Ketika Ilmuwan Muslim Melampaui Louis Pasteur

Share the idea

“Sangat keliru jika dikatakan bahwa penyakit-penyakit itu menyerang manusia dengan sendirinya. Padahal, penyakit-penyakit itu berpindah dari satu orang ke orang lain dengan cara menular. Penularan ini sangat kecil dan renik, hingga tidak mampu dilihat oleh mata telanjang. Penularan ini terjadi karena adanya kuman yang hidup.”

Syekh Aaq Syamsuddin, guru Sultan Muhammad Al-Fatih. Ulama’ yang sekaligus menjadi ilmuwan

Penghargaan Islam terhadap para penimba ilmu tak hanya menjadikan umat Islam termotivasi untuk senantiasa melakukan ibadah ritual, namun menjadikan berbagai aspek keduniaan sebagai sarana untuk semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Seorang muslim adalah ahli ibadah yang tidak melupakan dunia. Maka benarlah apa yang disampaikan oleh Imam Syafi’i,

“Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu”.

Tak heran, umat Islam dijuluki sebagai singa di siang hari dan rahib di malam hari. Mereka ada polymath. Menguasai berbagai bidang, menjadi ilmuwan dan ulama sekaligus. Tak terkecuali pada sosok guru Muhammad Al-Fatih, yaitu Syekh Aaq Syamsuddin. Layaknya kepeduliannya terhadap penyakit-penyakit rohani, ia juga sangat menaruh perhatian pada penyakit jasmani, terutama penyakit dalam. Ia kemudian menulis buku yang ia beri judul, “Maadatul Hayaat”. Dalam buku tersebut, Syekh menyatakan,

“Sangat keliru jika dikatakan bahwa penyakit-penyakit itu menyerang manusia dengan sendirinya. Padahal, penyakit-penyakit itu berpindah dari satu orang ke orang lain dengan cara menular. Penularan ini sangat kecil dan renik, hingga tidak mampu dilihat oleh mata telanjang. Penularan ini terjadi karena adanya kuman yang hidup.”

Berdasarkan pengalamannya tersebut, Syekh Aaq Syamsuddin telah mendefinisikan kuman pada abad ke-15 M. Dialah orang yang pertama melakukan hal itu, empat abad sebelum ahli kimia dan biologi asal Prancis, Louis Pasteur, melakukan penelitian dengan hasil yang sama. Padahal, saat itu belum ditemukan mikroskop.

Sosok beliau hanyalah salah satu dari sekian banyak ulama yang juga sukses sebagai ilmuwan. Setiap muslim yang menelusuri jejak hidup para ulama, sudah selayaknya membuang jauh-jauh rasa malas dan termotivasi untuk senantiasa mencari ilmu demi meraih kemuliaan dari-Nya. [] 

Sumber :

Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi. 2003. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *