Upaya Sultan Abdul Hamid II Mengurangi Utang Khilafah ‘Utsmaniyyah

Share the idea

Akibat kepemimpinan Sultan Abdul Hamid II yang kuat, cerdas, dan amanah, hutang Khilafah turun drastis dari 300 juta menjadi 30 juta lira. Pasca dilengserkannya Sultan dengan paksa, hutang Khilafah membengkak menjadi 400 juta lira.

Dalam catatan hariannya, Sultan Abdul Hamid II menuturkan, “Saat aku memangku pemerintahan, total hutang kami sekitar 300 juta lira dan berhasil ditekan hingga 30 juta lira, atau tinggal sepersepuluhnya saja. Hal itu terjadi setelah adanya upaya pengembalian dari apa yang dirampas pada dua aksi penjarahan besar-besaran dan kerusakan akibat adanya kekacauan dalam negeri. Sedangkan Nazhim Bek dan teman-temannya justru menaikkan jumlah hutang tersebut (setelah organisasi Al-Ittihad Wa At-taraqqiy mengambil alih kekuasaan setelahku) dari 30 juta lira saat aku meninggalkan pemerintahan menjadi 400 juta lira. Artinya, menjadi 13 kali lipat dari sebelumnya.”

Mengembalikan hutang dari 300 juta lira menjadi 30 juta lira tentu saja menjadi sebuah hal yang fantastis. Padahal di saat yang sama, sang Sultan menghadapi kondisi yang sangat tidak mudah. Beliau terus menerus mendapat tekanan dari negara-negara kafir. Hal ini termaktub dalam catatan harian beliau,

“Tidakkah Anda lihat bagaimana kondisi yang terjadi saat pertama kali aku menduduki tahta Utsmaniyah? Aku ingatkan kembali: pemberontakan di Bosnia dan Herzegovina, kekalahan pasukan Utsmaniyah, keharusan melakukan pengepungan di sektor Montenegro, dan kasus Serbia yang menyatakan perang terhadap negara Utsmaniyah dengan kekuatan yang besar dan membahayakan. Dari kasus-kasus tersebut, lalu pecahlah perang dengan Rusia yang sangat mengerikan.”

Bahkan saat pecah antara Utsmani dengan Rusia, sebagai bentuk tanggung jawab dan rasa amanahnya sebagai pemimpin, beliau membiayai sendiri berbagai keperluan umat Islam. Apa yang beliau lakukan tidak dianggap beban, melainkan atas dasar tanggung jawab amanahnya sebagai seorang pemimpin. Beliau melanjutkan dalam catatannya,

“Aku keluarkan biaya dari kantongku sendiri dalam rangka taqarrub dan pendekatan diri kepada Allah, untuk hamba-hamba-Nya yang telah Dia jadikan amanah di pundakku. Dana tersebut aku keluarkan untuk sebagian besar pedesaan tempat tinggalnya para pengungsi.”

Demikianlah, selayaknya sikap seorang pemimpin. Ketika saudara sesama muslimnya sedang mengalami kesulitan, maka tanpa pikir panjang, Ia menjadi garda terdepan untuk memberikan bantuan. []

Sumber:

Dr. Muhammad Harb. 2004. Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II. Pustaka Thariqul Izzah. Bogor.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *