Tangerang dan Tigaraksa: Sejarah Tanah Para Mujahidin

Share the idea

Semenjak Kesultanan Demak berdiri pada 1482, Kesultanan yang didirikan oleh perjuangan para Walisongo ini menggelorakan dakwah dan jihad Islam ke seluruh Nusantara. Satu persatu daerah di Jawa yang berada pada kekuasaan Kerajaan Majapahit dan Pajajaran masuk ke dalam pelukan Islam. Masing-masing wali ditugaskan di tempat yang berbeda, seperti Banten, Cirebon, Demak, Surabaya, Jawa Tengah, dan sebagainya.

Apalagi ketika Fatahillah, seorang pemuda dari Kesultanan Samudera Pasai yang berjuang di Jawa, berhasil mengusir kafir Portugis yang hendak menganeksasi wilayah Sunda Kelapa (Jakarta). Kekuasaan Negara Islam Demak makin kokoh di Pulau Jawa. Wilayah Banten diserahkan kepada putra Sunan Gunung Jati, Hasanuddin, untuk dipimpin dengan syari’at Islam. Begitu juga dengan wilayah Sunda Kelapa, yang sudah diganti namanya menjadi Jayakarta, diserahi kepemimpinannya kepada Fatahillah. Wilayah Cirebon tetap berada pada kepemimpinan Sunan Gunung Jati, dan mereka semua berafiliasi kepada Kesultanan Demak yang terpusat di Jawa Tengah.

Ketika terjadi krisis kepemimpinan akibat terbunuhnya Sunan Prawoto pada 1549, Kesultanan Demak runtuh dan derajatnya turun menjadi setingkat kadipaten. Kepemimpinan Kesultanan Demak diambil alih oleh Jaka Tingkir, yang memindahkan pusat kekuasaan Demak ke Pajang, sehingga berubahlah kekuasaan itu menjadi Kesultanan Pajang. Hasanuddin yang berkuasa di Banten berinisiasi untuk melepaskan Banten dari kekuasaan Pajang, hingga berdirilah Kesultanan Banten pada tahun 1552. Hal yang sama juga dilakukan oleh Cirebon.

Walau menjadi kesultanan yang terpisah, hubungan politik dan keagamaan antara Kesultanan Banten dan Cirebon tetap jalan. Seabad kemudian (1680 M), Abu Nashr Abdul Qahhar selaku Sultan Banten yang juga dikenal sebagai Sultan Haji, menjalin hubungan dengan Cirebon dan Sumedang. Di akhir tahun, beliau mengadakan pertemuan dengan wakil penguasa Sumedang dan Cirebon, dan disepakati bahwa kedudukan Tangerang dalam struktur pemerintahan Kesultanan Banten adalah Kemaulanaan.

Kemaulanaan ini mencakup wilayah Tangerang, Jasinga, dan Lebak, sebagaimana yang sudah disebutkan sebelumnya. Kesultanan Cirebon mengutus tiga orang Tumenggung dari Sumedang untuk memimpin Kemaulanaan Tangerang. Mereka ialah; Aria Yudanegara, Aria Wangsakara, dan Aria Santika. Lambat laun mereka dikenal oleh masyarakat sebagai Tigaraksa, yang berarti Tiga Pemimpin.

Di sisi lain, bangsa Eropa mulai gencar datang ke Indonesia semenjak dikukuhkannya Perjanjian Tordesillas pada tahun 1494 oleh Paus Alexander VI. Melalui perjanjian itu, Paus memberi wewenang kepada Kerajaan Spanyol dan Portugal untuk menjajah dan menghisap kekayaan di negeri-negeri lain. Portugal yang menjajah dunia timur, terutama Nusantara, mendapatkan kekayaan yang berlimpah dan menjadi pusat kekuatan ekonomi di seluruh Eropa. Hal ini membuat kerajaan Eropa lainya juga berniat untuk mencari kekayaan di Nusantara.

Orang Belanda yang pertama kali datang ke Nusantara adalah Cornelis de Houtman beserta anak buahnya. Mereka menjejakkan kakinya di Pelabuhan Banten yang saat itu menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara pada 23 Juni 1596.

Setelah dia, kedatangan orang-orang Belanda di Nusantara makin intensif. Pada tahun 1598 saja, tercatat ada 22 kapal milik perorangan dan perserikatan dagang dari Belanda yang menuju ke Nusantara. Bahkan pada tahun 1602, ada 65 kapal yang kembali dari kepulauan Indonesia dengan muatan penuh.

Keserakahan mulai menggerogoti bangsa Belanda. Mereka sudah tidak murni lagi ingin berdagang, bahkan juga mulai membawa pasukan. Akhirnya, VOC Belanda di bawah pimpinan Jan Pieterzoon Coen menguasai kota Jayakarta pada 30 Mei 1619 dan mengubah namanya menjadi Batavia, sebagai peringatan kepada leluhur bangsa Belanda, Bataaf.

Jatuhnya Jayakarta ke tangan VOC ini berhasil mengubah Jayakarta menjadi sebuah sarang musuh yang berbahaya bagi kesultanan-kesultanan di Nusantara, ibarat duri dalam daging. Sultan Agung dari Kesultanan Mataram berusaha mengusir orang-orang kafir Belanda, namun belum mencapai kesuksesan hingga wafatnya. Tragisnya, anak Sultan Agung sendiri, Amangkurat I, malah berkhianat dan menjalin persahabatan yang sangat erat dengan VOC Belanda. Ketika VOC sudah berhasil menjinakkan Mataram, maka ancaman satu-satunya bagi VOC di Pulau Jawa ialah Kesultanan Banten.

Banten saat itu dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Beliau berhasil membangun Banten menjadi negara yang kuat serta kaya. Islamisasi berkembang pesat pada masanya, ditambah lagi dengan kehadiran seorang ‘ulama sekaligus mujahid besar, Syekh Yusuf al-Maqassari.

Sultan Ageng memiliki dua putra mahkota, yakni Sultan Abu Nashr Abdul Qahhar/Sultan Haji dan Pangeran Purbaya. Setelah memerintah Banten dengan gemilang selama sepuluh tahun, Sultan Ageng berusaha menyiapkan anaknya, Sultan Haji, untuk menjadi pengganti dirinya.

Sultan Haji diberikan jabatan sebagai sultan muda. Tetapi, melihat pergaulan Sultan Haji yang cukup akrab dengan orang-orang Belanda membuat kredibiltasnya turun di mata rakyat. Apalagi setelah melihat kenyataan bahwa adik Sultan Haji, Pangeran Purbaya, lebih saleh dan cakap dalam urusan negara. Orang-orang Belanda menghasut Sultan Haji dengan mengatakan bahwa kekuasaannya akan dikhianati oleh ayah dan adiknya sendiri. Beliau pun terpedaya dan akhinya terjerumus ke dalam kubangan lumpur yang dibuat VOC.

Pada 1 Maret 1680, Sultan Haji dengan bantuan VOC mengkudeta Sultan Ageng Tirtayasa sebagai pemimpin tertinggi Kesultanan Banten. Rakyat Banten yang dipimpin oleh para ‘ulama marah dan protes besar, melihat Sultan yang mereka cintai diturunkan paksa oleh anak sultan yang bersekongkol dengan kafir Belanda.

Perlawanan pun berkobar. Kaum Muslimin dipimpin Sultan Ageng Tirtayasa dan Syekh Yusuf al-Maqassari mengobarkan jihad melawan kedzaliman yang didalangi oleh VOC.

Para Tigaraksa – Aria Yudanegara, Aria Wangsakerta, dan Aria Santika – walau mereka dulu dilantik oleh Sultan Haji untuk menjadi Tumenggung di wilayah Tangerang, membelot dari kubu Sultan Haji (yang bersekongkol dengan VOC) dan memilih ikut berjuang bersama kaum Muslim pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa dan Syekh Yusuf al-Maqassari.

Setelah bertahun-tahun pertempuran berjalan, angin kemenangan berpihak kepada kubu Belanda. Sultan Ageng ditangkap pada Maret 1683 dan dikurung di Batavia sampai wafatnya di tahun 1695. Syekh Yusuf al-Maqassari juga ditangkap dan dibuang ke Srilangka, lalu dipindahkan ke Afrika Selatan sampai wafat di sana.

Tujuh tahun (1680-1687) Sultan Haji berkuasa sebagai pucuk pimpinan Banten. Namun selama itu pula, ia menempatkan dirinya sebagai kaki tangan Belanda. Sepeninggal Sultan Haji, jabatan ‘sultan’ di Banten tinggal sekedar penguasa boneka. Mereka senantiasa patuh atas segala perintah dari Batavia.

Walau kenyataan begitu pahit, para Tigaraksa tetap tak goyah imannya. Mereka senantiasa mengobarkan semangat jihad demi terbebasnya tanah amanat Allah, Banten, dari kuku cengkeraman kafir Belanda. Pada tahun 1717, para Tigaraksa beserta rakyat Tangerang bertempur dengan Belanda di Kebon Besar. Di pertempuran inilah, salah satu dari Tigaraksa (yakni Aria Santika) syahid dalam berjihad.

Setahun kemudian (1718), pertempuran kembali pecah di Cikokol. Kali ini Aria Yudanegara gugur, meninggalkan senyum di wajahnya dan berpulang ke sisi Allah. Jasadnya dimakamkan di Desa Sangiang, Tangerang.

Tak kenal lelah, satu-satunya Tigaraksa yang tersisa (yakni Aria Wangsakara) tetap meneruskan perjuangan sahabat-sahabat yang sudah mendahului dirinya. Dua tahun kemudian, Aria Wangsakara syahid dalam sebuah pertempuran di Ciledug. Jasadnya dimakamkan di Desa Lengkong, Tangerang. Berakhirlah riwayat para Tigaraksa, ikhlas dan rela untuk menumpahkan darahnya demi mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.

Setelah Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda, Pemerintah Kabupaten Tangerang menamakan jalan-jalan besar di Balaraja, Tangerang, menggunakan beberapa nama para Tigaraksa, seperti Jln. Raya Aria Jaya Santika dan Jln. Aria Wangsakara. Dibangun pula sebuah monumen di ujung jalan yang menuju ke pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang untuk mengenang tiga pahlawan itu. 

Tangerang selama ini hanya dikenal sebagai Industry City. Namun lebih dari itu, Tangerang memiliki sejarah yang luar biasa. Ia menjadi tanah tumpah darah bagi para mujahid Islam yang berjuang untuk membebaskannya dari penjajahan kekuatan kufur Belanda. Selain itu, nama Tangerang sendiri berasal dari kata ‘Tengger‘, yang berarti perang. Maka, tak berlebihan jika Tangerang disebut juga sebagai medan peperangan, tanah jihad, sebagaimana Yarmuk di Jordan, Ain Jalut di Syam, Konstantinopel di Turki, Sunda Kelapa di Jakarta, dan yang lainnya. Maka, Tangerang adalah tanah wakaf para mujahidin Banten yang membayar tanah ini dengan darah dan air mata.[]

Sumber:

Abdullah, Rachmad. 2015. Wali Songo: Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa (1404-1482). Al-Wafi: Solo.

Djaelani, Abdul Qadir. 1999. Perang Sabil Versus Perang Salib. Yayasan Pengkajian Islam Madinah Al-Munawwarah: Jakarta.

Kusnandar, Mas Iman. 2012. Rekam Jejak H. Ismet Iskandar Sepuluh Tahun Memimpin Tangerang. Tiara Media Pustaka: Jakarta.

Tim Pusat Studi Sunda. 2004. Sejarah Kabupaten Tangerang. Pemerintah Kabupaten Tangerang: Tangerang.

Triana, Ovi Hanif (Ed). 2003. Proses Islamisasi di Banten: Cuplikan Buku Catatan Masa Lalu Banten karya Halwany Michrob & Mudjahid Chudari. Dinas Pendidikan Provinsi Banten: Serang.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *