Dukungan Masyarakat Hindia-Belanda atas Seruan Jihad Khilafah

Share the idea

Ketika Perang Dunia I meledak pada 1914, Sultan Mehmed V (Khalifah setelah Abdülhamid II), menyatakan keikutsertaan negaranya dalam perang tersebut di pihak Jerman dan Austria sekaligus mendeklarasikan ‘jihad’ bagi seluruh kaum Muslimin di seluruh dunia.

Istanbul juga menyebarluaskan agenda ‘perang suci’ ini melalui konsulat-konsulatnya yang berada di negeri-negeri kaum Muslim di bawah penjajahan Eropa (Inggris dan Prancis), seperti Singapura, Penang (Malaysia), Swahili (Afrika Timur), dan tak terkecuali Batavia (yang berada di bawah penjajahan Belanda). Terjadi perang urat syaraf antar konsul Inggris yang bergabung bersama konsul Prancis dan Rusia terhadap konsul Jerman yang berkoalisi dengan konsul Utsmani.

Belanda yang menyatakan sikap netralnya dalam Perang Dunia I tidak mau ikut-ikutan dan mengambil resiko dalam konflik antara negara Sekutu dengan pihak Khilafah Utsmani-Jerman. Namun, Belanda tetap waspada khususnya dengan seruan jihad Sultan Mehmed V yang sangat dikhwatirkan dapat membangkitkan perlawanan kaum Muslim di Hindia Belanda, sehingga mengancam eksistensi kekuasaan Belanda.

Tatkala sebuah pamflet yang dicetak di Istanbul pada Desember 1914 menyeru kepada “Muslim Jawa” untuk membangkang kepada kekuasaan kafir, Belanda kelabakan dan segera mengklarifikasi ke Istanbul dengan mengungkit posisinya yang netral dalam Perang Dunia I. Akhirnya Istanbul mengoreksi seruannya enam bulan kemudian.

Rafet Bey selaku konsul Utsmani di Batavia ditugaskan secara khusus oleh Khalifah untuk membentuk opini umum di tengah-tengah kaum Muslim Hindia Belanda, kemudian meminta mereka untuk terus memberikan dukungan agar Khilafah Utsmani mendapatkan kemenangan dalam Perang Dunia I.

Rafet Bey banyak menulis artikel di koran-koran terbitan Sarekat Islam, seperti koran Pantjaran Warta dalam bahasa Melayu yang isinya berupa pesan dari Sadrazam (Perwakilan) Khilafah, Said Halim Pasha.

“Untuk kemajuan dan kejayaan kekuatan angkatan laut kita yang bertempur untuk kepentingan Allah di selat Dardanella, Dewan Kementrian berharap agar Sri Paduka Sultan ditambah namanya dengan gelar Gazi…”

Akhirnya Rafet Bey melaporkan kembali ke Kementerian Luar Negeri Khilafah pada 11 Juni 1915 bahwa “dalam sebuah khutbah yang jelas selama salat Jumat kemarin di Masjid Agung Batavia, sang khatib menyebut Khalifah kita yang agung dengan gelar Gazi…”, di samping mendoakan akan kemenangan pasukan Muslim dan panjang umur untuk Khalifah. Deklarasi jihad oleh Khalifah juga menyebabkan ketertarikan kaum Muslim di Hindia Belanda untuk ikut serta dalam jihad bersama Khalifah.

Pada bulan Mei 1914, beberapa bulan sebelum Perang Dunia I, Rafet Bey mendapat surat dari salah seorang pangeran Yogyakarta bernama Raden Mas Adhihardjo Ningrat IV yang mengajukan dirinya untuk bergabung di sekolah militer di Istanbul.

Dipersembahkan Kahaderat srie Padoeka jang moelia Toean Sulthan Keizer jang bertachta di negri Turkie.

Dengan segala hormat, Hamba Prins Raden Mas Adhihardjo (Nin)grat IV dari Srie Padokea Sulthan Djocja jang III tinggal di kampong Blandongan Batavia.

Maka adalah hamba mempersembahkan sepoetjoek soerat ini di hadepan Srie Padoeka jang moelia Toean Sulthan, ia itoe djika sekiranja diperbolehkan oleh Srie Padoeka jang moelia Toean Sulthan, hamba moehoen … beladjar karena pertoeloengannja Srie Padoeka Toean Sulthan boeat sakola Militair di negri Constantinopel boeat di bawah prentahnja Srie Padoeka jang moelia Toean Sulthan di sini.

Lain dari itoe hamba moehoen dengen sanget moedah2an dikaboelkan dari permoehoenan hamba jang terseboet di atas adanja..

Surat Pangeran Yogyakarta Raden Mas Adhihardjo IV kepada Sultan Mehmed V Reshad yang dititipkan kepada Konsul Utsmani di Batavia, Mei 1914.
(BOA HR. ID 1373/67) 

Secara umum, walaupun tidak terlibat langsung, orang-orang di Hindia Belanda mendukung Khilafah Utsmani dalam peperangannya bersama Jerman di Perang Dunia I. Mereka melontarkan dukungan mereka dalam bentuk opini-opini dan propaganda dalam koran-koran terbitan Sarekat Islam pimpinan Tjokroaminoto seperti Pantjaran Warta dan Oetoesan Hindia.

Dukungan juga disalurkan dalam bentuk donasi harta kepada pasukan Khilafah (jihad bi al-amwal) melalui organisasi yang diorganisir oleh Rafet Bey, Hilal-i Ahmer Cemiyeti (Perkumpulan Sabit Merah) yang kepemimpinannya diserahkan kepada seorang Arab-Hadhrami, Mr. Sayyid Hasan bin Smith.

Perang Dunia I berakhir dengan kekalahan koalisi Jerman-Austria-Khilafah Utsmani. Khilafah terpaksa menelan pil pahit kegagalan itu dengan kehilangan banyak wilayahnya di Timur Tengah. Khilafah juga makin direpotkan dengan pemberontakan-pemberontakan bercorak nasionalisme yang merebak di Yunani, Balkan, dan Jazirah Arab.

Kaum nasionalis Turki pimpinan Musthafa Kemal laknatullah pun memimpin perlawanan pula terhadap Khalifah dengan mendirikan pemerintahan tandingan di Ankara hingga akhirnya berhasil menghapus institusi Khilafah pada Maret 1924.

Seiring dengan dihapusnya Khilafah, para konsul Utsmani yang ditempatkan di berbagai negeri ditarik kembali ke tanah Turki. Rafet Bey menapakkan kakinya untuk terakhir kali di pelabuhan Tanjung Priok pada 16 Maret 1924.

Berita penghapusan Khilafah begitu menggegerkan kaum Muslim di seluruh dunia, sampai memunculkan berbagai pergerakan untuk menegakkan kembali Khilafah di Mesir, India, dan Indonesia. Bahkan berbagai pergerakkan untuk menegakkan kembali Khilafah masih terus bergema sampai hari ini, dimana dengungnya kian hari kian populer.[]

Sumber :

Başbakanlık Osmanlı Arşivi (BOA), dengan nomor panggil HR. SYS 2323/15 (Juni 1915) dan HR. ID 1373/67 (Mei 1914). Dikutip oleh Frial Ramadhan Supratman, Rafet Bey: The Last Ottoman Consul in Batavia During The First World War 1911-1924, (Studia Islamika, Vol. 24, no. 1, 2017)

Frial Ramadhan Supratman. Rafet Bey: The Last Ottoman Consul in Batavia During The First World War 1911-1924, (Studia Islamika, Vol. 24, no. 1, 2017)

Jan Schmidt, Pan-Islamisme Antara Porte, Den Haag, dan Buitenzorg, dalam Kekacauan dan Kehancuran: tiga tulisan tentang pan-Islamisme di Hindia-Belanda Timur pada akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh, (Jakarta: INIS, 2003)

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *