Konstituante: Menggugat Paham Sekuler

Share the idea

Masing-masing kubu berusaha untuk saling meyakinkan satu dengan yang lainnya. Membuka sejelas-jelasnya duduk persoalan serta pandangan-pandangannya.

Terkhusus yang disampaikan oleh faksi Islam. Gugatan begitu deras dilayangkannya terhadap kaum yang menamakan dirinya ‘netral agama’ atau yang berpaham sekuler, terkhusus yang tergabung dalam faksi Pantja Sila.

Moh. Natsir dari Fraksi Masjumi lah yang mengawali gugatan atas paham netral agama ini. Menurutnya, “Saudara Ketua, djika dibandingakan dengan seculerisme jang sebaik-baiknjapun, maka adalah paham agama masih lebih dalam dan lebih dapat diterima akal. Paham Agama memberikan tudjuan jang paling tinggi”.

“Seculerisme Ladieniyah tanpa agama, Saudara Ketua, tidak bisa memberi keputusan djika ada pertantangan pikiran berkenaan dengan konsepsi masjarakat, hidup sempurna, dan sebagainja. Pertentangan tentang konsep kemanusiaan ini tidak meungkin diselesaikan dengan paham secularisme jang pada hakekatnja merelatifkan semua pandangan-pandangan hidup”.

Ia melanjutkan, “Seculerisme sebagaimana kita lihat, tidak memberikan dasar jang kuat bagi kehidupan masjarakat, malah menggojahkan sendi hidup perseorangan dan masjarakat”.

K.H. Masjkur dari Fraksi Nahdlatul Ulama (N.U.) pun ikut menggugat paham sekuler yang begitu berkumpul dan berlindung di balik Panjta Sila.

“Tetapi kalau ke-Tuhanan Panjta Sila ini tertjakup kejakinan seseorang jang didasarkan atas logika rationja, dimana dalam proses perkembangannja ini achirnja menimbulkan golongan paham materialism atau seculerisme (golongan tanpa agama).”

Ia pun menyindir secara keras, kaum sekuler beragama Islam,

“Maka saja heran sekali bahwa ada diantara Saudara-Saudara Anggota Konstituante jang mengaku beragama Islam jang menganut paham Panjta Sila sampai memuja kaum secularis, jang katanja sangat berdjasa kepada dunia dalam lapangan tehnik dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnja. Apakah itu tidak satu handicap bagi kaum agama, jang berarti bunuh diri?”.

Gugatan ini bukan tanpa alasan. Gejala bahwa Faksi Pantja Sila memang mengidap paham sekuler jelas terlihat dari pidato-pidato mereka yang mencoba membedakan bahwa dalam berkehidupan tidaklah tepat membicarakan soal metafisika (beragama).

Adalah Asmara Hadi dari Gerakan Pembela Panjta Sila (G.P.P.S) secara tersirat menyakatan demikian, “Tetapi ini adalah soal metafisika, soal mistik dan gedung Konstituante ini bukanlah tempat untuk membitjarakan metafisika atau mistik dan karena itu formal kami dari golongan Panjta Sila tidaklah akan berkata bahwa Panjta Sila berasal dari Tuhan”.

Bahkan, saking keras dan nyaring-nya gugatan Faksi Islam terhadap mereka yang berpaham sekuler, membuat mereka (Faksi Panjta Sila) takut dan mencari cara demi menurunkan tensi pertentangan.

Asmara Hadi menyampaikan seperti ini, “Kita disini berdebat berpanas-panasan, kita tidak akan berkelahi, sebab kita berpikiran pandjang dan sesudah berdebat kita bisa bersama-sama minum kopi di restoran, tetapi bagaimana kalau rakjat diluar gedung Konstituante ini karena terseret akan kata-kata jang kita utjapkan di sini, ikut memperdebatkan pula apa jang kita perdebatkan disini?”

Mereka coba menakut-nakuti dengan ungkapan, “kalau mereka (rakyat) panas hati lalu mentjabut golok, maka kalau ada darah jang tertumpah, kitalah jang bertanggung-djawab, kitalah jang bersalah”.

Berharap gugatan demi gugatan ihwal sekulerisme diturunkan tensi nya. Gentar menghadapi gugatan. Begitulah kata yang dapat menggambarkan suasana hati kaum netral agama menghadapai keseriusan Faksi Islam menjelaskan secara gamblang perihal paham sekuler yang jelas bertentangan dengan Ajaran Islam [].

Sumber:

Jakarta. RI, 1958. Tentang Dasar Negara Republik Indonesia dalam Konstituante djilid 1. Indonesia.

Jakarta. RI, 1958. Tentang Dasar Negara Republik Indonesia dalam Konstituante djilid 2. Indonesia.

Jakarta. RI, 1958. Tentang Dasar Negara Republik Indonesia dalam Konstituante djilid 3. Indonesia.

Share the idea