Potret Eksotis Mao Zedong dan Pengaruhnya Bagi Tiongkok

Share the idea
Tiongkok melakukan uji coba pertama bom nuklirnya. Xinjiang, 16 Oktober 1964. Berbagai manuver politik di masa sebelumnya, termasuk Great Leap Forward yang berujung bencana, adalah pembuktian Mao pada dunia bahwa Tiongkok layak untuk menjadi adidaya global. Sumber gambar: scmp.com
Masyarakat Tiongkok dan patung Mao. Meski pendalaman komunisme akan mengantarkan pada materialisme yang meniadakan Tuhan, masyarakat komunis tak bisa melepaskan fitrah manusia yang memang membutuhkan pengultusan atas sesuatu yang dianggap lebih agung. Dalam istilah Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, inilah yang disebut gharizah at-tadayyun (naluri beragama). Sumber gambar: Jonathan Scott Miller dan The Telegraph
Semua pernah muda. Mao Zedong, 1937. Sepanjang 1934-1935, Mao menjadi tokoh penting ekspedisi panjang (Long March) Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang mengungsi dari markas besarnya di selatan provinsi Jiangxi menuju utara. Kurun setahun, jarak tempuh “Long March tak berpahala” kaum komunis militan ini mencapai 6000 mil, melewati 18 barisan pegunungan dan 24 sungai. Dalam perjalanan ini, Mao mengukuhkan posisinya sebagai pimpinan tertinggi partai.
Penyerahan burung cendrawasih yang diawetkan. Beijing, September 1963. Menurut Taomo Zhou, Mao mengaku terkejut mendengar rencana gerakan merebut kekuasaan akhirnya dilancarkan. Transkrip percakapan Aidit dan Mao tertanggal 5 Agustus 1965 tersimpan dalam arsip kementerian Luar Negeri Tiongkok. Sumber gambar: kumparan
Poster Marx, Engels, Lenin, dan Stalin diarak dalam pertemuan tahunan Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang ke-9, April 1969. Meski popularitas Mao terus turun pasca kegagalan Great Leap Forward, Mao terus melancarkan strategi politiknya dalam Revolusi Kebudayaan sebagai upayanya untuk kembali ke posisi sentral PKT. Sumber gambar: dw.com
Mao Zedong menghadiri undangan pesta yang diadakan Stalin. Moskow, Desember 1949. Meski sama-sama mengusung komunisme, kedua pihak kerap bersitegang bahkan saling mencurigai. Sumber gambar: wilsoncenter.org
“Tangan ini adalah tangan orang besar dari Timur”. Demikian puji Soekarno atas Mao. Sepanjang 30 September-14 Oktober 1956, Tiongkok menerima kunjungan Indonesia. Bagi Mao, Indonesia yang memiliki banyak penduduk miskin tapi kaya akan bahan mentah, adalah negara sempurna yang bisa dimanfaatkan sebagai pengikut gerakan komunis. Sumber gambar: jawapos.com dan gesuri.id
Meski diagungkan sedemikian rupa, Mao sejatinya hanyalah manusia lemah. Mao dengan Maoisme yang diklaim sebagai penafsir paling murni
Marxisme-Leninisme, nyatanya telah menyengsarakan puluhan juta masyarakat Tiongkok dan harus digantikan dengan kapitalisme Tiongkok – yang meminjam istilah Megawati, disebut sebagai “sosialisme berkebudayaan Tiongkok” – yang bersifat lebih pragmatis. Sumber gambar: Michael Nicholson
Anak-anak yang kelaparan di Tiongkok sebagai dampak Great Leap Forward. Sumber gambar: Majalah Life

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *