainnya hadir di  International Convention and Exhibition Center. Mereka sedang mendengarkan penjelasan proyek pembangunan dan ekonomi di wilayah Xinjiang untuk menyukseskan program Belt Road Initiative (BRI).

Jadi, apa saja kegiatan para delegasi tersebut?

Jawabannya adalah edukasi. Hal ini sebagaimana yang juga dilakukan pemerintah Tiongkok terhadap muslim Uighur – hanya saja tanpa menggunakan kekerasan maupun paksaan di kamp-kamp.

Dengan menunjukkan perkembangan budaya Xinjiang yang didanai pemerintah (misalnya seni 12 muqam sebagai budaya Uighur yang diakui UNESCO), Tiongkok tak hanya membantah tuduhan atas upaya pemusnahan budaya Uighur. Mereka juga ingin menunjukkan bahwa pemerintah sepenuhnya melindungi budaya Xinjiang yang sejatinya sejalan dengan negara Tiongkok yang multi-etnis.

Sebagaimana yang disampaikan dalam publikasi resmi twitter “The World Muslim Communities Council” (TWMCC – sebagai lembaga pengampu kunjungan ini), para delegasi juga mengunjungi “Museum of Combating Terrorism and Extremism” di Xinjiang. Tentu kita bisa menebak narasi selanjutnya. Sebagaimana yang sudah-sudah, pemerintah Tiongkok selalu mengampanyekan bahwa tindakan mereka atas muslim Uighur adalah upaya memerangi tindakan terorisme dan ekstrimisme.

Nama-nama besar seperti Syekh Dr. Usamah Sayyid Al-Azhari (Penasihat Presiden Mesir untuk Urusan Agama) mengakui keberhasilan kebijakan anti-terorisme tersebut dan merekomendasikannya sebagai pengalaman penting bagi semua negara untuk memerangi terorisme secara efektif.

Tak mau ketinggalan, Mustafa Ceric (mantan Mufti Besar Bosnia dan Herzegovina) juga memuji kebijakan deradikalisasi itu karena membawa perdamaian dan keharmonisan di Tiongkok. Mufti Serbia, Mevlud Dudic mengatakan, bahwa dia biasanya mengetahui Tiongkok dari TV dan surat kabar. Namun, pandangannya berubah kala melihat muslim Xinjiang yang hidup damai dan bahagia.

Kunjungan ke Museum of Combating Terrorism and Extremism (kiri) dan para delegasi (kanan)

Sebagian dari kita mungkin masih menolak percaya dan mengira bahwa ini hanyalah narasi karangan KLI belaka. Tapi, coba simak pernyataan berikut:

Pernyataan tersebut dapat kita saksikan dalam twitter resmi TWMCC.

Selain itu, para delegasi juga diajak menyaksikan padatnya aktivitas lapangan kereta barang Tiongkok-Eropa di Alataw Pass dan gerbang Khorgos. Mereka kemudian memuji pencapaian ekonomi Xinjiang akibat kebijakan open-door policy dan BRI Tiongkok.

Karenanya, delegasi UEA mengatakan bahwa Xinjiang memiliki infrastruktur yang baik, SDM yang makmur, dan kondisi ekonomi menguntungkan yang dapat membantu negara-negara di sepanjang Jalur Sutra untuk berbisnis dengan Tiongkok dengan lebih lancar, nyaman, dan lebih cepat.

Khorgos merupakan kunci distribusi logistik dari program BRI Tiongkok. Penjelasan lebih lanjut, bisa cek di grup telegram KLI. Klik https://linktr.ee/kli.books

Peristiwa ini, mengingatkan kami pada 2 peristiwa penting lainnya: diundangnya Nurcholish Madjid (Cak Nur) ke Amerika Serikat pada Oktober 1968, dan kunjungan Muhammad ‘Abduh-Jamaluddin al-Afghani ke London pada tahun 1884 dan 1885.

Cak Nur, pada awalnya sangat mencurigai dan anti dengan pemikiran Barat. Selama lima pekan kunjungannya di AS, ia berencana menunjukkan ketidaksukaannya itu secara langsung. Kelak, kita justru mengenalnya sebagai salah satu tokoh paling penting dari kemunculan Islam liberal di Indonesia.

Muhammad ‘Abduh dan Jamaluddin al-Afghani juga demikian. Selama ini, kita mengenal mereka sebagai tokoh pembaharu (mujaddid) Islam. Namun, sebagaimana yang diulas dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda”, pemikiran mereka banyak berubah pasca berkunjung ke London dan menjalin hubungan hangat dengan para agen Inggris.

Surat pengangkatan Jamaluddin al-Afghani sebagai ketua loji Kawkab al-Syarq, salah satu perkumpulan Freemason di Mesir. Banyak yang terkecoh oleh al-Afghani. Manuver dan bahaya pemikirannya, dibahas gamblang pada buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda” yang diterbitkan KLI.  

Sumber dan Rekomendasi Bacaan:

https://news.cgtn.com/news/2023-01-10/World-renowned-Islam-experts-and-scholars-visit-Urumqi-in-Xinjiang-1gttMDVY6eQ/index.html

Pernyataan resmi pihak TWMCC di Twitter https://twitter.com/WMuslimCC/status/1612455897556570112/photo/1

Buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda”. Nicko Pandawa, 2021. Diterbitkan oleh Komunitas Literasi Islam: Bogor.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *