Mengemban Misi Penting Sebagai Sejarawan Muslim
“Tugas sejarawan Muslim bukan lagi menulis sejarah yang sudah banyak bukunya, banyak tulisannya dan banyak artikelnya. Menulis lagi itu, kita hanya mengulang-ulang dari dari yang sudah tak terhitung banyaknya itu. Bila karyanya tak bermutu, makin tak akan penting untuk dibaca.
Dalam konteks Indonesia, bukan pula penulis membuktikan betapa penting dan besar peranan Islam dalam sejarah Indonesia karena sudah banyak sekali buku menulis itu, dari penulis Barat maupun penulis Indonesia. Dari para penulis Barat malah lebih berlimpah, lebih lengkap, lebih tebal, lebih akademis dan lebih dulu.
Sebutlah diantaranya Anthony Reid, MC. Ricklefs, Anthony Milner, George McTurnan Kahin, Denys Lombard, Karl D. Jakcson, Karel Steenbrink, Van Dijk, Robert Herner, Korver, Piets J. Hagen, Kevin W. Fogg, termasuk Snouck Hurgronje, dll. Kepentingan mereka akademis semata, tapi memberi keuntungan bagi objektivikasi sejarah Islam.

Kalau sejarawan Muslim mau berdedikasi dan berkhidmat pada kecendekiaan, transformasi
kesadaran dan kebermanfaatan ilmu, tugas mereka sekarang ada tiga wilayah:
Pertama, menuliskan sejarah Islam yang belum dituliskan.
Kedua, menulis meluruskan sejarah yang dikaburkan dan dikuburkan.
Ketiga, menulis sejarah yang faktanya sudah jelas tapi ditolak karena pengaruh politik yang berusaha mengaburkan dan mendegradasi sejarah Islam.
Hanya di tiga wilayah itu, menulis sejarah Islam akan berjiwa, bermakna, berpengaruh, dan bermanfaat.”
Demikianlah nasihat penting dari guru kami, Drs. Moeflich Hasbullah, MA yang saat ini juga mengemban amanah sebagai dosen sejarah UIN Sunan Gunung Djati.
Nasihat ini jelas meningkatkan semangat atas pelbagai karya yang selama ini dipublikasikan oleh tim KLI. Dengan tema-tema ala KLI yang tak menyentuh tema populer seperti hijrah, cinta, dan Korea, berbagai publikasi KLI memang tak mendapat banyak perhatian.
Tapi, itulah letak keunikannya.
Terlebih, ketika KLI mengangat tema seputar hubungan antara Khilafah dan kaum muslimin di Asia Tenggara. Meski publikasi dengan tema serupa sudah ada, namun jumlahnya tak cukup banyak dan tak mudah diakses oleh kita. Selain karena berbahasa asing, harga publikasinya juga terbilang mahal.

Faktor lain yang membuat tema sejenis tak populer, tentu saja karena narasi penulisan sejarah negeri kita yang tak mengizinkan hal itu terjadi. Sebagaimana yang disampaikan dalam poin ke-3, ini berhubungan dengan “sejarah yang faktanya sudah jelas tapi ditolak karena pengaruh politik yang berusaha mengaburkan dan mendegradasi sejarah Islam.”
Misalnya dalam buku “Sejarah Nasional Indonesia” (yang menjadi rujukan mata pelajaran sejarah dengan tebal sampai 6 jilid ini) menulis kontribusi ‘Utsmani hanya dalam beberapa paragraf saja. Tidak ada pembahasan jejak Khilafah di Nusantara kecuali penyebutan kisah pengiriman armada perang oleh Turki ‘Utsmani yang disertai tentara elit lengkap dengan para ahli pembuat senjata ke Aceh guna menghadang kekuatan Portugis di selat Malaka pada abad ke-16 (Masa kepemimpinan Sultan Salim II).
Penulisan itu pun bahkan sebenarnya tidak dijelaskan dalam perspektif yang tepat, bahwa Turki sejatinya adalah Khilafah yang membantu suatu kekuasaan di Timur yang pada saat itu telah menyatakan ketundukannya sebagai bagian dari Kekhilafahan. Oleh karena itu tidak berlebihan apabila muncul anggapan bahwa memang ada upaya mengubur dan mengabur sejarah Khilafah di Nusantara.
Metode penulisan ini terus berlangsung turun temurun dalam pendidikan sejarah Indonesia. Di masa awal kemerdekaan, sejarah di Indonesia merujuk metode penulisan Belanda-sentris (Nerlandocentris), sehingga sistematika penulisan, tujuan, dan guna penulisan sejarah adalah untuk kepentingan Belanda.
Saat ini, para sejarawan Indonesia menyusunnya menjadi Indonesia-sentris, sehingga informasi sejarah yang disampaikan, diharapkan lebih memihak bangsa Indonesia. Penulisan sejarah yang tidak mengandung semangat ideologis dan dakwah itulah, yang menjadi salah satu faktor terbesar atas rendahnya minat masyarakat terhadap sejarah.
Dengan kondisi itulah, tim KLI berusaha memunculkan pembahasan yang selama ini dikuburkan dan dikaburkan. Tak lain dan tak bukan, adalah tentang Khilafah dan hubungannya dengan kaum muslimin di Asia Tenggara. Tak hanya Indonesia, hubungan ini bahkan mencakup negeri-negeri seperti Malaysia, Brunei, hingga Thailand.
Alhamdulillah, di tahun ke-3 keberadaan @kli.books ini, kami segera menerbitkan buku ke-3 yang diberi judul, “Siyasah Sulthaniyah: Aktivitas Politik Muslimin Jawi dan Khilafah ‘Utsmaniyyah Menentang Penjajah Eropa”

Berikut spoiler bukunya:

Untuk pemesanan, klik https://linktr.ee/kli.books
