Bolehkah Muslim Mengambil Ilmu Pengetahuan dari Barat?

Share the idea

Ilmu pengetahuan dewasa ini tentu sudah berkembang begitu pesat dibandingkan masa kejayaan peradaban Islam. Kiblat keilmuan bahkan sudah berpindah ke Barat. Namun, bolehkah ilmu-ilmu tersebut tetap diadopsi oleh muslim? Pada titik inilah kita memerlukan pertimbangan dengan menggunakan beberapa konsep.

Konsep Hadlarah-Madaniyah

Konsep yang dipopulerkan oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani ini menjawab bagaimana sikap yang seharusnya diambil oleh seorang muslim atas berbagai peradaban yang bukan berasal dari Islam. Utamanya, tidak ada kemutlakan dalam hal ini, apakah ditolak secara keseluruhan atau diambil mentah-mentah.

Pembedanya ialah, apabila hal yang diambil mengandung suatu pandangan khas yang berbeda asas dengan Islam, maka hal itu tidak boleh diadopsi.

Sebaliknya, bila sesuatu tersebut merupakan hal yang tidak mengandung pandangan hidup yang khas, maka boleh untuk diadopsi oleh umat Islam, sekalipun berasal dari peradaban lain.

Syekh Taqiyuddin mendefinisikan hadlarah sebagai “sekumpulan mafahim (ide yang dianut dan mempunyai fakta) tentang kehidupan”. Sedangkan madaniyah merupakan “bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan.” Hadlarah bersifat khas dan terkait dengan pandangan hidup tertentu. Contohnya adalah kapitalisme, sosialisme, demokrasi, dan berbagai ideologi turunannya.

Sedangkan madaniyah bisa bersifat khas, bisa pula bersifat umum untuk seluruh manusia. Bentuk madaniyah yang bersifat khas (mengandung hadlarah tertentu) adalah atribut natal. Bentuk madaniyah yang berifat umum, adalah sains dan teknologi.

Sains dan teknologi merupakan sesuatu yang bebas nilai dan bersifat universal untuk seluruh manusia. Siapapun yang melakukan penelitian, baik muslim maupun kafir, baik Cina maupun Amerika, akan menemukan fakta yang sama. Karena standar metode ilmiah yang diakui dunia internasional adalah fakta yang dapat dibuktikan berulang kali, melalui metode uji yang sama, meski dilakukan oleh orang yang berbeda. Sebagaimana yang kita temukan pada rumus-rumus fisika, astronomi, kimia, dan biologi.

Maka tak heran, jika kemudian Rasulullah mengadopsi teknologi perang dari bangsa Persia yang diperoleh dari sahabat Salman al-Farisi. Hal yang sama juga dilakukan oleh az-Zahrawi, ar-Razi, dan berbagai ilmuwan muslim lain ketika melakukan penelitian hingga menemukan berbagai alat dan obat. Padahal, sumber-sumber rujukan medis saat itu banyak juga yang berasal dari luar dunia Islam, sebutlah Yunani.

Maka, yang harus dikritisi bukanlah fakta sains nya itu sendiri, melainkan kebijakan yang diambil berdasarkan fakta sains tersebut. Penerapan sains yang tidak sesuai ketaatan ialah penyimpangan dan harus diluruskan, ketiadaan aturan dari Allah tentu mengakibatkan penerapan sains yang bebas. Inilah ekspresi gagasan liberalisme dalam dunia keilmiahan.

Apakah alat konstrasepsi bermasalah? Tentu tidak. Ia hanya salah satu penemuan. Namun ketika digunakan sebagai alat kebijakan dalam praktek perzinahan yang “dilegalkan”, maka itu sudah berbeda konteks. Jadi, selain memahami konsep hadlarah dan madaniyah, pendalaman pada setiap kondisi wajib dilakukan.

Oleh karena itu, Islam tidak menolak segala yang berasal dari luar Islam, namun juga tidak menerima semua yang dari luar Islam. Sebab, Islam punya identitas yang harus dilandaskan atas aqidah yang benar.

Islam Menghormati Kepakaran

Islam sangat menghormati keilmuan seseorang. Hal ini terungkap ketika nabi memberikan pernyataan terkait proses perkawinan pohon kurma, “…Kalian lebih mengetahui masalah-masalah dunia kalian (daripada saya)..”. Dalam hal keilmuan duniawi, bahkan Rasulullah pun mau mengikuti yang lebih ahli. Hal ini mengingat misi diutusnya Rasulullah adalah untuk mengajarkan perkara syariat-syariat agama.

Sebagai contoh, Ibnu Khaldun dalam kitabnya yang berjudul Mukaddimah berpendapat terkait pengobatan ala nabi. Beliau menyatakan, “Maka, tidak satupun dari pernyataan-pernyataan mengenai kedokteran yang terdapat di dalam hadits-hadits shahih boleh dinyatakan sebagai sesuatu yang disyariatkan. Tak satupun dalil yang menunjukan begitu”.

Ini memberikan indikasi yang jelas, bahwa ketika ada suatu persoalan spesifik yang memerlukan suatu keahlian tertentu, maka kembalikanlah pada ahlinya, bukan malah terbawa opini tokoh publik dan tokoh agama yang ternyata bukanlah ahli di bidang tersebut.

Menuntut Ilmu Adalah Fardhu

Menuntut ilmu ialah kewajiban setiap muslim. Rasulullah bersabda, ”Menuntut ilmu pengetahuan itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Adi dan Baihaqi, dari Anas).

Ilmu pengetahuan yang termasuk ilmu duniawi, hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah. Maka bila belum ada yang mempelajari dan menjelaskan hal tersebut, berdosalah kaum muslim secara keseluruhan. Sedangkan ilmu yang termasuk ilmu agama, maka hukum mempelajarinya adalah fardhu ‘ain. Wajib bagi setiap muslim.

Imam al-Ghazali pun berpendapat, ”Apabila ilmu dan karya-karya yang dimiliki non muslim lebih baik dan lebih utama dari yang dimiliki kaum muslimin, maka kaum muslimin berdosa dan kelak mereka akan dituntut atas kelalaian itu”.

Bahkan dalam keadaan tertentu, mempelajari ilmu tersebut hukumnya fardhu ‘ain, artinya merupakan suatu keharusan yang tidak boleh ditinggalkan, berdasarkan kaedah fiqih, “maa laa yatimmul waajib illaa bihi fahuwa waajib”, yang berarti bahwa suatu kewajiban tidak akan sempurna, kecuali dengan adanya sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya menjadi wajib.

Pemahaman yang menyeluruh atas kaidah-kaidah tersebutlah yang menjadikan peradaban Islam dahulu berhasil melahirkan perkembangan yang begitu cemerlang dan terdepan dalam ilmu pengetahuan. Wallahu a’lam []

Sumber:

Firas Al-Khateb, 2016. Lost Islamic History. Zahira: Jakarta.

Ibnu Khaldun, 2000. Mukaddimah. Pustaka Firdaus: Jakarta.

Muhammad Al-Khudari, 2016. Bangkit dan Runtuhnya Daulah Abbasiyyah. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

S.I. Poeradisastra, 2008. Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Peradaban Modern. Komunitas Bambu: Jakarta.

Taqiyuddin an-Nabhani, 2020. Peraturan Hidup dalam Islam. Pustaka Fikrul Islam: Jakarta.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *