Mengapa Soeharto Mendekat pada Islam di Akhir Era Orde Baru?

Share the idea

Berbagai Konflik Internasional yang Mulai Mereda

Perang Vietnam telah selesai, rezim-rezim komunis juga berhasil ditumbangkan. Sehingga, wacana pemikiran Islam mulai memiliki ruang untuk muncul dan mendapatkan momennya di tahun 80-an.

Di belahan dunia lain, juga terjadi Revolusi Islam di Iran dan Perang Soviet-Afghanistan yang menjadi pemicu gejolak persatuan Islam, meski di saat yang sama hal ini juga menjadi momen bagi Amerika untuk memukul Uni Soviet di Afghanistan melalui Arab Saudi dan Pakistan. Gerakan-gerakan Islam mulai muncul ke permukaan, seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Al-Qaeda, dan tak lupa juga gerakan intelektual seperti Syed Naquib al-Attas dari Malaysia.

Kepulangan Tokoh-Tokoh Intelektual Muslim dari Luar Negeri dan Maraknya Dakwah Budaya

Setelah tahun 60-an (pasca runtuhnya Orde Lama dan munculnya Orde Baru), HMI yang ditekan selama masa akhir Orde Lama kemudian dianggap berjasa melalui manuvernya dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa yang berhasil menjatuhkan Orde Lama dan menjadi penopang Orde Baru. Walhasil, banyak kader-kader HMI yang diberi kesempatan belajar ke luar negeri, seperti Nurcholish Madjid dan Amien Rais yang belajar di Amerika. Dan di tahun 80-an, mereka sudah pulang kembali.

Tentu saja, selain nama-nama tersebut masih banyak cendekiawan muslim Indonesia yang “pulang kampung”. Sebagian kemudian mengabdi di kampus dan atau menjadi pengisi di berbagai seminar keislaman yang diadakan oleh kampus-kampus negeri. Kajian ini bahkan lebih gencar dilakukan di kampus seperti UGM, ITB, IPB, UNAIR, UNPAD, UB, maupun IKIP yang notabene bukan IAIN. Meski membawa corak Islam yang berbeda-beda, fenomena ini tetap meningkatkan semangat berislam, terutama di kalangan mahasiswa.

Di sisi lain, B.J Habibie sebagai sosok intelektual dengan latar belakang keislaman yang cukup kuat, diminta pulang oleh Soeharto dan dipercaya untuk memimpin proyek-proyek teknologi di Indonesia.

Atas berbagai faktor ini, kajian Islam di PTN maupun perkantoran seperti Kemenristek mulai masif. Gerakan malari yang cenderung sosialis pun tiarap dan digantikan dengan gerakan-gerakan Islam yang mengambil momen dan kesempatan.

Hal ini selaras dengan yang disampaikan Ibnu Khaldun, bahwa setiap tokoh pasti ada zamannya. Misalnya di masa HOS Tjokroaminoto, para ulama al-Azhar atau ulama Haramain lah yang menjadi patokan, sebagaimana yang terjadi pada sosok Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani.

Lain halnya dengan masa Tjokroaminoto, tahun 80-an menjadi momen bagi para cendekiawan kampus untuk mulai mengenal dan membahas pemikiran tokoh-tokoh seperti Hassan al-Banna, Taqiyuddin an-Nabhani, Naquib al-Attas, serta Imam Khomeini. Pembahasan ini tentu saja aman, karena didukung penuh oleh rektorat. Padahal sebelumnya, kajian keislaman harus dilakukan sembunyi-sembunyi, termasuk dengan menutup sampul buku dengan koran dan menyembunyikan sandal.

Dari sisi budaya, Rhoma Irama juga meningkatkan semangat keislaman melalui dangdut, sebagaimana lagu-lagunya yang menyinggung persatuan Islam dan fenomena kerudung. Hal ini ternyata sangat membekas di masyarakat Indonesia, terutama di pedesaan.

Maka, semangat berislam di akhir masa Orde Baru sangat dipengaruhi oleh gerakan intelektual dan budaya, meskipun perlahan. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat dampak sekularisasi di seluruh dunia Islam yang sangat terasa. Bahkan di dunia Arab sekalipun, sudah jarang perempuan yang menggunakan kerudung, termasuk di al-Azhar yang cukup jarang ditemukan muslimah yang mengenakan jilbab syar’i.

Usia Soeharto yang Semakin Sepuh

Sebagai seorang Jawa tulen yang juga penganut kejawen, Soeharto menganggap kematian sebagai momen terpenting yang harus berakhir husnul khotimah. Bahkan di kalangan Jawa muncul istilah “Madeg Pandito”, yaitu kebiasaan para Raja Jawa untuk banyak bertapa ketika sepuh.

Semakin tua, orang-orang kejawen, abangan, maupun priyayi ingin agar orang-orang yang mendampinginya itu kalangan santri – termasuk Soeharto. Maka, terjadilah perubahan besar di tubuh angkatan bersenjata (ABRI). Muncullah nama Jenderal Try Sutrisno, Jenderal Raden Hartono dan Jenderal Feisal Tanjung yang cenderung condong pada Islam. Meski marginalisasi tetap ada, namun rasa kebanggaan terhadap Islam itu kian nampak.

Di akhir tahun 80-an, gerakan keislaman – terutama di kampus-kampus besar seperti ITB, UGM, IPB, UNAIR, dan UNDIP – sudah sedemikian kuat. Maka, muncul gagasan untuk membentuk ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). 

Bola salju pun semakin menggelinding. Beberapa tokoh nasional seperti Kuntowijoyo kemudian mencoba bernegosiasi dengan Habibie agar dapat membujuk Soeharto untuk meresmikan ICMI. Langkah ini tentu saja berhasil.

Pada akhirnya, orang-orang di sekeliling Soeharto adalah tokoh-tokoh Islam, seperti Mar’ie Muhammad (yang dijuluki sebagai Mafia Barkeley) dan Harmoko yang menggagas kajian-kajian keislaman melalui Golkar hingga ke desa-desa. Meski secara kebijakan masih kapitalis, namun inilah momen bulan madu antara pemerintah dan umat Islam.

Kedekatan Soeharto dengan kalangan Islam menjadikan banyak kebijakannya yang direvisi, seperti penghapusan SDSB (sebagai representasi judi legal), penghapusan pelarangan kerudung, kemunculan bank syari’ah (yang diinisiasi oleh Bank Muamalat), serta MUI yang diberi kewenangan lebih.

Bahkan dalam peristiwa Srebrenica (genosida muslim Bosnia), Soeharto turut mengirim senjata dan berkunjung langsung ke sana. Tak tanggung-tanggung, Soeharto bahkan membangun sebuah Masjid sebagai hadiah Indonesia kepada muslim Bosnia. Masjid ini dikenal sebagai Masjid Istiqlal Sarajevo (Istiklal Dzamija).

Sebagai tindak lanjut kunjungannya, Soeharto melalui para intelnya menyebarkan kaset-kaset yang memberitakan kabar terbaru peristiwa tersebut ke kampung-kampung, bahkan hingga melakukan penggalangan dana. Kunjungan ini tercatat sebagai kunjungan yang begitu berani, di tengah peperangan yang berlangsung sangat brutal. Kondisi berbahaya tersebut ditunjukkan dengan sikap PBB yang meminta Soeharto menandatangani pernyataan kesediaan kematian sebelum berangkat, karena tak mampu menjamin keamanannya.

Keberanian ini bahkan tak dapat dibandingkan dengan para pemimpin negeri-negeri Islam saat ini. Padahal, baik NATO maupun PBB telah memberikan berbagai ancaman. Jika hari ini ada wacana pemimpin negara A maupun B yang beretorika atas masalah Uighur dan Rohingya, maka belum ada yang senekat Pak Harto. Di masa inilah, Burma tidak berani melakukan apapun terhadap Rohingya. Bahkan beliau juga menganjurkan pembubaran OKI karena tidak melakukan apapun.

Perkembangan dakwah Islam semakin pesat pasca reformasi. Di tahun 2000-an, hanya beberapa tahun setelah reformasi, istilah Khilafah sudah bisa didengar di berbagai media. Promosi atas istilah ini kemudian semakin semarak dengan munculnya fenomena War on Terrorism pada 2001, yang dilalahnya, justru menyebabkan banyak orang semakin penasaran dengan Islam. []

Sumber:

Drs. Abdul Azis Thaha, M.A. 1996. Islam dan Negara dalam Politik Orde Baru. Gema Insani Press: Jakarta.

Redaksi KPG dan Penerbit Kompas. 2018. Kita Hari Ini 20 Tahun Lalu. Kepustakaan Populer Gramedia: Jakarta.

Salim Haji Said. 2018. Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno, dan Soeharto. Mizan: Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *