Bukti Tak Terbantahkan Hubungan Maharaja Sriwijaya Dengan Khilafah

Share the idea

Argumen Fatimi Tentang Identifikasi “Raja India”

Masalah yang kemudian berusaha dipecahkan Fatimi adalah, siapa sesungguhnya “Raja India” yang diriwayatkan mengirim surat kepada Mu’awiyah dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz? Dari sini Fatimi mengemukakan beberapa argumen:

1.Terminologi “India” (al-Hind) pada zaman itu tidaklah terbatas hanya pada negara India yang terletak di Asia Selatan hari ini. Sebagaimana yang disebutkan Muthahhar bin Thahir al-Maqdisi dalam Kitab al-Bad’i wa at-Tarikh, konsepsi masyarakat Muslim zaman itu mengenai India adalah sebagai berikut:

أما جروم الهند فجزائر و سواحل حتى تتصل إلى الصين

“Adapun wilayah luas India, meliputi kepulauan dan pesisir-pesisir yang tersambung sampai Cina.

Dari definisi al-Hind ini mengandung pengertian, bahwa pada zaman itu, seluruh negeri yang terbentang dari India sampai Cina (Asia Selatan dan Asia Tenggara) tetap disebut orang Arab sebagai al-Hind. Penyebutan Nusantara sebagai “Hindia” bahkan terus berlaku sampai 100 tahun belakangan sebelum zaman kita hidup hari ini.

2.Penaklukan yang dilakukan Khilafah Bani Umayyah, sebagaimana yang disebutkan di muka, benar-benar luas dan menyentuh ranah politik penguasa-penguasa dunia dalam skala global.

Walau kekuasaannya sebagai khalifah hanya berumur dua tahun lebih, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz (k. 717-720 M), khalifah Bani Umayyah yang amat terkenal karena keshalehan dan kepiawaiannya sebagai negarawan, tercatat telah berinteraksi dengan penguasa dan masyarakat di segenap penjuru mata angin.

Peta kekuasaan Islam di masa Kekhilafahan Bani ‘Umayyah

Di sebelah barat laut dari Damaskus, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz kerap berkorespondensi dengan Kaisar Leo III di Konstantinopel, mengupayakan agar Kaisar Byzantium tersebut masuk Islam.

Di sisi barat jauh, orang-orang gurun Sahara di kalangan penduduk Maghrib masuk Islam berbondong-bondong. ‘Umar juga mengirim utusan dakwah arah timur laut, yakni ke daerah Ma Wara’ an-Nahr (Negeri di Belakang Sungai [Oxus], maksudnya Transoxania) untuk mendakwahkan Islam di kalangan orang-orang Turki kuno.

Bahkan, sekelas penduduk Tibet yang terisolir di pegunungan Himalaya tercatat meminta Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz agar mengirimkan kepada mereka orang-orang yang dapat mengajari Islam.

Sementara di daerah Sind (Pakistan hari ini) dan Hind (India), ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga meminta penguasa-penguasa di daerah tersebut agar masuk Islam. Ajakan ‘Umar disambut oleh penguasa Sind, Jay Siva, yang ayahnya, Dahir, dulu dikalahkan oleh pasukan jihad Muhammad bin Qasim ats-Tsaqafi di masa gubernur Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi.

“‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menulis surat untuk raja-raja agar menerima Islam dan dan menaati (Khalifah), dengan syarat bahwa mereka akan mempertahankan kekuasaan mereka atas wilayah masing-masing dan berhak atas semua hak yang dinikmati kaum Muslim, sekaligus terikat dengan kewajiban yang sama seperti kaum Muslim. Raja-raja ini telah mengetahui kebaikan rekam jejak dan agama Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Maka Jay Siva dan raja-raja lain masuk Islam, dan mengadopsi nama-nama Arab.”

Al-Baladzuri tidak menjelaskan lebih lanjut siapa yang dimaksud sebagai “raja-raja lain” selain Jay Siva di Sind dan Hind. Hal ini membuka kemungkinan bahwa raja yang dimaksud bisa jadi adalah Maharaja Sriwijaya, penguasa yang tergolong sebagai “Raja India”, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam argumen berikutnya.

3.Redaksi surat si “Raja India”, baik dari riwayat al-Jahizh maupun Ibn ‘Abdi Rabbih, memiliki gaya tipikal surat-surat resmi dari penguasa Nusantara. Surat dengan gaya berbunga-bunga yang mendeskripsikan kehebatan sang penguasa, juga ditemukan dalam surat Sultan Iskandar Muda dari Aceh kepada Raja James I dari Inggris pada 1613:

“Paduka Sri Sultan, Raja Diraja, terkenal karena peperangan yang dilakukannya, dan Raja satu-satunya di Sumatera; dan seorang Raja yang lebih termasyhur dari pendahulu-pendahulunya yang ditakuti di kerajaannya dan dihormati di seluruh bangsa-bangsa yang berbatasan; dalam dirinya terdapat citra sebenarnya dari seorang Raja, yang dalam dirinya berkuasa cara pemerintahan yang sebenarnya; yang istananya terbentuk dari besi paling murni dan dihiasi dengan warna-warni paling indah; yang takhtanya tinggi dan paling lengkap, seperti sungai bening, murni, dan jernih seperti beningnya gelas; dari dirinya mengalir uap murni kemakmuran dan keadilan; yang kehadirannya seperti emas paling murni… dst.”

“Raja India” yang menjuluki dirinya sendiri sebagai Malik al-Amlak (Raja Diraja) dalam riwayat al-Jahizh dan Ibn ‘Abdi Rabbih, menurut Fatimi adalah terjemahan bahasa Arab untuk istilah “Maharaja”.

Di satu sisi, para kartografer Muslim era Umayyah dan ‘Abbasiyyah kerap menjuluki teritori Kerajaan Sriwijaya dengan istilah Mamlakah al-Mahraj atau Jaza’ir al-Mahraj, yang berarti Kerajaan Maharaja atau Kepulauan Maharaja.

“Raja India” atau “Sang Maharaja” ini juga membanggakan kepemilikan hewan di kandangnya berupa “seribu gajah” (alfu filin), yang kita tahu gajah merupakan binatang endemik yang tersebar luas –dalam konteks pembahasan kita– dari Asia Selatan sampai Asia Tenggara, termasuk Sumatera.

“Sang Maharaja” juga menyebutkan dalam suratnya kepada Mu’awiyah dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz keberadaan “dua sungai” (wa al-ladzi lahu nahrani) di wilayah kekuasaannya. Fatimi berpendapat, identifikasi kecocokan dua sungai dalam surat tersebut tidak ditemukan kecuali di Sumatera, yakni sungai Musi di Palembang dan sungai Batanghari di Jambi. Ibukota Kerajaan Sriwijaya diapit oleh dua sungai ini.

4.Sebagai argumen penguat terakhir, Fatimi membandingkan argumen-argumennya dengan sumber-sumber historis Cina. ●

Dalam penemuan Fatimi, pada tahun 724 Masehi sebuah utusan dari She-li-fo-she (Sriwijaya) datang mengunjungi penguasa Cina. Di antara hadiah yang dipersembahkan utusan Sriwijaya kepada penguasa Cina adalah Ts’eng-ch’i (serapan dari kosakata bahasa Arab untuk zanji, yang berarti budak kulit hitam).

Fatimi menduga bahwa zanji tersebut adalah pemberian Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, penguasa yang menjadi “teman baru” bagi Maharaja Sriwijaya yang disebutkan dalam sumber Cina bernama She-li-t’o-lo-pa-mo (Sri Indrawarman).

Dengan argumen-argumen di atas, Fatimi mengemukakan bahwa penguasa Sriwijaya yang berkuasa pada tahun 702-728 dan menggantikan Dapunta Hyang –penguasa pertama Sriwijaya, yakni Maharaja Sri Indrawarman, memiliki korespondensi dengan para Khalifah Bani Umayyah.

Bahkan suratnya kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dalam riwayat Abu al-Mahasin Yusuf bin Taghribirdi menjelaskan bahwa Sri Indrawarman adalah “saudara anda dalam Islam”.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Allahu a’lam bish-shawwab.[]

Sumber: S.Q. Fatimi, Two Letters from the Maharaja to the Khalifah: A Study in the Early History of Islam in the East, Islamic Studies, Vol. 2 No. 1 (1963)

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *