Napoleon Bonaparte: Bagaimana Pemikiran Barat Menghancurkan Umat Islam?

Share the idea

Nyatanya, Napoleon yang dalam banyak artikel sering kita dapati sebagai pengagum al-Qur’an, justru menggunakan sentiman keislaman sebagai alat politiknya.

Kita tentu sudah mengetahui, bahwa Khilafah telah runtuh pada 3 Maret 1924 atau 28 Rajab 1342 H. Peristiwa ini sangat lekat dengan nama Mustafa Kemal, yang senantiasa disebut-sebut sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas runtuhnya satu-satunya institusi politik umat Islam itu.

Namun, benarkah keruntuhan Khilafah terjadi sesederhana itu? Bahwa, akibat ulah satu orang terkutuk yang bernama Kemal ini, benarkah Khilafah yang pernah menjadi negara adidaya dunia itu runtuh begitu saja?

Jawabannya, tentu saja tidak.

Sayangnya, penjelasan dari jawaban tidak ini, tak mudah untuk dibahas. Kita bisa saja berbicara secara normatif, bahwa pemikiran Barat seperti sekularisme, liberalisme, maupun nasionalisme telah meracuni umat Islam hingga menghancurkannya. Namun pertanyaannya, bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi?

Ada beragam sebab, mengapa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tak mudah untuk dibahas. Selain karena harus membaca berbagai macam arsip, tak banyak pula arsip yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kita memang bisa mengusahakannya dengan membaca secara mandiri, namun sejujurnya usaha itu juga harus ditukar dengan banyaknya waktu yang dihabiskan.

Contohnya adalah dampak Revolusi Prancis bagi umat Islam, khususnya ketika Napoleon Bonaparte tiba di Mesir dan menginvasinya.

“Bonaparte memberikan syal triwarna (biru, putih merah: bendera Prancis) kepada Bey Mesir” (Bounaparte donne l’ècharpe tricolore à un bey d’Egypte), antara tahun 1798 dan 1800.

Sumber gambar: Philip Dwyer, Napoleon: The Path to Power, 1769-1799, (London: Bloomsbury Publishing, Plc., 2007), 399.

Nyatanya, Napoleon yang dalam banyak artikel sering kita dapati sebagai orang yang mengagumi al-Qur’an, justru menggunakan sentiman keislaman sebagai alat politiknya untuk merebut hati umat Islam. Dalam maklumat yang ia sebarkan kepada masyarakat Mesir, ia membukanya dengan kalimat syahadat yang nanggung,

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tiada sesembahan selain Allah, Dia tidak beranak dan tiada pula mempunyai sekutu dalam kekuasaan-Nya” (bismillaah al-rahmaan al-rahiim, laa ilaaha illaa Allaah, laa walida lahu wa laa syariika lahu fii mulkihi).

Napoleon kemudian melanjutkan, bahwa dirinya dan pasukannya berasal dari bangsa Prancis (millah al-Faransaawiyyah) yang negaranya ditegakkan atas asas kebebasan (al-hurriyyah) dan kesetaraan (al-taswiyyah). Tujuan mereka datang ke Mesir adalah untuk membebaskan negeri yang berperadaban agung nan strategis lokasinya ini dari “kezaliman dan ketamakan Mamluk” (al-zulm wa al-tama’ min al-Mamalik).

Sang komandan yang memiliki track record kemenangan yang luar biasa itu kemudian meminta agar para tokoh terpandang di Mesir memberi tahu orang-orang Mesir bahwa sesungguhnya bangsa Prancis adalah kaum Muslim juga (quuluu li ummatikum inna al-Faransaawiyyah hum aydan muslimuuna mukhlishuun), di mana mereka telah “menghancurkan singgasana Paus yang selalu menghasut kaum Kristen agar memerangi Islam” (kharibuu kursiyy al-Baabaa al-ladzii kaana daa’iman yahusshuu al-Nashaaraa ‘alaa muhaarabah al-Islaam).

Itu adalah sebagian dari isi maklumat Napoleon Bonaparte kepada rakyat Mesir. Dari sebagian isi maklumat itu, kita dapat melihat nilai-nilai dari Revolusi Prancis yang dicoba ditanamkan oleh Napoleon kepada rakyat Mesir. Ia adalah Liberté, égalité, fraternité yang diartikan sebagai kebebasan, keadilan, dan persaudaraan.

Salah seorang yang terpengaruh oleh nilai-nilai yang dibawa Prancis ke Mesir adalah Muhammad ‘Ali Paşa (1770-1849), tokoh yang kelak menjadi Gubernur Mesir pada 1805.

Muhammad ‘Ali adalah orang yang secara sistematis telah membuat kehidupan penduduk Mesir menjadi kebarat-baratan. Ia begitu kagum dengan peradaban Eropa yang maju berkat keunggulan industri dan pemikiran yang revolusioner. Ia juga menjalin hubungan dekat dengan para cendekiawan Mesir yang dahulu sering menimba ilmu di Institut d’Égypte buatan Napoleon.

Salah satunya adalah seorang ulama al-Azhar yang bernama Hasan al-‘Attar (1766-1835). Dalam pandangan al-‘Attar, negeri Mesir harus mengubah kondisinya dan pengetahuan-pengetahuan yang ada di dalamnya juga harus berubah dan berganti dengan sesuatu yang baru. Perubahan yang ia maksudkan adalah perubahan total pada budaya Eropa setelah para ulama dan syaykh –dalam pandangannya– gagal untuk melanjutkan usaha keras kaum Muslim di masa lampau.

Institut d’Égypte

Kisah dampak pemikiran Barat atas umat Islam tentu saja tak berhenti sampai di sini. Bagaimanapun, jarak antara Napoleon tiba pertama kali di Mesir hingga runtuhnya Khilafah, terentang lebih dari 1 abad.

Lantas, bagaimana pengaruh pemikiran Barat di belahan dunia muslim yang lain? Bagaimana detail pergolakan pemikiran umat Islam di sepanjang waktu tersebut?

Simak pengaruh pemikiran Barat atas kehancuran umat Islam yang dibahas oleh Nicko Pandawa dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda”, hasil penelitian penulis yang dibukukan. Terdapat 891 catatan kaki yang melengkapi hasil penelitiannya.

Pemesanan: bit.ly/BukuKLI1
Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *