Kejahatan Solusi Feminisme atas Kesehatan Reproduksi

Share the idea

Penulis : Shelviana Handayani, S.Tr.Keb

Matanya tampak kosong, meski sedikit terhias pelentik bulu mata. Wajahnya tak menggambarkan seorang Ibu hamil yang bahagia, meski terpoles putihnya bedak, bibirnya kelu menjawab bahkan ketika gincu merah menyala tergores.

Sesekali kuajukan pertanyaan, tapi hanya gelengan kepala atau tatapan bias tanpa makna. Perempuan yang belum genap usia 18 tahun itu pun tak pernah yakin tahu dengan apa yang terjadi pada tubuhnya atau dengan kondisinya.

Dia yang bahkan tak pernah tamat SD di era milenial berkibar, di zaman wajibnya pendidikan dasar 9 tahun. Dia yang hanya mampu tersenyum sebentar lalu terdiam membisu manakala dijelaskan mengenai kondisi kehamilannya yang memasuki usia 5 bulan.

“Nikahnya Baru kemarin bu bidan, bukan suaminya yang menghamilinya! “

Ucapan kader itu membuat terhenyak, bagaimana bisa?

“Dia korban bu bidan, kita bahkan tak tahu siapa bapaknya, tak tahu pelakunya sendiri atau banyak lelaki. Yang jelas, dia dikunci dan dikerjain, laki-lakinya entah kemana sekarang.., kabur. Tapi karena bodohnya, maklum bu bidan agak-agak kurang… baik dari pengetahuan maupun ekonominya…“

Lagi…

Ini yang tak akan pernah bisa kita hindari, pernyataan yang jauh bahkan di luar nalar kita. Seperti sesuatu yang menghantam dengan keras pada saat jantungmu berdetak.

Sakit…

Ini satu dari beragam mirisnya sebuah cerita hidup remaja-remaja kita di antara ribuan kisah mereka, dari yang keluar sekolah karena kehamilannya, hingga pernyataan nyeleneh yang membuatmu berlinang air mata.

“Iyalah bu bidan, kalau ga mau hamil dikeluarinnya di luar aja…“

Pernyataan itu keluar dari mulut seorang remaja,yang saat seusia mereka saya masih sibuk menghafal rumus fisika hingga menulis cerita.

Lalu apa yang melatarbelakangi semua cerita dan berita tentang kondisi remaja kita saat ini?

Kesehatan reproduksi harus dipahami dan dijabarkan sebagai siklus kehidupan (life cycle) mulai dari konsepsi sampai mengalami menopause dan menjadi tua. Hal ini berarti menyangkut kesehatan balita, anak, remaja, ibu usia subur, ibu hamil dan menyusui, dan ibu yang menopause. Setiap tahap dalam siklus kehidupan itu memiliki keunikan permasalahan masing-masing.

Keunikan permasalahan yang seharusnya diatasi, melihat beberapa kasus bisa jadi banyak digoreng garing hanya untuk kepentingan tertentu, terlebih untuk menyokong ide-ide liberal yang sudah kebablasan.

Feminisme liberal melihat diskriminasi terhadap kebebasan menjadi dasar terjadinya penindasan. Dalam hal ini, ketidakbebasan remaja mengeksplorasi diri, sulitnya memperoleh informasi dan kesempatan pendidikan, baik secara umum maupun yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi, membuat remaja kekurangan wawasan dan akhirnya terabaikan hak-haknya, termasuk hak atas kesehatan reproduksinya.

Katanya…

Upaya mereka lebih mengedepankan solusi pada satu sisi, tanpa memandang sisi lain, sebab-akibat atau bahkan tak pernah mengakar dalam pencarian solusi. Isu yang digaungkan justru menabrak tak hanya tatanan budaya ketimuran tapi juga bingkai syari’at secara keseluruhan.  Alih-alih memberi solusi tapi justru menenggelamkan dalam kehinaan, berkata melindungi tapi nyatanya berakhir eksploitasi.

Remaja yang merupakan bagian dari siklus kehidupan, memegang peranan penting sebagai generasi penerus. Perannya yang kini semakin tergerus, menambah pilu permasalahan sesungguhnya. Dari kenakalan remaja hingga permasalahan kesehatan reproduksi, dari kehamilan tidak diinginkan hingga tindakan aborsi, dari seks bebas hingga kasus penyakit menular seksual. Semua butuh perhatian khusus, tak lagi hanya sebuah wacana atau ungkapan “bukan urusan saya”.

Hari ini, pendidikan kesehatan reproduksi remaja telah salah kaprah. Mengenalkan organ reproduksi tanpa mengenalkan ketaatan pada yang menciptakannya. Menghujani dengan perolehan hak-hak mereka tanpa ketundukan pada Rabb nya. Menuntut legalitas seksual dengan menabrak norma. Mengusung kesetaraan gender tanpa memburu nilai takwa sesungguhnya.

Kisah pilu yang terangkat mungkin segelintir dari yang terjadi sebenarnya. Hak reproduksi remaja dibahas sangat mendalam pada International Youth Forum yang diadakan di Den Haag bulan Februari 1999 dan diikuti oleh 132 peserta remaja dari seluruh dunia. Forum ini secara khusus menekankan perlunya keikutsertaan remaja dalam seluruh kebijakan politis yang mempengaruhi kehidupan mereka, mulai dari segi desain, implementasi sampai evaluasi, serta mendesak diprioritaskannya alokasi dana dan sumber-sumber bagi kesehatan reproduksi remaja.

Tanpa mengenyampingkan peran agama, kesehatan reproduksi bahkan sudah jauh dibahas dalam sistem Islam jauh bahkan sebelum International Youth Forum diadakan. Menjadikannya terhormat tanpa harus menanggalkan identitas. Menjadi sehat tanpa harus melanggar batasan norma.

Bagaimana pengaturan itu seindah realisasinya. Sejak bertemunya mani dan sel telur hingga bayi, remaja, dewasa bahkan lansia sekalipun, terdidik sempurna nya setiap fase kehidupan. Bagaimana adabnya menggauli, bersuci, menyusui, mengenalkan aurat, mengenalkan mahram, mengenalkan identitas diri, baligh, memisahkan tempat tidur, memilih pasangan, dan seterusnya. Hal-hal tersebut sangat berkaitan erat bahkan dengan kesehatan reproduksi, bukan sekedar jasmani tapi ada sisi lain yaitu ruhiyah yang harus terpenuhi dan itu tidak akan pernah didapatkan pada penyokong ide liberal.

Maka, kembalinya pada aturan islam yang kaffah menjadi satu-satunya jalan ketika kesehatan reproduksi dianggap menjadi bagian penting dari kehidupan. Mencari solusi yang bukan untuk menyelesaikan satu persatu masalah cabang tapi mengakar hingga tercabut seluruh masalahnya. Wallahu a’lam.[]

Sumber:

dr. Fauzan Muttaqien, dkk. 2018. Menggagas Kesehatan Islam. Kaaffaah Penerbit: Solo.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *