Manuver Politik PKI: Proklamasi Republik Soviet Indonesia

Share the idea

Ketika Eropa tenggelam dalam kungkungan kekuasaan gereja dan separuh dunia menikmati cahaya Peradaban Islam, ide Materialisme tiarap. Saat gelombang aufklarung (zaman pencerahan) membuka Eropa dan berhasil menjungkalkan kekuasaan gereja, ide ini mulai menggeliat.

Muncullah para pemikir-pemikir ternama seperti Freud, Nietzsche, Bakunin, Engels, Feurbach, dan lain sebagainya. Ide ini mencapai titik puncaknya ketika seorang pemikir kelahiran Trier (Jerman) ‘bersabda’, “bahwa para filsuf selama ini memikirkan dunia, sekarang saatnya mengubah dunia”.

Karl Marx mendialektikan Materialisme dan melahirkan Tesis XI tentang Feuerbach, Dialektika Materialisme, dan Manifesto Komunis. Semua ide Marx ini kemudian diterapkan oleh gerakan buruh Russia atau Bolshevic di bawah pimpinan Vladimir Illich Ulyanov alias Lenin. Paska Perang Dunia I mereka melakukan revolusi di Rusia, kekuasaan Tsar terguling dan kekuatan anti Tuhan lahir dengan nama Uni Soviet.

Sebagai negara yang mengemban ideologi, Uni Soviet dengan gamblang mengutuk negara-negara kapitalisme Eropa. Soviet dengan kekuatannya juga mulai menyebarkan paham Sosialisme-Komunis ke seluruh dunia serta membentuk Uni Komunisme Dunia (Komintern). Target awalnya adalah memerahkan Eropa, namun gerakan Komunisme justru bersemi dan merekah di dunia ketiga yang merupakan tanah-tanah jajahan imperialisme Eropa. Adalah Henk Sneevliet, seorang buruh berkebangsaan Belanda yang membawa Komunisme ke Indonesia atau yang saat itu masih bernama Hindia Belanda. Bisa dikatakan Sneevliet adalah Fransiscus Xaverius-nya Komunisme karena ‘dakwah’-nya berhasil dan diterima oleh kalangan pribumi Indonesia. Gerakan Komunisme di awal-awal ini bahkan mampu melakukan infiltrasi pada gerakan politik terpopuler saat itu; Sarekat Islam.

SI terpecah menjadi dua, SI Merah yang merupakan infiltran gerakan Komunis dan SI Putih yang masih berpegang pada aqidahIslam. Pada akhirnya atas usul H. Agus Salim, SI melakukan rasionalisasi dan menyebabkan seluruh anggota SI Merah hengkang dan membentuk Sarekat Rakyat. Sarekat Rakyat inilah cikal-bakal PKI, tokoh-tokohnya antara lain Semaun, Darsono, Alimin, H. Misbach, dan Mas Marco Kartodikromo.

Gerakan Komunis yang memiliki ciri radikal, penuh pemberontakan, dan melegalkan kekerasan pada akhirnya meresahkan pemerintah Hindia Belanda. Berbagai aksi pemogokan serta kerusuhan yang melanda Hindia Belanda saat itu selalu bermula dari hasutan PKI. Pada akhirnya pemerintah bertindak tegas dengan memberangus PKI. Tokoh-tokohnya banyak dijebloskan ke penjara, dibuang ke Digul, diasingkan ke Belanda bahkan tidak sedikit yang hengkang ke Uni Soviet, Sneevliet sendiri hengkang menuju kawasan Tiongkok. Hengkangnya para petinggi PKI ke Soviet seperti Semaun, Alimin, dan Darsono justru menjadikan mereka sebagai ‘guru rakyat’ yang mendidik kader-kader Komunis dari Tiongkok, Vietnam, Korea serta kawasan Asia Tengah, termasuk kader-kader Komunis dari Indonesia yang belajar langsung ke Uni Soviet.

PKI sendiri telah tiarap ditambah kedatangan balatentara Jepang yang menginvasi Hindia Belanda pada saat gelaran Perang Dunia II. Sebagaimana sekutunya yaitu NAZI Jerman, kekuatan Ultra Nasionalis Jepang juga sangat membenci Komunisme. Namun apalah arti sebuah peluru yang tajam, karena ia tidak akan mampu mencabut ideologi yang telah menancap di kepala.

Seiring dimulainya era baru perpolitikan Indonesia yang ditandai oleh Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, gerakan Komunis mulai bersemi kembali pasca tidur panjangnya.

Di awal kemerdekaan setidaknya terdapat dua kutub. Pertama, kutub yang digerakkan oleh para tokoh-tokoh jebolan Eropa yang terpengaruh filsafat dan ide-ide Sosialisme Marxian dan kontra terhadap kediktatoran proletarian ala Uni Soviet. Tokoh-tokoh ini pada akhirnya bergabung dengan gerakan nasionalis Indonesia dan atau membentuk Partai Sosialis Indonesia. Mereka antara lain adalah Sutan Syahrir, Sutan Takdir Alisyahbana, Moh. Hatta, Soe Hok Gie, serta Soemitri Djojohadikusumo. 

Kedua, adalah anggota dan simpatisan PKI serta kader-kader Komunisme Soviet. Mereka sangat aktif melakukan gerilya politik dan menggalang kekuatan untuk memerahkan Indonesia. Mereka antara lain, Amir Syarifuddin, Tan Malaka, dan nanti disusul oleh Musso yang telah menyelesaikan pendidikannya di Moscow.

Kebuntuan politik paska penandatanganan Perjanjian Renville ditambah tekanan balatentara Belanda kepada Republik Indonesia menjadi momen bagi PKI untuk unjuk gigi. Musso yang baru datang dari Moskow mendapat mandat langsung dari Soviet untuk menkosolidasikan kelompok-kelompok Kiri. Bersama Amir Syarifuddin yang baru saja dijatuhkan dari kursi Perdana Menteri, mereka membentuk apa yang disebut sebagai “Komite Front Nasional”, sebuah komite persiapan untuk revolusi. Mereka berencana melakukan berbagai aksi-aksi di kota-kota mulai Surakarta hingga Jombang, serta menyusup ke kubu tentara dan mengadu domba mereka.

Aksi mereka dimulai di Surakarta pada Agustus 1948 dengan melakukan penculikan serta pembunuhan terhadap tokoh-tokoh yang tidak sejalan dengan mereka. Meski aksi mereka awalnya dapat ditumpas oleh Divisi Siliwangi, intensitas gerakan PKI terus meningkat hingga pada 18 September 1948, mereka berhasil menguasai Madiun dan memproklamasikan Republik Soviet Indonesia. Madiun segera menjadi killing field  bagi pihak yang oleh kaum Komunis dianggap sebagai kaum kontra revolusioner.

Pemerintah yang dalam hal ini TNI di bawah Jenderal Soedirman membentuk daerah operasi militer di seluruh Jawa Timur di bawah pimpinan Kol. Soengkono. Di bawah ancaman invasi militer Belanda, operasi penumpasan PKI dilaksanakan di bawah pimpinan Kol. AH. Nasution. Penumpasan tersebut berhasil menghancurkan kekuatan PKI dan sebagian besar pemimpinnya seperti Musso, Amir Syarifuddin, dan Tan Malaka ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Untuk kesekian kalinya, PKI kembali ‘tertidur’ dan menjadi gerakan bawah tanah. []

Sumber :

Beggy Rizkiansyah, dkk. 2017. Dari Kata Menjadi Senjata : Konfrontasi Partai Komunis Indonesia dengan Umat Islam. Penerbit Jurnalis Islam Bersatu (JITU): Jakarta.

Salim Haji Said. 2015. Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno, dan Soeharto. Mizan Pustaka. Bandung.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *