Uighur dan Pembantaian Muslim di Tiongkok

Share the idea

Baiknya akhlak dan profesionalitas yang ditunjukkan oleh muslim Tiongkok menyebabkan masyarakat Tiongkok memandang mereka dengan penuh penghargaan dan penghormatan. Kontribusi umat Islam terhadap pemerintahan dan peradaban Tiongkok terus berlangsung dari generasi ke generasi.

Kemampuan umat Islam yang tidak dimiliki oleh masyarakat Tiongkok tersebut kemudian menimbulkan rasa iri dan dengki di kalangan pejabat (untuk memahami ini, silahkan membaca artikel kami sebelumnya yang berjudul “Ketika Islam Berjaya di Tiongkok). Merasa posisinya terancam, kebencian itu akhirnya meledak dan memicu pembantaian 5 ribu muslim yang dilakukan pemerintahan Dinasti Manchu (1054-1329 H).

Kedzaliman yang dilakukan pemerintah memicu berbagai aksi perlawanan dari umat Islam. Namun, sebagai penguasa tertinggi, pemerintah menuding siapapun yang melakukan perlawanan sebagai “pemberontak”.

Isu adanya pemberontak ini kemudian dijadikan sebuah “legalitas” untuk melakukan pembantaian lebih banyak terhadap umat Islam. Akibat genosida yang terus terjadi pada generasi selanjutnya, populasi muslim Tiongkok semakin lama semakin berkurang.

Rasa dengki tersebut bahkan masih terus berlanjut pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II. Ketika Khilafah mengirim dua utusannya ke Beijing untuk membangun hubungan dengan umat Islam Tiongkok dan membangun madrasah, penguasa Tiongkok menghadangnya karena merasa cemas hal itu akan menghidupkan aktivitas keislaman di sana. Tak membawa hasil, mereka pun pulang ke Istanbul. 

Kebencian terhadap umat Islam juga berlanjut di era Republik (1329-1369 H). Adalah muslim Uighur – keturunan suku Hui – yang menjadi korbannya. Bahkan, Tiongkok bekerjasama dengan Rusia menggempur wilayah Kashgar dan membantai puluhan ribu umat Islam. Pola yang dihembuskan juga sama, bahwa umat Islam adalah kumpulan pemberontak yang harus ditumpas.

Peristiwa menyayat hati juga terjadi di tahun 1349 H, ketika seorang kepala polisi sengaja melecehkan dan menyulut kemarahan umat Islam dengan melakukan pemerkosaan terhadap perempuan muslimah. Maka tidak heran, jika berbagai kezaliman yang dilakukan pemerintah Tiongkok membuat umat Islam melakukan perlawanan. Namun, perlawanan tersebut kemudian dituding sebagai tindakan pemberontakan dan terorisme oleh umat Islam.

Pada masa Perang Dunia II, perselisihan antara muslim dan pemerintahan Tiongkok dimanfaatkan oleh Jepang untuk menguasai Tiongkok. Jepang membebaskan muslim Tiongkok menjalankan ajaran Islam, mendirikan madrasah, menerbitkan surat kabar, bahkan membantu perjalanan haji. Hal ini tentu membuat umat Islam senang. Di sisi lain, kelompok komunis Tiongkok juga menebar banyak janji kepada kaum muslimin.

Hasilnya, umat Islam terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok mendukung Jepang, dan satu kelompok mendukung komunis. Dari sini kita dapat memahami, ketika media memelintir dan membutakan mata kita bahwa muslim Tiongkok berniat bergabung dengan Rusia dan mengkhianati negara.

Pola yang sama terus berulang, bahwa umat Islam dicap sebagai pemberontak dan teroris. Hal yang sebenarnya terjadi justru sebaliknya, berbagai macam pembantaian itulah yang membuat muslim Tiongkok lebih menginginkan merdeka dan hidup terpisah dari pemerintahan Tiongkok. Ada aksi, ada reaksi.

Hingga hari ini, dapat kita saksikan berbagai pelanggaran HAM dan diskriminasi masih terjadi terhadap muslim Uighur. Sungguh miris, bahwa berbagai pembantaian, perlakuan diskriminatif, atau mungkin lebih tepatnya disebut “pemusnahan populasi muslim” terus terjadi di Tiongkok. Bagai anak yang tidak tahu terima kasih kepada orang tuanya. Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa umat Islam memiliki kontribusi yang luar biasa bagi peradaban Tiongkok.

Pengakuan atas peran umat Islam dalam peradaban Tiongkok padahal pernah terjadi di era Republik (1329-1369 H) dengan dimasukkannya umat Islam sebagai salah satu unsur pembentuk rakyat Tiongkok, yang menyebutkan bahwa rakyat Tiongkok terdiri atas: 1) Orang Tiongkok (suku Han), 2) Orang Manchu, 3) Orang Mongol, 4) Kaum muslimin (Orang Hui), 5) Orang Tibet.

Itulah sebabnya dulu bendera Republik Tiongkok (five colored flag, berlaku pada 1912-1928 M) terdiri atas 5 warna, yaitu merah, kuning, biru, putih, dan hitam. Kaum muslimin mewakili warna putih.

Pengakuan lainnya juga terjadi dengan penamaan kota yang mengadopsi bahasa Arab, seperti kota Urumqi, Taihu, Yarkand, Shihezi, Kashgar, Shufu, dan lain-lain.

Sumber:

Ahmad Al-‘Usairy. 2008. Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX.Akbar Media Eka Sarana. Jakarta.

Firas Alkhateeb. 2016. Lost Islamic History. Penerbit Zahira. Jakarta.

Tim Riset dan Studi Islam Mesir. 2013. Ensiklopedi Sejarah Islam Jilid 1-2. Pustaka Al Kautsar. Jakarta.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *