Tafsir Soekarno Terhadap Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Share the idea

Penulis: Fadlil Nafidza Ahsan

Seperti yang dikutip oleh Natsir pada pidato pertamanya di sidang konstituante, berdasarkan perkataan Soekarno sendiri berikut dikutip secara lengkap :

“Ketuhanan, itu memang sudah hidup di dalam kalbunya bangsa Indonesia sejak berpuluh-puluh, beratus-ratus dan beribu-ribu tahun. Aku menggali di dalam buminya rakyat Indonesia, dan pertama-tama hal yang aku lihat adalah religiusitas! Apa sebab? Ialah karena bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang hidup diatas tarafnya agrarian taraf pertanian. Semua bangsa yang masih hidup di atas taraf agrarian, tentu religious. Saya belum memakai perkataan Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi baru saya memakai perkataan religiusitas, atau kepercayaan kepada suatu hal yang ghaib yang menguasai hidup kita ini semua. Perasaan atau kepercayaan yang demikian itu hidup di dalam kalbunya bangsa-bangsa yang masih hidup di dalam taraf agrarian. Betapa tidak?

Orang yang masih bercocok tanam, bertani, merasa bahwa segenap ikhtiarnya untuk mencari makan ini sama sekali tergantung daripada satu hal yang ghaib. Orang yang bertani memohon supaya turun hujan misalnya. Darimana hujan harus diminta? Kita mempunyai sawah dan ladang sawah dan ladang ini ditanami dengan padi atau jagung. Padi akan mati, jika tidak dapat air hujan. Bangsa yang bertani tidak boleh tidak, lantas berkata, “ah, ada satu hal yang ghaib, kepadanya aku mohon supaya diturunkan hujan”. Demikian pula jikalau buah padinya telah hampir tua, sebaliknya dia mohon kering jangan ada hujan yang terlalu lebat.

Lagi dia berhadapan dengan satu hal yang ghaib. Mungkin dia belum dapat mengatakan bahwa itu yang dinamakan Alah. Atau Tuhan pun mungkin belum ada perkataan itu padanya. Tetapi sekadar kalbunya penuh dengan permohonan kepada satu zat yang ghaib. “Ya ghaib, ya ghaib, jangan diturunkan hujan lagi, aku sekarang membutuhkan kering”. Hujan dan kering tidak dapat dibuat oleh manusia. Hujan dan kering dimohonkan oleh bangsa yang demikian itu kepada sesuatu yang ghaib.

”Belum aku menceritakan hal hama. Hama tikuskah, hama belalangkah, hama baksilkah? Sama sekali itu di luar perhitungan manusia. Lagi dia mohon kepada suatu hal ghaib:

”Ya ghaib, berilah jangan sampai tanamanku ini diganggu oleh hama tikus” Ya, barangkali dia belum tahu hal kuman-kuman kecil yang dapat membikin sakitnya padi atau jagungnya itu.

Bangsa yang demikian, yang masih di atas taraf agrarian, tidak boleh tidak mesti religious. Sebaliknya bangsa yang sudah hidup di dalam alam industrialism, banyak sekali yang meninggalkan religiusitas itu. Aku tidak berkata bahwa itu adalah baik, meninggalkan religiusitas. Tidak, lagi-lagi aku sekadar konstateren. Bangsa yang sudah cukup hidup di dalam alam industrialisme, banyak yang meninggalkan religiusitas. Apa sebab? Sebabnya ialah karena ia berhadapan banyak sekali dengan kepastian-kepastian. Perlu listrik, tidak perlu ”oh ya ghaib, oh ya ghaib”, dengan tekan tombol saja, terang menyala. Ingin tenaga, tidak perlu dia memohon ya ghaib, ya ghaib aku ingin tenaga. Dia punya mesin; mesin dia gerakkan, mesin itu bergerak. Di dalam tangannya dia merasa bahwa dia menggenggam kepastian. Ingin perang aku, dapat mengadakan perang. Ingin tenaga, aku bisa menggerakkan mesin. Oleh karena itulah rakyat yang sudah hidup di dalam alam industrialisme banyak yang meninggalkan religiusitas itu tadi.

Memang pernah kukupas di dalam satu ceramah yang mengenai religiusitas ini, bahwa religiusitas ini melewati beberapa fase pula. Sebab memang masyarakat manusia adalah dinamis. Dinamis di dalam arti selalu bergerak. Masyarakat manusia berjalan (berevolusi). Masyarakat manusia dinamis. Cara hidup manusia berganti-ganti. Dengan pergantian cara hidup ini, dia punya rasa religiusitas pun berganti-ganti warna. Tatkala dia masih hidup dalam hutan rimba raya, belum dia bertani. Dia hidup di rimba raya tidak mempunyai rumah; Sekadar dia hidup di dalam gua-gua, di bawah pohon-pohon. Sekadar mencari makan dengan berburu atau mencari ikan. Ia sudah religious, tetapi apa yang dia sembah? Dia menyembah petir. Oleh karena dia mengetahui, kalau memerlukan api: itu dia, petir itu bisa menyambar pohon dan dia memberi api kepadaku. Dia menyembah sungai, oleh karena sungailah memberikan ikan kepadanya. Bahkan dia menyembah batu, karena batu itulah yang memberi perlindungan kepadanya. Dia menyembah geledek, dalam pikirannya geledek inilah satu zat yang ghaib. Pikirannya ada satu zat yang ghaib, yang turun dari satu mega ke lain mega, dengan mengeluarkan suara gemuruh. Dia adalah religius, dengan cara dia sendiri.

Tatkala manusia kemudian dari itu tidak lagi hidup di dalam rimba raya, di dalam gua-gua, tetapi hidup dengan beternak, pada waktu itu dia religius, tetapi ciptaan daripada zat ghaib ini lain lagi, Bukan lagi geledek, bukan lagi sungai atau pohon-pohon besar yang rindang rindang dia sembah, tetapi dia menyembah zat yang berupa binatang-binatang sebagai yang sekarang ini masih ada sisa-sisanya di beberapa bangsa yang menyembah sapi atau binatang ternak.

Tatkala manusia hidup di atas taraf pertanian, makin religius dia, tetapi ciptaannya juga berubah daripada bangsa yang masih hidup di rimba raya dengan berburu dan mencari ikan, daripada bangsa yang hidup dengan beternak saja. Tetapi nyata bangsa yang hidup di atas taraf agraria, bangsa yang demikian itu adalah religius. Terutama sekokali karena tanam-tanamannya tergantung sama sekali dari gerak-gerak iklim.

Demikian pula bangsa yang sudah meninggalkan taraf agraria dan sudah masuk taraf industrialisme, banyak yang meninggalkan religiusitas (keberagamaan) seperti, kukatakan tadi, oleh karena dia hidup di dalam alam kepastian. Malah di dalam taraf inilah timbul aliran-aliran yang tidak mengakui adanya Tuhan. Di dalam taraf inilah timbul apa yang dinamakan atheisme. Tetapi jikalau saudara-saudara bertanya kepada Bung Karno Persoonlijk, “Apakah Bung Karno percaya kepada Tuhan?” Bung Karno berkata, ”Ya aku percaya kepada Tuhan” Malahan aku percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang bukan dua, bukan tiga; Tuhan yang satu. Tuhan yang menguasai segala hidup. Ciptaan manusia yang berubah-ubah. Pikiran manusia yang berubah-ubah.

Dahulu tatkala manusia hidup di dalam rimba raya di bawah pohon-pohon dan di gua-gua, dia mengira bahwa Tuhan adalah berupa pohon, petir, dan sungai. Dulu tatkala manusia hidup dalam alam peternakan, dia mengira bahwa Tuhan berupa binatang. Sampai sekarang masih ada sisa-sisa bangsa-bangsa yang menyembah kepada binatang. Dulu tatkala manusia hidup di dalam taraf agraria, terutama sekali dulu, diapun mempunyai ciptaan lain daripada Tuhan itu. Dan tatkala manusia masuk di dalam alam industrialisme, banyak yang sudah tidak mengakui kepada Tuhan lagi. Tapi bagiku sebagai Bung Karno, Tuhan ada.

Aku sering menceritakan tentang hal orang buta yang ingin melihat rupanya gajah. Ada empat orang buta, semuanya belum pernah melihat rupa gajah. Datanglah seorang kawan yang hendak menunjukkan kepada mereka itu apa gajah itu. Si buta yang pertama disuruh maju ke muka, dia meraba-raba dan dia mendapati belalai gajah. Dia berkata, ”oh aku sekarang sudah tahu rupanya gajah, rupanya sebagai ular besar yang bisa dibengkokbengkokkan. ”

Si buta nomor dua disuruh tampil kemuka dan dia mencari-cari gajah dan mendapati ekor daripada gajah itu. Lalu dia berkata, ”oh aku sudah tahu rupanya gajah itu seperti cambuk.”

Si nomor tiga lagi maju kemuka. Cari-cari gajah, lalu memegang kaki gajah. Katanya, ”oh aku sudah tahu gajah rupanya seperti pohon kelapa”. Si nomor empat tampil kemuka, dia (cebol) pendek sekali dia punya badan, datang di bawah gajah itu, pegang pegang tak dapat apa-apa. Katanya, ”oh aku sudah tahu, gajah rupanya seperti hawa ini”;

Seperti orang di dalam dunia industrialisme mengatakan bahwa Tuhan tidak ada. Padahal gajah ada. Demikian pula, padahal Tuhan ada. Tetapi, ciptaan manusia yang berganti-ganti.”

Demikianlah pandangan Soekarno terhadap wujudnya Tuhan, dalam ceramah Soekarno pada Gerakan Pembela Pancasila di Istana, tanggal 17 Juni 1945, yang pernah diterbitkan oleh Kementerian Penerangan.

Sumber:

Debat Dasar Negara : Islam dan Pancasila, bagian Pidato pertama M.Natsir, Konstituante 1957, Penerbit Pustaka Panjimas Jakarta: 2001, hlm. 20-24.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *