Apa Sih Yang Sebenarnya Diinginkan Feminisme?

Share the idea

Kesetaraan gender dan budaya patriarki. Sebagaimana materialisme dialektis dan materialisme historis ala komunisme, dua istilah tersebut betul-betul penting dan harus digarisbawahi ketika kita ingin memahami feminisme.

Para feminis meyakini, bahwa ketertindasan perempuan disebabkan oleh budaya patriarki yang mengakar pada masyarakat. Patriarki adalah nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat yang menjadikan relasi kekuasaan antara laki-laki dan perempuan secara timpang, yaitu berdasarkan superioritas laki-laki dan inferioritas perempuan. Akibatnya, laki-laki dianggap lebih berkuasa dibanding perempuan, sedangkan perempuan selalu dianggap lemah, tak berdaya, dan tidak memiliki kemandirian. Walhasil, perempuan sering menjadi objek kesewenang-wenangan kaum pria, bahkan hanya sebagai pemuas syahwat yang tak bernilai.;

Terminologi yang lebih sering digunakan untuk menyebut biang keladi kondisi ini adalah ketidakadilan berbasis gender. Para feminis kemudian membedakan antara istilah gender dan seks.

Seks adalah pengelompokan jenis secara biologis, sementara gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial dan budaya.

Melalui pembedaan itu, feminis ingin meyakinkan bahwa sifat-sifat berdasarkan seks/jenis kelamin memang sudah dari sananya. Sebaliknya, gender adalah sifat yang tidak permanen bahkan bisa ditukar antara laki-laki maupun perempuan, karena sifat ini tak lebih dari hasil persepsi masyarakat terhadap apa yang disebut sebagai sifat laki-laki dan sifat perempuan. Persepsi itu, terbangun berdasarkan kebiasaan dan norma yang berlaku di masyarakat.

Contohnya? Secara biologis, laki-laki dan perempuan bisa dibedakan dari bentuk fisik dan alat reproduksinya. Sifatnya permanen dan sudah dari sananya begitu. Tapi berdasarkan sosial-budaya, laki-laki dan perempuan sering dibedakan berdasarkan karakteristik tertentu. Laki-laki dianggap lebih kuat, lebih rasional, lebih jantan. Perempuan dianggap lebih lembut, lebih emosional, dan keibuan.

Bagi feminisme, pemutlakan karakteristik tersebut sebagai milik laki-laki saja atau perempuan saja, dianggap tidak sesuai. Sifat ini bisa berubah, ketika budaya yang membentuk persepsi atas konsep gender ini juga berubah. Bagi mereka, perbedaan seks tidak boleh serta merta melahirkan perbedaan peran sosial. Misalnya? Hanya karena punya rahim, maka tugas utama perempuan secara otomatis adalah menjadi ibu dan pengurus rumah tangga.

Lebih jauh, hal ini dianggap sebagai pembentuk mitos peran gender yang dianggap merugikan perempuan. Contoh, karena perempuan itu lembut dan keibuan, maka guru tk atau sekretaris, dianggap sebagai pekerjaan khusus perempuan. Sebaliknya, laki-laki yang lebih rasional dan kuat, karirnya adalah menjadi presiden, gubernur, manajer, dan pekerjaan leadership lainnya.

Para feminis mengimani dan haqqul yaqin, bahwa ketika konsep gender ini berubah, maka pembagian peran pun berubah. Dengan demikian, apa yang hari ini disebut sebagai “ketidakadilan gender”, suatu saat bisa bergeser ke arah “keadilan/kesetaraan gender”.

Sayangnya, alih-alih mencari solusi dari agama, kaum feminis justru menjadikan sekularisme dan liberalisme sebagai dasar pandangan mereka. Agama, sebagaimana pandangan para cendekiawan masa Renaissance Eropa hingga Revolusi Prancis, lebih banyak dipandang sebagai sumber utama yang mengekang perempuan itu sendiri.

Masa tersebut menyebabkan gagasan kesetaraan gender yang diemban oleh para feminis mendapatkan ruang dengan adanya sistem kenegaraan yang baru setelah pada abad pertengahan, kaum perempuan ditindas oleh kaisar yang dilegitimasi oleh gereja dengan doktrinnya.

Doktrin gereja meletakkan maratabat wanita pada derajat yang sangat rendah. Pertama, wanita dianggap sebagai sumber dosa manusia karena telah menjerumuskan Adam melakukan dosa di Surga hingga memaksa manusia turun ke bumi. Kedua, Santo Thomas Aquinas mengatakan dalam Summa Theologica bahwa perempuan adalah manusia yang cacat yang diciptakan dari infeorioritas laki-laki. Ketiga, doktrin gereja mengatakan bahwa hubungan seksual antara lelaki dan perempuan adalah hubungan yang kotor sekalipun sudah diikat dalam pernikahan. Maka, menghindari perkawinan adalah bentuk kesucian dan simbol kemurniaan dan ketinggian moral bagi para pengikut gereja. Doktrin-doktrin gereja yang diskriminatif ini menyebabkan wanita menjadi manusia kelas dua bahkan sama harganya seperti barang yang bisa dipertukarkan kapan pun.

Di Indonesia sendiri, gerakan feminis semakin populer pasca terbitnya buku kompilasi surat-menyurat Kartini dengan teman-teman Belandanya yang berjudul Door Duisternis Tot Lich. Armijn Pane, pujangga angkatan Balai Pustaka, menerjemahkannya dan memberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-menyuratnya kepada teman-teman Belandanya, ia dapatkan dari hasil bersekolah dan interaksinya dengan teman-teman Belandanya yang memang sedang demam pemikiran-pemikiran liberal.

Melihat fakta sejarah lahirnya gerakan feminisme dunia dan masuknya paham ini ke Indonesia, bisa diambil kesimpulan bahwa feminisme adalah pemikiran lokal orang-orang Eropa saat itu. Artinya, ia lahir berdasarkan keadaan sosial Eropa yang merendahkan kaum perempuan. Kemudian, hal ini memicu perlawanan kaum perempuan untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Sangat tidak rasional ketika permasalahan yang terjadi di Eropa dipaksakan masuk dan diterima oleh umat lain semisal umat Islam. Sejak Islam diemban oleh Nabi ﷺ sampai berakhirnya kekuasaan Islam di dunia pada 1924, tidak pernah terdengar gerakan yang menyerukan persamaan hak antara lelaki dan perempuan. Hal itu karena, baik lelaki maupun perempuan, dalam Islam sudah mendapatkan hak mereka secara adil, sehingga terciptalah kepuasan.

Bagaimana Islam Memandang Kesetaraan Gender?

Dalam menyelesaikan problematika kehidupan, Islam memberi aturan dan solusi atas masalah yang dialami oleh manusia (tanpa melihat kepada jenisnya), ketika masalah yang timbul adalah masalah yang dihadapi oleh karakter manusia sebagai manusianya, tanpa memandang lelaki atau perempuan. Begitupun Islam memberikan solusi kepada jenis lelaki atau perempuan saja, ketika masalah yang dihadapi berkaitan dengan karakteristik khusus dari masing-masing jenis.

Jadi, kedatangan syariat tidak memandang persamaan hak atau keutamaan antara laki-laki dan perempuan, melainkan memandangnya sebagai suatu permasalahan yang harus diatasi. Sehingga adanya persamaan hak dan kewajiban kepada lelaki dan perempuan (semisal shalat, puasa, zakat, dll) tidak bermakna Islam memperhatikan kesetaraan gender. Atau jika tidak menyamakan hak dan kewajiban antara lelaki dan perempuan, tidak bermakna Islam tidak menyamakan gender. Karena bagaimanapun, yang menjadi perhatian Islam adalah penyelesaian masalah atas komunitas manusianya yang secara alami terdiri dari lelaki dan perempuan, bukan kepada jenisnya.

Misalnya, untuk menyelesaikan kasus yang terjadi di komunitas lelaki dan kehidupan umum, seperti persaksian terkait hak-hak dan aktivitas sosial (mu’malat),Islam menjadikan persaksian dua orang perempuan setara dengan satu orang lelaki.

“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa, maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil” (QS; Al Baqarah; 282).

Namun, jika kasusnya terjadi pada komunitas perempuan saja, semisal di kamar mandi perempuan, maka cukup persaksian seorang wanita. Karena kasus itu tidak mungkin terjadi kecuali hanya pada komunitas perempuan.

Contoh lain, Islam mewajibkan lelaki sebagai kepala rumah tangga, karena Islam memberikan sejumlah aturan tambahan kepada lelaki yang tidak menjadi kewajiban perempuan.

“Laki-laki itu pelindung bagi perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya” (QS; An Nisa:34)

Maksud Allah ﷻ melebihkan lelaki atas perempuan, yaitu Allah memberikan hak imam shalat, wali nikah, dan talak kepada lelaki. Juga karena lelaki diwajibkan untuk mencari nafkah dan mendidik istri. Sedangkan seperti hak asuh anak, maka Islam memberikan hak tersebut kepada istri dan melarangnya untuk suami. Sebagaimana Islam memberikan hak kepada istri untuk mengambil langsung bagian nafkahnya dari suami, jika suami menelantarkannya atau kikir, sebagaimana sabda Nabi ﷺ :

 “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Abu Sufyan adalah lelaki yang pelit, dia tidak memberikanku nafkah yang mencukupiku dan anakku, kecuali aku mengambil langsung dari hartanya, sedangkan ia tidak mengetahuinya. Rasulullah ﷺ menjawab; “ambillah apa yang bisa mencukupimu dan anakmu dengan cara yang baik” (Muttafaq ‘alaih).

Seorang hakim berhak memaksa suami untuk memberikan nafkahnya kepada istri dan mengelola langsung nafkah untuknya dan anaknya. Sebaliknya, Islam tidak memberi hak tersebut kepada suami.

Begitulah Islam memberikan aturan sesuai dengan karakteristik masing-masing jenisnya, jika masalah yang dihadapi terkait dengan karakter masing-masing jenis. Sedangkan jika masalahnya terjadi pada karakter manusia secara umum, maka Islam memberikan solusi kepada semuanya sebagai manusia.

Dengan paradigma ini, kehidupan laki-laki dan perempuan berjalan harmonis, dan Islam mampu memberikan keadilan kepada perempuan selama 14 abad lamanya. Karena Allah ﷻ zat maha agung mengetahui apa yang baik dan buruk bagi manusia. Mustahil Allah ﷻ menzalimi hamba-Nya.[]

Sumber dan Referensi Bacaan:

Hamid Fahmy Zarkasyi, dkk. 2021. Rasional Tanpa Menjadi Liberal. INSISTS: Jakarta.

Najmah Sa’idah dan Husnul Khatimah. 2003. Revisi Politik Perempuan. IDeA Pustaka Utama: Bogor.

Taqiyuddin An-Nabhani. 2003. Sistem Pergaulan dalam Islam. Pustaka Thariqul Izzah: Bogor.

Tiar Anwar Bachtiar. 2017. Pertarungan Pemikiran Islam di Indonesia. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *