Jejak Khilafah Di Nusantara: Menafsirkan Rahasia Hidup Dan Dakwah Sunan Gresik

Share the idea

TELAAH MAKAM MALIK IBRAHIM

Makam Malik Ibrahim terletak di dalam kompleks pemakaman Pusponegoro, Desa Gapura, Kota Gresik. Di dalam cungkup makam Malik Ibrahim, terdapat dua makam lain yang bentuk jirat dan nisannya serupa. Makam sang wali ini berada di deret paling barat, sementara dua makam sisanya dipercaya merupakan makam istri dan anaknya.

Di antara ketiga makam ini, makam Malik Ibrahim-lah yang paling terbaca epitafnya. Di antara inskripsi-inskripsi yang terpahat dalam epitaf makam beliau adalah beberapa ayat al-Qur’an, seperti surat al-Baqarah ayat 255, surat Ali ‘Imran ayat 185, surat ar-Rahman ayat 26-27, dan surat at-Taubah ayat 21-22. Adapun informasi mengenai sang shohibul-makam terdapat di sisi utara makam, di mana di dalamnya tertuliskan:

هذا قبر المرحوم المغفور الراجي إلى رحمة الله تعالى مفخر الأمراء عمدة السلاطين و الوزراء محب المساكين و الفقراء السعيد الشهيد برهان الدولة و الدين ملك إبراهيم المعروف بكاكيء باتي بنتل تغمده الله بالرحمة و الرضوان و أسكنه في دار الجنان توفي يوم الإثنين في الثاني عشر من ربيع الأول سنة اثني(ن) وعشرين وثمانمائة

“Inilah kubur almarhum yang diampuni, yang mengharapkan rahmat Allah Ta’ala. Kebanggaan para penguasa, penyangga para sultan dan wazir, pecinta kaum miskin dan fakir. Yang berbahagia dan syahid, penerang negara dan agama, Malik ‘Ibrahim, yang dikenal sebagai Kakek Pati Bantal. Semoga Allah mencurahkan kepadanya kasih sayang dan keridhaan, serta menempatkannya di negeri surga. Wafat hari Senin pada (tanggal) 12 dari (bulan) Rabi’ al-Awwal tahun 822 (1419 Masehi).”

يبشرهم ربهم برحمة منه و رضوان و جنات لهم فيها نعيم
 “Tuhan menggembirakan mereka dengan memberikan kasih sayang dari-Nya, keridhaan, dan surga. Mereka memperoleh kenikmatan..
مقيم (21) خالدين فيها أبدا إن الله عنده أجر عظيم (22)
…yang kekal di dalamnya ( ) Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, di sisi Allah terdapat pahala yang besar.” (QS. at-Taubah [9]: 21-22).
هذا قبر المرحوم المغفور الراجي إلى رحمة الله تعالى
Inilah kubur almarhum yang diampuni, yang mengharapkan rahmat Allah Ta’ala
مفخر الأمراء عمدة السلاطين و الوزراء محب المساكين و الفقراء
Kebanggaan para penguasa, penyangga para sultan dan wazir, pecinta kaum miskin dan fakir
السعيد الشهيد برهان الدولة و الدين ملك إبراهيم المعروف بكاكيء
Yang berbahagia dan syahid, penerang negara dan agama, Malik Ibrahim, yang dikenal sebagai Kakek
باتي بنتل تغمده الله بالرحمة و الرضوان و أسكنه في دار الجنان توفي يوم
Pati Bantal. Semoga Allah mencurahkan kepadanya kasih sayang dan keridhaan, serta menempatkannya di negeri surga. Wafat pada hari
الإثنين في الثاني عشر من ربيع الأول سنة اثني(ن) وعشرين وثمانمائة
Senin pada (tanggal) 12 dari (bulan) Rabi’ al-Awwal tahun 822 (1419 Masehi)

Barisan kalimat padat yang termaktub dalam inskripsi makam Malik Ibrahim, meski sangat singkat, merupakan informasi emas yang dapat menjelaskan banyak hal.

Walaupun menjadi seseorang yang menyandang status tinggi di tengah masyarakat, kuburnya adalah milik seorang yang dirahmati (al-marhum) lagi diampuni (al-maghfur). Ia pun menjadi seseorang yang sangat “mengharapkan rahmat dari Allah” (ar-raji ila rahmatillah ta’ala). Ketiga kata ini; al-marhum, al-maghfur, dan ar-raji ila rahmatillahi ta’ala, merupakan pengakuan awal bahwa Allah-lah Yang Maha Mengetahui segalanya.

Bagaimanapun tingginya status manusia di hadapan manusia lainnya, ia tetap hamba Allah yang takkan bisa lepas dari salah dan khilaf. Karena itulah, siapapun hamba Allah pantas untuk didoakan semoga Allah mengampuni dan merahmatinya.

Selain itu, Malik Ibrahim –sebagaimana diberitakan di inskripsi makamnya– menjadi “kebanggaan para pemimpin” (mufakhkhir al-‘umara) dan “penyangga para sultan dan wazir” (‘umdah as-salathin wa’l-wuzara).

Gelar ini begitu erat dengan konotasi-konotasi politis yang berhubungan dengan kekuasaan. Ini menandakan, dakwah yang ia lakukan memang mengincar kekuasaan yang diharapkan dapat menolong dakwah (sulthanan nashiran). Amatlah tepat, suatu ‘ibarat yang dikeluarkan Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitabnya al-Iqtishad fi’l-I’tiqad:

الملك والدين توأمان فالدين أصل والسلطان حارس وما لا أصل له فمهدوم وما لا حارس له فضائع

Kekuasaan dan agama adalah seperti dua saudara kembar. Agama adalah asas sementara kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu tanpa adanya asas akan rusak dan jika tidak dijaga, ia akan hilang.”

Memang belum jelas siapa “para penguasa” yang begitu membangga-banggakan Malik Ibrahim. Namun jika dilihat dari letak makamnya yang tak jauh dari Ibukota Kerajaan Majapahit di Trowulan, kita bisa menduga kalau lingkaran elite Majapahit-lah yang dimaksud dalam inskripsi makam Malik Ibrahim.

Artinya, dakwah yang dilakukannya disambut hangat oleh para penguasa Hindu itu, sehingga dakwah yang dilakukan Malik Ibrahim ke masyarakat Jawa tidak mendapat halangan berarti dari otoritas Majapahit.

Malik Ibrahim juga dikenal sebagai “pecinta orang-orang fakir dan miskin” (muhibb al-fuqara’ wa’l-masakin), yang menjadi petunjuk bahwa ia citranya begitu istimewa di tengah rakyat jelata.

Gelar berikutnya yang dikenang dari Malik Ibrahim adalah “penyangga para sultan dan wazir” (‘umdah as-salathin wa’l-wuzara’). Gelar ini mirip dengan gelar wakil Sultan Sumatera Pasai yang disinggung Ibn Bathuthah dalam kitab memoar perjalanannya, Tuhfah an-Nuzhzhar fi Ghara’ib al-Amshar wa ‘Aja’ib al-Asfar.

Ketika Ibn Bathuthah berkunjung ke salah satu kota di Sumatera dan disambut di Istana Sultan Pasai, ia tidak langsung dipertemukan dengan Sultan Malik azh-Zhahir, tapi dijamu dulu selama tiga hari berdasarkan tradisi Pasai dalam melayani tamu negara. Pada momen inilah, Ibn Bathuthah berkata, “Kami mendapati wakil Sultan dan ia dinamakan dengan gelar Penyangga Kekuasaan” (fa-wajadna na’ib as-sulthan wa huwa yusamma ‘Umdah al-Mulk).

Tradisi penggelaran dengan menyandarkan sebuah kata kepada kata al-mulk dan as-salathin muncul pada masa Dinasti al-Ayyubiyah di Mesir. Dalam masa tersebut, gelar-gelar semisal ‘Umdah al-Mulk wa as-Salathin, ‘Iddah al-Mulk, Dzakhirah al-Mulk, Ikhtiyar al-Mulk diberikan kepada para amir dan orang-orang yang mempunyai kedudukan dalam negara.

Kedudukan politis Malik Ibrahim makin dikuatkan dengan gelar yang disebut berikutnya: “Penerang Negara dan Agama” (burhan ad-daulah wa’d-din). Gelar ini menyiratkan sebuah keseimbangan antara agama dan kekuasaan.

Selain terkenal karena keilmuannya sebagai ulama yang faqih fi’d-din, Malik Ibrahim juga cakap dalam urusan politik dan kenegaraan. Sebagaimana yang dicatat Ibn Khaldun, penyandaran sebuah kata kepada kata ad-daulah dan ad-din sudah muncul sejak Khilafah ‘Abbasiyyah berada di puncak kegemilangannya.

Pada awalnya, para Khalifah ‘Abbasiyyah memberikan gelar khusus kepada para penguasa di dunia Timur Islam yang mengindikasikan sikap tunduk dan ketaatan mereka kepada Khalifah.

Gelar-gelar tersebut di antaranya seperti Syaraf ad-Daulah, ‘Adha’ ad-Daulah, Rukn ad-Daulah, Mu’izz ad-Daulah, Nizham al-Mulk, dan seterusnya.

Yang demikian terus berkembang sampai Khilafah ‘Abbasiyyah melemah dan para pejabat non-Arab menambahkan gelar ad-din kepada gelar mereka sebelumnya, seperti Shalahuddin, Asaduddin, Burhanuddin, dan seterusnya.

Uniknya, gelar lokal seperti “Kakek” dan “Pati” juga disematkan sebagai gelar Malik Ibrahim, “yang juga dikenal sebagai Kakek Pati Bantal” (al-ma’ruf bi-Kakek Pati Bantal). Disebut “Kakek Pati Bantal”, karena menurut tradisi tutur Malik Ibrahim masyhur dikenal sebagai ulama tua yang selalu menaruh bantal sebagai alas al-Qur’an ketika mengisi ceramah umum.

Ada pula yang mengartikan bahwa julukan bantal adalah karena Malik Ibrahim menjadi sandaran yang nyaman bagi masyarakat Jawa dalam pemecahan berbagai problematika hidup mereka. Gelar “Pati” juga mengindikasikan bahwa Malik Ibrahim dipercaya penguasa setempat untuk menjadi pemimpin di tempat berdakwahnya di Gresik, Allahu a’lam.

Pada penghujung inskripsi makamnya, Malik Ibrahim dicatat mangkat pada 12 Rabi’ al-Awwal, 822 tahun semenjak hijrah Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam ke Madinah, atau tahun 1419 Masehi.

Hari wafatnya yang juga bertepatan dengan momen Maulid Nabi ini terjadi kala tampuk Khilafah ‘Abbasiyyah di Kairo dipegang oleh Khalifah al-Mu’tadhid Billah II (k. 1414-1441). Adapun di Kesultanan Sumatera Pasai yang merupakan kekuasaan Islam terdekat dari ibukota Majapahit, yang menjadi penguasa di tahun wafatnya Malik Ibrahim Gresik adalah Malikah al-Mu’azhzhamah Nahrasyiyah bintu Zayn al-‘Abidin bin Ahmad bin Muhammad bin Malik ash-Shalih (k. 1406-1428). []

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *