Mengapa Khilafah Terlibat dalam Perang Dunia Pertama?

Share the idea

Rentetan kekalahan perang melawan Eropa serta berbagai pemberontakan internal, telah mengacaukan kondisi politik dan ekonomi Khilafah. Utsmani melemah dari berbagai sisi, baik secara militer, ekonomi, maupun stabilitas pemerintahan.

Biaya perang yang tinggi, hancurnya pemukiman, timbulnya berbagai penyakit, serta runtuhnya moral publik membuat Turki memasuki masa-masa paling genting sepanjang sejarah pemerintahannya. Untuk mengejar ketertinggalan, Khilafah saat itu bahkan ikut mengadopsi hukum publik Eropa. Saking parahnya, publik Eropa pun meledek Utsmani sebagai The Sick Man of Europe.

Ketika masa Perang Dunia pertama tiba dan Eropa terbelah dalam dua blok yang saling bermusuhan, Utsmani berada di luar jaringan tersebut dan tentu saja tidak ingin terlibat.

Meski demikian, kondisi perang global justru meningkatkan peluang penyerangan dari kedua blok: Rusia yang Ortodoks berpotensi merebut kembali Konstantinopel (Istanbul). Prancis menginginkan Suriah, Inggris tertarik dengan Mesopotamia, dan Yunani ingin memperluas cengkeramannya di Aegea.

Pejabat tinggi Utsmani – yang saat itu secara de facto dipimpin oleh tiga serangkai pemimpin gerakan Turki Muda (Anwar, Tal’at, dan Jamal Pasha), memandang bahwa keutuhan wilayah Khilafah hanya bisa diselamatkan melalui kerjasama dengan negara-negara Eropa yang telah menjadi kekuatan besar. Dari berbagai hubungan dengan Eropa, negara kuat yang cukup bersahabat dengan Turki adalah Jerman.

Ternyata, Jerman pun telah sejak lama menyadari potensi Turki dan berusaha menjalin hubungan baik dengannya. Pada 1898 misalnya, Kaiser Wilhelm II melakukan kunjungan kenegaraan di Provinsi Turki dan Arab. Di depan makam Shalahuddin al-Ayyubi di Damaskus, Wilhelm memuji Sultan Abdul Hamid II sembari berharap,

“Semoga Sultan dan 300 juta warga muslimnya yang tersebar di seluruh pelosok dunia, yang memuliakannya sebagai khalifahnya, percaya bahwa Kaiser Jerman akan menjadi sahabat mereka selamanya.”

Persahabatan ini tentu saja tidak tulus. Dengan 300 juta penduduk Khilafah yang menyebar di berbagai wilayahnya yang luas, Jerman berharap bahwa seruan jihad global Utsmani dapat mengganggu kekuatan Blok Sekutu, terutama di wilayah jajahan berpenduduk muslim seperti India, sekitar Teluk Persia, dan Mesir. Terdapat sekitar 100 juta muslim di bawah penjajahan Inggris, 20 juta di bawah koloni Prancis, dan 20 juta di bawah kekuasaan Rusia.

Blok Sentral sangat membutuhkan pembukaan front baru melawan Eropa. Posisi geostrategis Turki yang menguasai berbagai Selat (seperti Bosphorus dan Dardanella) serta Anatolia Timur sebagai gerbang menuju Teluk Persia dan Asia Tengah, sangat ideal untuk memasok berbagai logistik militer.

Persekutuan dengan Turki juga membuat Jerman memperoleh konsesi proyek pembangunan kereta api Berlin-Baghdad. Dengan itu, Jerman sebagai jantung Eropa dapat dihubungkan dengan Teluk Arab, yang dibaca Inggris sebagai upaya Jerman menguasai minyak di Timur Tengah dan ancaman bagi kolonialisme Inggris di kawasan.

Untuk memastikan Utsmani tak lepas darinya, Jerman bahkan berjanji menjaga keutuhan teritorial Khilafah, mereformasi kekuatan militernya, dan menjamin pengembalian tiga pulau di laut Aegea (yaitu Chios, Mytilene, dan Lemnos) kepada Turki. Sebaliknya, Utsmani berharap dapat mengembalikan kekuatan negaranya yang saat itu tertinggal oleh Eropa, sehingga dapat membatalkan berbagai perjanjian yang selama ini merugikan Khilafah dan memperbaiki hubungan mereka dengan umat muslim dunia.

Bergabungnya Khilafah dengan pihak Sentral bukan tanpa risiko. Terlibat dalam perang besar Eropa, sama saja dengan menantang musuh dari lintas negara. Di hadapannya terdapat Rusia, yang sejak tahun 1711, Khilafah telah mengalami kekalahan hingga tujuh kali. Perang di Italia dan Balkan juga memperburuk kondisi militer Utsmani. Jika kalah, maka Khilafah semakin dekat dengan kehancurannya.

Utsmani pun bersiasat dan berencana tidak terjun langsung ke dalam perang. Mereka ingin menunggu saat yang tepat, yaitu ketika keunggulan berada di tangan Blok Sentral. Namun, kebutuhan Jerman terhadap pasukan muslim Utsmani membuatnya terus mendesak Turki, bahkan turut memberikan bantuan sejumlah £5 juta untuk memulihkan kondisi ekonomi dan militernya. Utsmani semakin terpojok dan tidak memiliki alasan lagi.

Belum sampai setahun setelah berakhirnya Perang Balkan, akhirnya Khilafah kembali terjun ke dalam peperangan, yang tanpa diduga, adalah peperangannya yang terakhir. Pembentukan aliansi dengan Jerman, pada awalnya menumbuhkan rasa optimisme di kalangan pejabat tinggi Utsmani untuk dapat mengembalikan kekuatan Khilafah.

Benar saja. Selama Perang Dunia pertama, Khilafah berhasil menemukan kembali “taji” nya, merepotkan Blok Sekutu, dan mengalahkan mereka dalam beberapa pertempuran.

Sayangnya, itu hanya kondisi awal. Pada akhirnya, Blok Sentral kalah dan memaksa Khilafah ikut menandatangani perjanjian damai, yang semakin memecah belah kesatuan umat Islam sekaligus membagi wilayah Khilafah menjadi berbagai negara kecil yang kian melanggengkan imperialisme Barat.

Apa yang terjadi pada Khilafah saat itu, adalah sebuah efek domino. Ketika umat Islam mulai menjauhi berbagai syariat Nya, maka berbagai kemunduran mulai terjadi terhadap Khilafah.

Kondisi Khilafah yang mengemis memohon bantuan terhadap Eropa, ketidakmampuannya merespon revolusi industri, hingga pengadopsian undang-undang khas Barat, cukuplah menjadi bukti kelemahan yang diderita umat Islam.

Kemunduran dan runtuhnya Khilafah, pada akhirnya mengubah wajah dunia Islam modern. Hingga hari ini, umat Islam masih belum mampu melepaskan diri dari pengaruh negara-negara imperialis.[]

Sumber dan Rekomendasi Bacaan:

Abdul Qadim Zallum. 2001. Konspirasi Barat Meruntuhkan Khilafah Islamiyah: Telaah Politik Menjelang Runtuhnya Negara Islam. Penerbit Al Izzah: Bangil.

Erik Jan Zurcher. 2003. Sejarah Modern Turki. Penerbit Gramedia: Jakarta.

Eugene Rogan. 2016. The Fall Of The Khilafah: Perang Besar yang Meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah dan Mengubah Selamanya Wajah Timur Tengah. Serambi: Jakarta.

Muhammad Musa. 2003. Hegemoni Barat terhadap Percaturan Politik Dunia: Sebuah Potret Hubungan Internasional. Wahyu Press: Jakarta.

Taqiyuddin An-Nabhani. 2007. Konsepsi Politik Hizbut Tahrir. HTI Press: Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *