Upaya Khilafah Menyelamatkan Dunia dari Zionisme

Share the idea

Penulis: Asyifa’un Nisa

Apakah konfrontasi ‘Utsmaniyyah dengan zionis berhenti setelah penolakan Sultan Abdul Hamid II? Ternyata tidak.

Sebelumnya, mari kita ingat kembali bagaimana Sultan Abdul Hamid II selaku penguasa tertinggi umat Islam saat itu, menolak mentah-mentah proposal Theodor Herzl, tokoh penting zionis yang melakukan berbagai siasat demi merebut Palestina.

“Nasihati Dr. Herzl agar ia tidak mengambil langkah yang baru pada perkara ini. Aku tidak bisa melepaskan wilayah ini meskipun hanya sejengkal. Sebab tanah tersebut bukan milikku, melainkan milik umat Islam yang telah berjihad untuk mendapatkannya dan menyirami tanah tersebut dengan darahnya. Maka hendaklah kaum Yahudi menyimpan kembali jutaan uang mereka. Apabila Khilafah ini telah runtuh suatu hari nanti maka silahkan kaum Yahudi mengambil tanah Palestina secara gratis! Adapun selama aku masih hidup, maka tertusuknya badanku dengan pisau akan lebih ringan daripada aku melihat Palestina terlepas dari negara Islam. Dan itu hal yang tidak mungkin terjadi. Sesungguhnya aku tidak bisa menyetujui lepasnya ‘anggota tubuh kami’ sedangkan kami masih dalam keadaan hidup.”

Apa yang dilakukan oleh Herzl ini, betul-betul memanfaatkan guncangan perekonomian Khilafah di akhir abad ke-19, yang saat itu punya utang yang cukup besar kepada negara-negara Eropa. Mengutip dari buku catatan harian Herzl, ia menyatakan,

“Jika kita berhasil menguasai Palestina, maka kami akan membayar uang pada Turki dalam jumlah yang sangat besar dan kami akan memberikan hadiah dalam jumlah yang melimpah bagi orang yang menjadi perantara kami. Dan sebagai balasan dari ini, kami akan senantiasa bersiap sedia untuk membereskan masalah keuangan Turki Utsmani.”

Penolakan atas proposal zionisme itu, bukan yang terakhir. Dalam upaya pembangunan jalur kereta api Hijaz (1900-1908) yang menggalang seruan persatuan dan pendanaan dari umat Islam seluruh dunia, Herzl ternyata juga memanfaatkan momen ini dan ingin berpartisipasi dalam kampanye donasi. Ia berharap, bahwa bantuannya dalam mega proyek itu mampu melunakkan hati Sultan Abdul Hamid II. Keinginan Herzl, tentu saja lagi-lagi ditolak oleh Khilafah.

Dalam perkara itu, Herzl berkorespondensi dengan Mahmud Nedim Bey, Duta Besar Khilafah di Wina. Dalam suratnya, sang duta menyampaikan,

Kepada Sekretaris Utama Mâbeyn-i Hümâyûn

Tuan yang penyayang,

Karena tidak mungkin menerima bantuan yang dibuat oleh Herzl untuk pembangunan Jalur Kereta Api HIjaz, pengembalian cek dua ratus lira yang telah dia berikan untuk tujuan ini dan penyerahan dokumen dari tangannya bahwa dia telah menarik cek tersebut merupakan kehendak sultan kita. Kami telah menerima surat Anda tertanggal 1 April 1902 dan bernomor 9855 mengenai hal ini, dan dokumen yang diterima dari Herzl telah dimuat dalam lampiran. Perintah dan keputusan tentang masalah ini adalah hak Anda.

14 April 1902. Duta Besar Wina, Mahmud Nedim Bey

Penolakan yang kesekian kali itu betul-betul membuat Herz kesal. Akhirnya, Herzl membuat kesimpulan. Bahwa, tujuan mereka hanya bisa dicapai dengan runtuhnya Khilafah ‘Utsmaniyyah, dengan hambatan terbesar mereka, yakni Sultan Abdulhamid II, harus digulingkan.

“Dari pembicaraan yang saya lakukan dengan Sultan Abdul Hamid II, saya menetapkan bahwa tidak mungkin kita menarik manfaat apa-apa dari Turki, kecuali jika ada perubahan politik di dalamnya dengan cara menimbulkan perang di tengah mereka, dan mereka kalah dalam perang tersebut, atau mereka terlibat dalam sebuah konflik antar bangsa atau dengan cara dua-duannya.”

Dan benar saja. Dalam Perang Dunia Pertama, negara-negara Eropa dan zionis memanfaatkan kelemahan ‘Utsmaniyah yang sudah dalam kekacauan, dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Para zionis sesegera mungkin melanjutkan siasatnya dengan meminta dukungan internasional melalui deklarasi Balfour yang disokong oleh negara adidaya saat itu, Inggris, melalui korespondesi Menteri luar Negeri Inggris Arthur Balfour kepada Lionel Walter Rothschild, seorang bankir besar sekaligus tokoh berpengaruh Yahudi.

Deklarasi ini juga tak jauh dari upaya Inggris untuk mendapat sokongan dana menghadapi Perang Dunia Pertama, dengan menegaskan dukungan Pemerintah Inggris dalam pembentukan sebuah “kediaman nasional” di Palestina bagi bangsa Yahudi.

Setelah deklarasi itu, kaum Yahudi melakukan eksodus terorganisir dari Eropa ke Palestina. Rencana Yahudi semakin mulus dengan adanya perjanjian Sykes-Picot, sebagai buntut kekalahan ‘Utsmani pada Perang Dunia pertama. Wilayah kaum muslimin dipecah-pecah oleh negara-negara imperialis, dan menjadikan kaum muslimin meneruskan hidup dalam keterjajahan.[]

Sykes-Picot agreement, memecah belah umat Islam dalam sekat negara bangsa. Sumber gambar: https://www.economist.com/special-report/2016/05/12/unintended-consequences

Berbagai strategi politik Sultan Abdul Hamid II, seperti Jalur Kereta Api Hijaz, dijabarkan lebih lengkap dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda” karya Nicko Pandawa.

Meski mengangkat nama penjajah Belanda, namun buku ini juga mengungkap berbagai manuver Barat dalam meruntuhkan Khilafah, termasuk upaya zionisme, perang dunia, berbagai perjanjian yang merugikan umat Islam, serta hubungan Khilafah dengan negeri kita, Indonesia.

Dengan lebih dari 460 halaman dan 891 catatan kaki, tentu saja buku ini mengungkap hal-hal yang tidak mungkin kita jabarkan di instagram. Informasinya terlalu banyak.

Buat yang ingin beli bukunya, klik linktr.ee/kli.books dan pesan melalui tokopedia, shopee, maupun google form.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *