Sejarah

Mulai Dari Alchemist Hingga Elixir: Bagaimana Perkembangan Dunia Farmasi Islam?

Share the idea

Ini adalah beberapa contoh dari istilah farmasi yang tercantum dalam berbagai karya kaum muslimin, yang kemudian digunakan juga dalam bahasa Inggris, sebagai bentuk interaksi mereka dengan Eropa.

BAHASA INGGRISBAHASA ARABDEFINISI
AlchemyAl-kimiyahSeni mengubah, membuat, atau mencampur berbagai unsur
AlcoholAl-KuhlZat yang dihasilkan melalui destilasi
AlkaliAl-KahliBasa
ElixirAl-IksirCampuran ekstrak buah, air, dan obat-obatan aromatik
JarJarrahWadah penyimpanan
SyrupSharabEkstrak buah kental

Meski para kimiawan (alchemist) hingga eliksir sering dikaitkan dengan ramuan keabadian dan awet muda, uniknya peradaban Islam ternyata jauh dari itu. Dunia pengobatan (farmasi) dalam Islam justru berkembang karena ikhtiar menemukan metode pengobatan yang tepat atas fenomena berbagai kematian mendadak di kalangan kaum muslimin, yang salah satunya disebabkan oleh racun. Baik yang disengaja (upaya pembunuhan) maupun alami (gigitan ular, anjing, dll).

Qin Shi Huang, raja pemersatu Tiongkok pertama yang terkenal membangun Tembok Besar China hingga tantara Terracotta nya, konon wafat karena meminum “ramuan keabadian” yang ternyata justru mengandung merkuri.

Sebab, Rasulullah memang memerintahkan umatnya untuk berobat dengan tepat, sebagaimana hadits,

“Sesungguhnya Allah tidak menurunkan satu penyakit kecuali diturunkan pula baginya obat”, dan

“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya dan menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan kalian berobat dengan yang haram.”

Walhasil, tak sampai seabad pasca wafatnya Nabi, tepatnya di masa Khilafah Umayyah, ilmu farmasi sudah berkembang pesat di kalangan umat Islam.

Pelopor dari gerakan ini adalah Pangeran Khalid bin Yazid (w.704 M), cucu dari sang Khalifah, Mu’awiyah. Ia menginisasi gerakan penerjemahan atas berbagai karya kedokteran dan ilmu pengobatan dari peradaban-peradaban sebelumnya, yakni Yunani, India, Romawi, maupun Persia.

David W. Tschanz, sejarawan kedokteran Islam abad pertengahan, menyebutnya sebagai orang pertama yang mendirikan perpustakaan di dunia Islam.

Salah satu halaman dari buku “De Materia Medica” yang ditulis pada abad pertama masehi oleh dokter Yunani bernama Pedanius Dioskorides.

Buku ini merupakan buku farmasi paling terkenal sebelum buku karya Ibnu Sina, “al-Qanun fi ath-thiib” (The Cannon of Medicine), sampai ke Eropa. Zakaria Virk, sejarawan perkembangan sains Islam, bahkan menyebut bahwa setelahnya, umat Islam menjadi pemimpin ilmu pengobatan hingga abad ke-17.

Upaya mempelajari sains dan teknologi sebagai ilmu yang bebas nilai, meski dari orang kafir sekalipun, dilakukan oleh umat Islam juga didorong oleh hadits, salah satunya mengenai penyerbukan kurma. Rasulullah pun menunjuk seorang dokter kafir, yakni al-Harits bin Kaldah, sebagai dokter umat.

Tak heran jika Khalifah Mu’awiyah, juga melakukan hal serupa. Ia mengangkat Ibn Uthal, seorang Kristen Arab ahli toksikologi (ilmu mengenai racun) untuk menjadi dokter pribadinya. Khalifah penerus Mu’awiyah, Yazid, juga dilayani oleh dokter-apoteker Kristen yang bernama Abu al-Hakam al-Dimashqi.

Berbeda dengan ideologi yang memiliki nilai-nilai khas tertentu, sains dan teknologi adalah ilmu yang bebas nilai. Siapapun yang menemukan fakta sains, baik muslim atau kafir, fakta sains akan selalu sama. Sebab, Allah memberikan qadar suatu benda akan bersifat demikian.

Maka, Nabi mendorong kaum muslimin belajar sains dan teknologi dari ahlinya, sedangkan ideologi tetap merujuk kepada Islam.

Lantas, bagaimana ilmuwan muslim mampu mengubah dunia farmasi internasional?

Mari kita simak apa yang disampaikan oleh al-Biruni (w. 1050 M) mengenai tugas seorang apoteker,

“Apoteker adalah seorang ahli dalam menghimpun semua obat, memilih yang terbaik darinya, dan mengembangkan obat-obatan berkualitas sesuai dengan metode dan teknik yang paling tepat yang direkomendasikan oleh para ahli pengobatan. ”

Definisi al-Biruni tentang apoteker, serupa dengan apa yang dipahami para ahli hari ini. Kaum muslimin berhasil mengubah dunia farmasi yang awalnya dipenuhi oleh sihir, perdukunan, maupun takhayul, menjadi ilmu yang berpakem pada metode ilmiah yang bisa diuji dan direproduksi oleh semua orang. Inilah pakem universal dari dunia farmasi dahulu, yang berlaku dan dipraktikkan hari ini. 

Adalah Jabir bin Hayyan (w. 815 M), bapak kimia modern peletak pondasi metode ilmiah-rasional yang mendasarkan pada metode eksperimen sistematis terkontrol dan dapat ditiru. Sebagaimana Ibnu Sina yang dikenal dengan nama Avicenna, Barat mengenal Jabir bin Hayyan dengan nama Geber.

Indonesia dan banyak negara Asia Tenggara lainnya, sangat mempercayai praktik perdukunan. Bahkan kisah Wali Songo, seringkali dikaitkan dengan kemampuan mistis yang ternyata jauh dari realita sejarah.

Mengapa kepercayaan atas hal mistis ini bisa demikian kuat? TEMUKAN PENJELASAN SELENGKAPNYA DI GRUP TELEGRAM KLI.
 

Maka tak heran, jika al-Kindi (w. 873) juga melakukan hal serupa. Ia mereformasi metode penentuan dosis obat, yang semula ditentukan layaknya “tebak-tebakan”, menjadi berdasarkan rumus matematis pasti yang dapat diikuti oleh siapa saja. Walhasil, semua pasien akan menerima dosis standar yang lebih pas.

Pola pikir untuk terbiasa bersikap atas dasar bukti dan perhitungan akurat, juga dibentuk melalui sistem Islam yang “memaksa” masyarakatnya bersikap adil. Pada awal abad ke-9 M, Khalifah Abbasiyyah ke-7, al-Ma’mun (w. 833 M) mengadakan program standarisasi nasional atas seluruh apoteker dan apotek Khilafah.

1.Para calon apoteker harus menempuh pendidikan khusus dalam kelas-kelas maupun praktik langsung di lapangan;

2.Di akhir pendidikan, dilakukan serangkaian tes sebagai syarat calon apoteker mendapatkan lisensi/izin (syahadat) resmi sebagai seorang apoteker profesional;

3.Menggerakkan qadhi (hakim) hisbah (disebut juga dengan al-muhtasib), untuk berkeliling dan mengaudit kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Al-Muhtasib memastikan bahwa obat-obatan diracik dengan benar, takarannya pas, tidak diencerkan, dan disimpan dalam wadah higienis.

Dalam kitab “Ajhizah Daulah al-Khilafah” (Struktur Negara Khilafah) karya Syekh Abdul Qadim Zallum, disebutkan bahwa al-Muhtasib (Qadhi Hisbah) adalah satu dari tiga qadhi yang wajib ada dalam Khilafah. Ia bertugas menyelesaikan langsung berbagai penyimpangan yang membahayakan hak-hak publik (di luar hudud dan jinayat) tanpa harus melalui persidangan.

Demikianlah, keagungan ajaran Islam yang mampu mengubah peradaban yang runyam menjadi gilang-gemilang. Peradaban emas ini tentu tak bisa dibangun hanya dengan mengandalkan ketakwaan individu. Namun juga dibutuhkan “paksaan” dari sistem Islam itu sendiri. Walhasil, Islam bukan hanya menjadi rahmat bagi Arab saja, atau bagi Eropa saja. Namun Islam adalah rahmat bagi semua. Rahmatan lil ‘alamin.

Keagungan sistem Islam ini bahkan tak sebanding peradaban yang dibangun Eropa. Dalam bidang yang sama, pengawasan serupa baru diterapkan Eropa di bawah Friedrich II (w. 1250 M). Itu pun tak optimal, tersebab kerusakan sistem dan moral di mereka.

Bahkan jika dibandingkan dengan sekarang, “kemajuan” Barat sebagai imbal hasil kapitalisme, juga memiliki masalah yang sama: peradaban tak bermoral yang jauh dari fitrah manusia.[]

Buah dari ideologi kapitalisme yang mengagungkan liberalisme dan sekularisme: selamat datang di peradaban LGBTQI++++

Sumber dan Rekomendasi Bacaan:

David W. T. 2017. The Islamic Roots of the Modern Hospital. Aramco World Vol 68 No 2.

Prof. Dr. Raghib As-Sirjani. 2017. Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

Taqiyuddin an-Nabhani. 2001. Peraturan Hidup Dalam Islam (Cetakan ke-6).

Zakaria Virk. Muslim Contribution to Pharmacy.

https://id.wikipedia.org/wiki/Al-Harits_bin_Kaldah

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *