Kapan Berita Keruntuhan Khilafah Pertama Kali Sampai ke Indonesia?

Share the idea

Meskipun teknologi komunikasi pada awal abad ke-20 belum secanggih sekarang, namun belum sampai satu hari Turki Utsmani runtuh, beritanya sudah viral di Hindia Belanda (Indonesia), padahal jaraknya hampir 9 ribu kilometer dari Turki.

Pada 4 Maret 1924, satu hari setelah keruntuhan Khilafah ini, sebuah koran berbahasa Belanda di Batavia bernama Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (selanjutnya ditulis Het Nieuws) sudah memberitakannya dengan judul, “De afschaffing van het Khalifaat” (Penghapusan Khilafah).

Het Nieuws termasuk yang terdepan dan intens dalam mengabarkan berita penghapusan. Satu hari sebelumnya, atau 3 Maret 1924, Het Nieuws juga mengabarkan tentang rencana penghapusan sistem Khilafah yang didorong Mustafa Kemal.

Meskipun terbit dalam bahasa Belanda, berita ini tetaplah mudah diterima berbagai kalangan karena bahasa tersebut menjadi bahasa yang banyak digunakan ketika itu. Sebutlah nama seperti Tjokroaminoto dan H Agus Salim, yang merupakan tokoh pergerakan Islam, sangat cakap berbahasa Belanda.

Pada 5 Maret 1924, Het Nieuws menyampaikan berita lebih detail tentang penghapusan Khilafah dan upaya sekulerisasi di Turki oleh Mustafa Kemal. Sementara itu di surat kabar lain, yang juga terbit di Batavia, Bataviaasch Nieuwsblad juga ikut memberitakan peristiwa penghapusan ini dengan judul yang sama. Di Surabaya ada juga De Indische Courant yang memberitakan “De Kalifaat-Kwestie” (Persoalan Khilafah).

Adapun surat kabar yang berbahasa Melayu, juga membahas soal penghapusan ini selang beberapa hari kemudian. Surat kabar Neratja, yang dikelola H Agus Salim, memuat serial tulisan yang berjudul, “Kemanakah Chalifah Islam? Kekaloetan ‘Alam Islam”. Tulisan yang diterbitkan selama 26-31 Maret 1924 ini memberitakan soal penghapusan dan situasi Turki terbaru serta menyampaikan situasi kalut dunia Islam akibat peristiwa tersebut. Hingga kemudian pada 5 September 1924, terbit surat kabar Bandera Islam yang oleh para tokoh senior Sarekat Islam dijadikan sebagai media propaganda perjuangan Khilafah, satu perjuangan Islam yang ketika itu pernah dianggap mendesak. []

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *