PemikiranPolitik

Mengapa Kalangan Radikal Begitu Menakutkan?

Share the idea

Ada apa di balik isu radikalisme?

Isu deradikalisasi memang sering diasosiasikan dengan Islam, seolah tidak ada yang lebih radikal daripada muslim. Bahkan “Pro-Khilafah” ditempatkan sebagai ciri nomor wahid penceramah radikal, yang mana kata “penceramah” dan “khilafah” itu sendiri, sangat dekat hubungannya dengan Islam. Maka, tak berlebihan kiranya jika agenda deradikalisasi merupakan agenda deislamisasi.

Bahkan, strategi “War on Terrorism” saat ini sudah diperluas menjadi “War on Radicalism”. Sebab, radikalisme yang berada dalam ranah pemikiran, sering dianggap sebagai benih dari terorisme yang memicu tindakan fisik. Namun, hipokritnya mereka ini sudah tak tanggung-tanggung, seolah ingin mengatakan bahwa, “Jangankan perbuatan. Pemikiran saja sudah bisa kami hukumi!”

Isu radikalisme dikaitkan dengan “penceramah” dan “khilafah” yang identik dengan Islam. Melalui diksi tersebut, tak berlebihan jika agenda deradikalisasi dapat dibaca sebagai agenda deislamisasi.

Isu ini memang menarik. Pasca 2017, radikalisme, ekstremisme, dan intoleransi terus mencuat sebagai masalah utama Indonesia. Untuk apa? Politik praktis. Mereka perlu narasi untuk meneruskan kekuasaannya dalam bingkai demokrasi. Seolah mereka juga ingin mengatakan, “Apapun masalahnya, selama terlindungi dari radikalisme, maka sebenarnya kamu sedang baik-baik saja.” Sedangkan kasus lain, boleh dimaafkan.

Untuk menambah bumbu atas isu ini, mereka juga membutuhkan hantu. Yang meski sudah dianggap wafat, tapi masih terus dibicarakan.

Isu radikalisme akan diarahkan ke mana?

Setiap pihak yang memiliki ide yang dibawa, pasti punya narasi default yang sama dan terus disampaikan ke mana-mana. Pihak yang menyerukan kewajiban atas khilafah misalnya, selalu memulainya dari dasar: kalau ingin baik, maka kita harus berpegang teguh dan menerapkan Islam. Sebab, Allah menurunkan Islam bukan hanya sebagai agama ritual, tapi juga mengatur seluruh aspek kehidupan.

Adapun narasi default mereka saat ini, tak jauh berbeda dengan yang dibawakan oleh para penentang dakwah di masa Nabi Ibrahim hingga Musa.

Mereka selalu mencitrakan orang-orang yang berdakwah dan menginginkan kebaikan itu sebagai orang yang membawa keburukan, kehancuran, dan ancaman bagi rakyat.

Mereka berlindung di balik narasi-narasi itu, sembari berusaha agar perubahan menuju kebaikan itu tidak terjadi. Karena jika sampai terjadi, maka akan sangat berpengaruh terhadap kepentingan mereka. Sebab, andai masyarakat sampai mengetahui dan bisa membandingkan bagaimana metode Islam mengatur urusan umat versus bagaimana cara mereka mengatur sebuah negeri, orang-orang pasti akan memilih Islam.

Ketika opini umum mengarah ke sini, sedangkan di saat yang sama mereka tak mampu bertanding secara gagasan dan konsep ideologis, maka mereka akan menyerang pribadi orang-orang yang mendakwahkan Islam. Sikap ini persis sebagaimana ketika orang-orang Quraisy yang ketika tak sanggup berdebat secara ide, mereka kemudian menyerang kepribadian Rasulullah dengan tudingan gila, tukang sihir, dll.

Maka, isu radikalisme takkan pernah berhenti sampai mereka bisa memastikan bahwa mereka memiliki kekuasaan yang lebih banyak dan menghilangkan semua ancaman yang datang.

Andai masyarakat mengetahui perbandingan sistem kapitalisme vs Islam dalam pengaturan urusan umat, tentu masyarakat akan memilih Islam.

Walhasil, semua orang akan diam terhadap rangkaian kedzaliman yang mereka lakukan, seperti menjual aset negara ke luar negeri dan melonjaknya harga minyak goreng. Tak jarang, pihak pengkritik kemudian dilabeli sebagai anti-pemerintah bahkan radikal.

Mereka juga menggaungkan narasi, agar jangan berpaham takfiri: siapapun yang tidak sepaham, baik yang berbeda agama atau yang sama, itu dikatakan kafir. Sementara itu, apa yang mereka lakukan tak jauh berbeda. Bahwa siapapun yang tidak seide dengan mereka, dikatakan radikal.

Padahal yang mereka sebut sebagai radikal, ternyata tidak punya kekuatan politik. Partai tidak, senjata juga tidak. Lantas, mengapa mereka sangat ketakutan?

Ternyata, orang-orang yang disebut radikal ini, punya sesuatu yang lebih berbahaya daripada senjata. Ialah pemikiran. Asumsinya, sesuatu yang besar itu awalnya diinisiasi oleh pemikiran.

Jelas terlihat. Mereka lebih takut pada yang punya pemikiran daripada yang punya senjata. Padahal gampang saja. Pemikiran seharusnya diadu dengan pemikiran. Lantas, mengapa hal ini tidak dilakukan?

Ketika sadar bahwa konsep mereka tak bisa diadu, maka satu-satunya yang bisa dilakukan adalah membatasi pergerakan orang-orang yang punya pemikiran itu. Bahkan, mereka turut menuduh bahwa pemikiran para radikalis itu mampu menginspirasi tindakan anarkis. Tapi, mereka pula yang membubarkan pengajian dengan cara anarkis. Semua berujung pada labeling, bukan lagi diskusi sehat dan beradu konsep.

Lantas, pemikiran seperti apa yang ditakuti?

Ketika Rasulullah menerima Islam, orang-orang Quraisy belum menganggapnya sebagai ancaman. Andaikata dakwah Rasulullah hanya mengajarkan bahwa mereka harus mengenakan serban, jubah, tentu kafir Quraisy tidak akan merasa terganggu.

Tapi begitu Rasulullah menawarkan sebuah konsep hidup, seperti bagaimana caranya memaknai 24 jam waktu kita bukan hanya sekedar untuk hidup, tapi sebagai bagian daripada ibadah (sehingga apapun yang kita lakukan haruslah terikat dengan aturan Allah), maka titik itulah yang beririsan dengan kepentingan mereka.

Sebab, mereka juga punya konsep hidup. Seperti cara berbisnis itu seperti apa, cara berinteraksi itu seperti apa. Di tataran pemikiran inilah yang mereka tidak akan pernah bisa menerima. Karena pemikiran itu, berlawanan dengan apa yang mereka lakukan.

Misalnya ketika berbicara masalah kekuasaan – perkara yang paling mereka khawatirkan. Kita menganggap, bahwa kekuasaan adalah bagian dari titipan Allah, di mana yang berkuasa itu sejatinya bukanlah manusia, melainkan Allah. Maka wajar, jika umat Islam meminta agar hukum-hukum Islam diterapkan atas mereka. Dari sini, penguasa kemudian berpikir. Jika kami menerapkan hukum Islam, lantas apa yang kami dapatkan?

Jika dirinci, apa yang bertentangan dengan kepentingan mereka adalah pemikiran politik, yang mana politik di sini bukan didefinisikan dari kacamata demokrasi, melainkan dalam terminologi Islam, yakni siyasah. Ia berasal dari kata sasa, yasuusu, siyasatan yang berarti mengurus/memelihara kepentingan seseorang.

Jadi secara makna, politik/siyasah (yang diserap ke bahasa Indonesia menjadi siasat) adalah aktivitas untuk mengatur urusan umat, baik dalam maupun luar negeri.

Padahal, pengaturan kehidupan berdasarkan Islam itu baik semua. Kenapa mesti ditakuti?

Jadi, apa yang ditakuti dari kalangan radikal?

Mari dianalogikan dengan kisah One Piece. Diceritakan, bahwa bajak laut sering diburu oleh Pemerintah Dunia (World Government), yang sering menggunakan angkatan laut untuk memburu para bajak laut. Namun, bajak laut berbendera hitam yang menjadi tokoh sentral dalam cerita ini, tidaklah jahat. Mereka justru baik dan sering membantu masyarakat.

Para angkatan laut justru dikisahkan sebagai para pembuat onar dan menyebar ketakutan di tengah masyarakat.

Di antara para bajak laut ini, ada yang paling berbahaya, terus diburu oleh pemerintah dunia, dan harus dipastikan mati semuanya. Mereka inilah yang memahami sejarah dunia dan bisa mengarahkan opini umum masyarakat untuk membentuk masa depan.

Mungkin karena kaum radikal itu sering menyampaikan sejarah masa-masa keemasan yang sudah sering dilupakan, maka rezim mulai khawatir. “Jangan-jangan, mereka ingin mengembalikan masa-masa kejayaan itu, yang akan mengancam eksistensi kekuasaan kita?”

Lantas, bagaimana menyikapi tuduhan ini? Bisakah dianggap sebagai lucu-lucuan saja?

Dahulu, Walid bin al-Mughirah, penyair masyhur Quraisy, pusing mencari-cari tuduhan kepada Muhammad. Berbagai tudingan seperti dukun, gila, penyair, hingga penyihir, tidak mencerminkan kepribadian dan dakwah Rasulullah secara tepat. Hingga akhirnya, terbersitlah bahwa Muhammad merupakan “penyihir yang berkata dengan sihir, yang memisahkan antara ayah dengan anaknya, atau seseorang dengan ayahnya, seseorang dengan saudaranya, seseorang dengan istrinya, dan seseorang dengan keluarganya.” Ialah pemecah belah persatuan bangsa.

Hari ini, narasi serupa terulang kembali. Maka cara terbaik untuk menyikapi tudingan itu, adalah menghormati hasil kerja keras mereka yang sudah bersusah-susah membuat tudingan itu sendiri, yakni dengan melakukan sesuatu yang membuat kita menjadi radikal. Mereka sudah capek-capek melakukan penelitian hingga membuat ciri-ciri, maka ekspektasi mereka harus dipenuhi. Itulah yang harus dilakukan, karena persoalan radikalisme ini ternyata berpengaruh sangat besar bagi kehidupan mereka.[]

_____

Tulisan ini disadur dari diskusi Ustadz Ismail Yusanto dan Ustadz Felix Siauw dalam channel youtube “UIY Official”

Baca analisis 23 halamannya dalam bentuk pdf yang dibagikan di grup telegram KLI.

Klik https://linktr.ee/kli.books dan pilih “gabung grup telegram”. Analisisnya dibagikan di sana.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *