SejarahUlasan Buku

Invasi Napoleon ke Mesir yang Membingungkan Umat Islam

Share the idea

Pasukan Eropa yang pertama kali mampu memasuki Timur Tengah semenjak masa Perang Salib.

Ya, itulah rekor yang ditorehkan pasukan sang komandan legendaris, Napoleon Bonaparte.

Rekor itu dicapai Napoleon sebagai bagian dari Kampanye Mediterania, yakni usaha Prancis dalam menduduki Mesir yang memiliki posisi strategis untuk melemahkan akses dagang Inggris ke India dan memutus jalur komunikasinya ke wilayah Timur.

Uniknya, apa yang terjadi pada kaum muslimin saat itu memang di luar nalar. Pada 1 Juli 1798, hanya dalam beberapa jam, Alexandria ditundukkan Prancis dan mereka segera bersiap untuk menginvasi Kairo. Ketika Prancis tiba di dekat Piramida di pinggiran Kairo pada 21 Juli, pasukan berkuda Mamluk yang bersenjatakan pedang sudah keburu di-dor oleh pasukan Prancis yang berformasi ketat dan bersenapan canggih.

Walhasil, 10 ribu pasukan Mamluk syahid, sementara Prancis hanya mengalami kerugian 29 orang tewas dan 260 orang luka-luka. Begitu jomplang perbedaan kekuatan antara Prancis dan Mamluk.

Napoleon hadir di tengah rakyat Mesir yang digambarkan terbelakang
Ilustrasi formasi kotak yang digunakan Inggris. Dikombinasikan dengan kecanggihan senapan, Prancis menggunakannya untuk meraih kemenangan melawan Mamluk dengan jumlah korban yang sedikit
Contoh ilustrasi formasi kotak yang digunakan Prancis melawan Mamluk
Contoh penampakan formasi kotak dari depan

Ketika menginvasi Mesir, Napoleon ternyata juga membawa serta 500 perempuan, 500 masyarakat sipil, 167 ilmuwan, dan 2 set alat percetakan dengan huruf Arab, Latin, dan Yunani.

Beberapa pihak menganggap, bahwa ikut sertanya para ilmuwan ini adalah kebaikan hati Napoleon untuk mengenalkan ilmu pengetahuan kepada rakyat Mesir. Padahal, kedatangan para ilmuwan itu adalah demi kepentingan militer Prancis juga: agar Napoleon dan pasukannya dapat memetakan kondisi sosial, budaya, dan perdagangan Mesir dengan lebih akurat, sehingga Prancis dapat menaklukkan Mesir secara total.

Lantas, dari mana anggapan bahwa kehadiran para ilmuwan itu adalah bentuk kebaikan hati Napoleon untuk memperkenalkan teknologi pada umat Islam?

Napoleon di “Institut d’Égypte”. Institusi ilmiah Prancis yang dibangun hanya sebulan setelah menaklukkan Kairo

Sebagai gambaran, seorang ulama Al-Azhar dan sejarawan Mesir terkenal, Abdurrahman al-Jabarti (1754-1824 M) pernah mendatangi Institut d’Égypte, sekolah sains yang didirikan Prancis di Mesir dengan 4 jurusan: matematika, fisika, politik dan ekonomi, serta literatur dan seni.

Momen kedatangannya itu, ternyata bertepatan dengan demonstrasi eksperimen kimia yang diadakan oleh ilmuwan Prancis, Monsieur Bertholet. Al-Jabarti menuliskan kesaksiannya,

“Salah satu hal teraneh yang pernah aku lihat (di institut Prancis) adalah sebagai berikut,” tulis al-Jabarti. “Salah seorang asisten mengambil botol berisi cairan yang telah disuling dan menuangkannya sedikit ke sebuah wadah. Kemudian ia menuangkan cairan dari botol lain. Kedua cairan itu kemudian mendidih dan mengeluarkan asap merah. Ketika berhenti, isi dari wadah tersebut mengering dan berubah menjadi sebuah batu kuning.”

Eksperimen perubahan wujud benda cair ke benda padat ini diikuti dengan percobaan kimiawi lain yang menimbulkan “suara gaduh menakutkan seperti suara tembakan senapan.” Al-Jabarti jengkel sekali melihat ilmuwan Prancis tersebut gembira tatkala melihat dia dan orang-orang Mesir lainnya kaget ketakutan.

Melalui kisah singkat ini, kita mendapatkan gambaran sekilas atas fenomena kemunduran umat Islam yang teramat sangat. Dari segi militer, umat Islam kalah telak. Dari sisi ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam juga tertinggal. Padahal beberapa waktu sebelumnya, umat Islam pernah menjadi adidaya dan melampaui Eropa.

HAL INI, TENTU MEMBUAT KITA SEMUA BINGUNG.

BAGAIMANA MUNGKIN SANG ADIDAYA BISA MENGALAMI KEMUNDURAN?

KENAPA BISA TERJADI? APA YANG SALAH?

Simak pembahasan menariknya dalam KLI Lite Talk: Bukan Bedah Buku Biasa, “What Went Wrong?” karya Bernard Lewis

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *