Mengapa Sepak Bola Adalah Permainan Terlarang di Masa Khilafah ‘Utsmaniyyah?

Share the idea

“The modern football was played in Selanik (now Thessaloníki) in the Ottoman Empire in 1875 by the English people living there

The first club was established in İzmir with a name “Football Club Smyrna” – Smyrna was the English name for İzmir. Some of the English man brought the football with them to İstanbul when they moved from İzmir, in 1895. They played the game at Kadıköy and Moda.”[1]

Ada sebuah pernyataan menarik dari sejarah sepak bola di masa Khilafah ‘Utsmaniyyah. Bahwa, olahraga tersebut diperkenalkan oleh orang-orang Inggris yang saat itu, sedang tinggal di wilayah Thessaloníki (saat ini termasuk wilayah Yunani. Namun dahulu, wilayah ini merupakan bagian dari Khilafah ‘Utsmaniyyah).

Pertanyaannya, mengapa ada orang-orang Inggris yang bermain bola di Selanik, yang saat itu merupakan wilayah ‘Utsmaniyyah?

Sebab, Selanik (yang juga merupakan tanah kelahiran Mustafa Kemal Ataturk)[2] memang dikenal sebagai pemukiman para imigran non-muslim yang dilindungi oleh Khilafah, yang eksis sejak abad ke-15.[3]

Majalah National Geographic pada 1916 menampilkan potret orang-orang Yahudi di Selanik yang sedang membaca koran. [4] Mereka juga mengenakan fez, kopiah merah asal kota Fez di Maroko yang diadopsi ‘Utsmaniyyah.[5]

Di wilayah inilah, Sultan Bayazid (putra dari Sultan Muhammad al-Fatih) melindungi Yahudi Andalusia yang lari dari penganiayaan pemerintahan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella pasca Reconquista. Perlindungan sejenis terus dilakukan oleh para penguasa ‘Utsmaniyyah setelahnya.[3]

Dari orang-orang Inggris ini pula, popularitas si kulit bundar terus menanjak dan berkembang khususnya di kalangan penduduk non-muslim. Setelah membentuk FC Smyrna sebagai klub bola paling awal pada 1894, pertandingan antar kota pertama dimainkan pada 1897 antara kota Izmir (FC Smyrna) melawan Istanbul (Constantinople FC).[1]

Uniknya, mayoritas pemain dan kru yang terlibat dalam pertandingan adalah non-muslim, khususnya orang-orang Inggris, Yunani, Armenia, dan Yahudi.[1] Sebab, bagi umat Islam di masa itu, sepak bola bukan hanya dipersepsikan sebagai permainan Barat. Namun juga hanya dianggap sebagai olahraga yang tujuannya adalah kebugaran, bukan permainan yang dikompetisikan apalagi menjadi ajang perjudian.

Maka tak heran. Jika Sultan Abdul Hamid II yang berkuasa saat itu, memang tidak mengizinkan umat Islam ikut berkompetisi dalam ajang sepak bola.[6] Pada 1901 misalnya, ketika klub pertama yang diisi dan dibentuk oleh kaum muslimin mengikuti pertandingan dengan nama Inggris “Black Stocking FC”, di tengah pertandingan, polisi Khilafah menginterupsi dan menangkapi para pemainnya.[7] Klub itu kemudian dibubarkan pasca pertandingan pertamanya.[8]

Penggunaan nama berbahasa Inggris ini memang disengaja agar tim mereka lolos dari mata-mata Sultan Abdülhamid II. Dua tahun sebelumnya, cara serupa juga dilakukan oleh seorang tentara muslim ‘Utsmaniyyah bernama Fuat Hüsnü Kayacan. Ketika ia ikut bermain bola di tim Cadi-Keuy (pelafalan Inggris untuk kawasan Kadıköy), ia mendaftarkan namanya atas nama “Bobby”, bukan dengan nama aslinya.[9]

Gambar di samping adalah foto Cadi-Keuy FC yang mayoritas pemainnya non-muslim.[10]

Di masa awalnya, kaum muslimin memang dilarang ikut dalam kompetisi Bola. Walhasil, muslim yang nekat ikut, harus menggunakan nama samaran.

Mayoritas nama klub bola juga menggunakan pelafalan Inggris. Smyrna FC untuk kota Izmir, Constantinople FC untuk Istanbul, dan Cadi-Keuy untuk Kadıköy.
Ini adalah potret Constantinople FC dengan sablon “CFC” di bagian dada seragamnya.[11]

Nama klub dari kota Izmir (Smyrna) maupun Kadıköy (Cadi-Keuy) tetap tercantum mirip dengan nama ‘Utsmani-nya. Khusus Istanbul, nama yang digunakan adalah Constantinople.
Black Stocking FC bubar pasca pertandingan pertamanya, yakni 26 Oktober 1901. Meski menggunakan nama Inggris untuk mengelabui intelijen Sultan, para pemain ‘Utsmani bertanding dengan tetap menjaga auratnya. Hal ini sangat berbeda dengan klub bola non-muslim.[8,9] Bahkan ada juga yang berpendapat, bahwa nama “stocking” merujuk pada penggunaan celana panjang kaum muslimin.[12]

Seiring meningkatnya euforia masyarakat, belakangan Sultan Abdul Hamid II memerintahkan polisi-polisinya untuk menginterogasi kaum muslimin yang terlibat kompetisi bola tersebut.

Sultan akhirnya membolehkan berdirinya klub sepak bola muslim dengan catatan. Bahwa sepak bola – sama dengan cabang olahraga lain seperti anggar, senam, hingga angkat besi – hanya boleh dilakukan sebagai olahraga untuk menjaga kebugaran, bukan permainan dengan berbagai unsur haram di dalamnya.[13]

Oleh karena itulah, meski klub boleh berdiri, namun kaum muslimin tetap dilarang ikut dalam kompetisi. Misalnya ketika diadakan “Istanbul Football League” pada 1904 yang diinisiasi oleh James La Fontaine dan Henry Pears dengan pertandingan yang digelar setiap hari Minggu, klub-klub olahraga Khilafah dilarang ikut serta. Klub yang ikut adalah klub-klub non-muslim seperti Cadi-Keuy, Moda, Elpis, dan Imogene FC. Di Olimpiade Athena 1906, klub yang ikut adalah Smyrna Thessaloniki FC yang juga berisikan non-muslim. Padahal, Beşiktaş sudah berdiri sejak 1903.[1]

Lantas, kapan klub-klub bola Khilafah boleh mengikuti kompetisi?

Mereka hanya bisa ikut kompetisi pasca Sultan Abdul Hamid II tak lagi menjadi Khalifah. Pasca Revolusi Turki Muda dan penggulingan Sultan, meski jabatan Khalifah masih ada dan diampu oleh Sultan Mehmed V Resyad, namun pemerintahan ‘Utsmaniyyah sebenarnya dikendalikan oleh kalangan Turki Muda dan al-ittihad wa al-taraqqi yang berhaluan liberal.[14]

Tokoh penting Turki Muda, Talat dan Enver Paşa (pojok kiri-kanan) dan Kolonel Halil Sami Bey (tengah) bersama aktivis Zionis, Alfred Nossig (kedua dari kiri).

Di masa-masa itulah, klub yang beranggotakan kaum muslimin ikut berkompetisi dalam Liga Jum’at Istanbul pada 1912 yang dimainkan setiap hari Jum’at.[1]

Seiring semakin maraknya sekularisme dan penghilangan berbagai atribut kaum muslimin termasuk bahasa Arab, banyak klub olahraga Turki yang menyesuaikan sistem – mulai dari logo hingga atribut berpakaian. Logo klub Galatasaray misalnya, pada 1905-1923 menggunakan hijaiyah Ghayn dan Syin. Logo itu kemudian diubah dengan alfabet Eropa G dan S.[15]

Membaca sejarah tersebut, tentu menjadi renungan menarik. Di satu masa, sepak bola pernah dipandang dengan niat sebagai sarana kebugaran. Di masa yang lain, harus diakui bahwa sepak bola justru seringkali menjadi hiburan yang melalaikan.

Perbedaan ideologi adalah faktor pembeda utamanya.

Sumber dan Referensi Bacaan

[1] Informasi sejarah masuknya sepakbola di dalam Khilafah ‘Utsmaniyyah, termasuk orang-orang non-muslim (baik dari Inggris, Yunani, maupun Armenia) yang menjadi pemain kompetisi sepak bola di masa Khilafah, dapat dibaca di https://www.wikiwand.com/en/History_of_Turkish_football

Hanya saja, tahun pendirian awal Smyrna FC ada yang berbeda, yakni 1894 atau 1895. Pendapat yang menuliskan 1894 adalah https://en.wikipedia.org/wiki/Smyrna_F.C.#History

[2] Bacaan berbahasa Indonesia yang cukup lengkap terkait Mustafa Kemal Ataturk dapat ditemukan dalam buku: Dhabith Tarki Sabiq. 2008. Kamal Attaturk: Pengusung Sekulerisme dan Penghancur Khilafah Islamiah. Senayan Publishing: Jakarta. Kelahiran Mustafa Kemal di Selanik juga dicantumkan di Ataturk Museum yang berada di Thessaloniki.

[3] Ini adalah hal yang sangat populer dan banyak dibahas. Lebih khusus dapat dibaca dalam https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_Jews_in_Thessaloniki#Under_the_Ottomans maupun https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_Jews_in_Turkey dengan daftar pustaka terkait

[4] https://www.ottomanhistorypodcast.com/2017/05/jewish-salonica.html

[5] KLI pernah membahas hal ini dalam artikel https://literasiislam.com/dari-maroko-hingga-portugal-mengungkap-kejayaan-islam-yang-tersembunyi/

[6] https://jonturk.tv/ii-abdulhamitin-futbol-yasagini-bobby-olup-deldi/ dan https://www.milliyet.com.tr/molatik/spor/futbol-nasil-dogdu-futbol-osmanliya-nasil-geldi-88578

[7] https://www.angelfire.com/nj/sivritepe/5758/tl.html

[8] https://en.wikipedia.org/wiki/Black_Stockings_F.C.

[9] https://jonturk.tv/ii-abdulhamitin-futbol-yasagini-bobby-olup-deldi/

[10] https://en.wikipedia.org/wiki/Cadi-Keuy_F.C.

[11] http://www.levantineheritage.com/football.htm

[12] https://www.youtube.com/watch?v=_IhPSWcP2t8&list=PL7krKgNqTG7LQz0UPxWg1DSd07pggncN6&index=10

[13] Saat itu, berbagai perkumpulan politik yang mengarah pada aksi-aksi penentangan keputusan Sultan memang banyak dilarang. Namun, pelarangan terhadap bola bukanlah karena kecurigaan mata-mata Sultan atas perkumpulan-perkumpulan klub bola itu, melainkan karena sepak bola saat itu memang terlarang dan dibenci (sebagaimana pernyataan-pernyataan yang sudah disampaikan sebelumnya). Kecenderungan kaum muslimin, khususnya militer yang menjadikan olahraga sebagai sarana kebugaran dan kompetisi, adalah kesimpulan atas berbagai bacaan sebelumnya, termasuk bacaan dalam artikel seperti https://sarpkayalar.tripod.com/id10.html

[14] Infiltrasi sekularisme dan pengaruhnya bagi arah politik umat Islam, sangat seru disimak dalam buku karya Nicko Pandawa, “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda” yang diterbitkan Komunitas Literasi Islam (Bogor) pada 2021.

[15] https://logos-world.net/galatasaray-logo/

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *