Bagaimana Memahami Metode Dakwah Walisongo?

Share the idea

Di antara wilayah-wilayah yang pernah dibebaskan oleh peradaban Islam, Nusantara memiliki sejarah yang unik. Islam datang ke Nusantara tanpa melalui pagelaran pasukan sebagaimana wilayah-wilayah seperti Mesir, Syam, Persia, Afrika Utara, Asia Tengah, dan juga India. Islam menyebar ke Nusantara murni melalui dakwah, termasuk di Jawa.

Kalau kita menelaah secara mendalam, ada irisan yang dalam antara thariqah (metode yang bersifat tetap/permanen pada sebuah aktifitas yang bersandar kepada pandangan hidup) dakwah Rasulullah SAW dengan thariqah dakwah Wali Songo di Jawa. Para ulama’ ini yang membentuk semacam kutlah (kelompok) dakwah dan datang secara bergelombang menata dakwahnya dalam fase-fase sebagaimana dakwah Rasulullah SAW dalam melahirkan peradaban Islam di Madinah.

Fase pertama adalah pembentukan kader dakwah serta penguatan komunitas-komunitas dakwah di tengah-tengah masyarakat Jawa. Fase pertama Wali Songo ini juga melakukan pemetaan geografis, sosiologis, serta antropologis Jawa. Di fase awal ini tokoh-tokohnya antara lain Maulana Malik Ibrahim yang berasal dari Mesir yang membentuk komunitas pertanian muslim di Gresik, juga ada Sayyid Muhammad Al-Baqir (Syekh Subakir) yang fokus mendakwahi penduduk di pegunungan Jawa, Maulana Muhammad Al-Maghribi yang fokus mendakwahi masyarakat pedesaan, juga ada Maulana Aliyuddin dan Maulana Taqiyuddin yang membina masyarakat di pelabuhan-pelabuhan, juga Maulana Ahmad Jumadil Kubro yang membina para bangsawan Majapahit di Trowulan serta Maulana Utsman Hajji (Sunan Ngudung) yang membina satuan militer Majapahit.

Fase kedua adalah melakukan interaksi terbuka kepada semua lapisan masyarakat. Berbagai uslub (cara yang digunakan dalam menyelesaikan masalah yang menyesuaikan kondisi ruang, waktu, dan kondisi) dan wasilah (alat atau media yang digunakan dalam melaksanakan aktifitas) digunakan untuk menarik minat masyarakat agar memeluk Islam. Juga mulai terjadi persinggungan pemikiran antara pemikiran Islam dengan pemikiran Hindu-Budha yang saat itu menjadi mayoritas di Jawa. Anggota Wali Songo yang populer di era ini adalah Raden Rahmat (Maulana Ali Rahmatullah/Sunan Ampel), Raden Paku (Maulana Ainul Yaqin/Sunan Giri), Maulana Maqdum Ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Syahid (Sunan Kalijogo).

Sunan Ampel mengadopsi model pendidikan biarawan Hindu-Budha. Beliau memadukannya dengan model pendidikan madrasah asrama sufi yang populer di dunia Islam pada masa itu. Lahirlah sistem pondok pesantren, dimana para santri dididik tsaqofah Islam, kemandirian, budi pekerti (adab), ilmu-ilmu kehidupan, hingga ilmu kanuragan (bela diri). Pesantren Ampeldenta di Surabaya (yang didirikan oleh Sunan Ampel) mengkhususkan diri mendidik putra-putra bangsawan Majapahit. Usaha Sunan Ampel ini kemudian banyak ditiru oleh para ulama’ sezamannya. Raden Paku (Sunan Giri) mendirikan pesantren yang sama di sebuah bukit di kota pelabuhan Gresik sepulangnya beliau dari belajar di Ampeldenta, di Malaka (bersama dengan ayahandanya, yaitu Maulana Ishak), dan Mekkah.

Jangkauan pengaruh pesantren Giri lebih luas dari Ampeldenta. Tercatat para sultan dari Palembang hingga Ternate, dari Sulu hingga Bima “tidak sah” gelar Sultan nya apabila belum mendapat ijazah ilmu serta ditahbiskan oleh Sunan Giri dan keturunannya. Karena pengaruhnya yang demikian besar di Nusantara, oleh para pengelana Portugis, kedudukan Sunan Giri disejajarkan dengan Paus di Eropa.

Adapun Maulana Maqdum Ibrahim (Sunan Bonang), selain membangun pesantren di Tuban (sebuah pelabuhan utama Majapahit), beliau juga menggubah syair dan menampilkan pagelaran Gamelan untuk syiar dakwahnya. Konsep dakwah seperti ini banyak diminati oleh masyarakat kecil dan pedesaan.

Konsep dakwah Sunan Bonang kemudian dilanjutkan oleh muridnya, Raden Syahid yang merupakan putra adipati (kepala wilayah) Tuban. Adapun Raden Syahid atau yang dikenal sebagai Sunan Kalijogo, melakukan dakwah dengan menggubah pagelaran wayang. Wayang merupakan hasil akulturasi budaya India dengan Jawa. Lakon ceritanya diambil dari kitab Ramayana dan Mahabharata dan merupakan bagian dari ritual Hindu. Sebagai sebuah ritual, wayang ditampilkan secara khusus dan dinikmati oleh segelintir orang. Pagelarannya berupa pengisahan cerita bergambar oleh seorang pandita.

Sunan Kalijogo telah merevolusi wayang. Beliau mengubah bentuk wayang yang awalnya berupa lukisan makhluk hidup menjadi boneka dari kulit sapi dan dibentuk berdasarkan watak karakternya. Beliau juga menggubah lakon wayang, pakemnya masih menggunakan Ramayana dan Mahabharata tapi beliau menambahkan cerita dan tokoh-tokoh baru serta menghilangkan kesakralan ajaran Hindu-Budha.

Wayang berubah menjadi media penyampaian hikmah dan falsafah hidup. Revolusi berikutnya adalah pagelaran wayang yang sebelumnya bersifat privat menjadi tontonan umum yang dapat disaksikan banyak orang. Dalam hal ini dimungkinkan terjadinya perpindahan agama secara massal, ketika rakyat kecil berbondong-bindong menonton wayang yang tiket masuknya berupa ucapan kalimat syahadat dan isi lakonnya berupa wejangan-wejangan ajaran Islam.

Pengaruh Sunan Kalijogo sangat terasa dalam falsafah kehidupan orang Jawa dan wayang menjadi semacam sekolah kehidupan bagi masyarakat Jawa di luar pondok pesantren. Masyarakat Jawa belajar berbagai macam seni kehidupan, mulai dari penyucian diri, manajemen rumah tangga, hingga memahami konsep kepemimpinan melalui wayang. Eksistensi tersebut terus berjalan, hingga kemudian hancur oleh era kolonial Belanda yang berhasil merusak tatanan kehidupan masyarakat Jawa. []

Sumber:

Azyumardi Azra, “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII”. 1994; Mizan.

Claude Guillot dan Ludvik Kalus, “Inskripsi Islam Tertua di Indonesia”. 2008; Kepustakaan Populer Gramedia.

Firas Alkhateeb, “Sejarah Islam yang Hilang”. 2016; Bentang Pustaka.

Hasan Djafar, “Masa Akhir Majapahit”. 2009; Komunitas Bambu.

M. C. Ricklefs, “Mengislamkan Jawa”. 2013; Serambi.

M. C. Ricklefs, “Sejarah Indonesia Modern;1200 – 2008”. 2008; Serambi.

Moeflich Hasbullah, “Islam dan Transformasi Masyarakat Nusantara”. 2017; Kencana.

Widji Saksono, “Mengislamkan Tanah Jawa; Telaah atas Metode Dakwah Walisongo”. 1995; Mizan.

Jurnal Islamia edisi April 2012, “Pembebasan Nusantara: Antara Islamisasi dan Kolonialisasi”.

National Geographic Indonesia edisi Oktober 2009, “Moderat dan Radikal dalam Rumah Bernama Indonesia”.

National Geographic Indonesia edisi September 2012, “Repihan Majapahit”.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *