The Sick Man of Europe: Apa yang Salah dengan Sang Raksasa Peradaban?

11 Mei 2008. Dalam sebuah laga Liga Inggris, klub bola Middlesbrough pernah menggulung klub Manchester City dengan skor 8-1. Di akhir musim, meski City finish di atas Middlesbrough (yakni posisi ke-9 dan Middlesbrough di peringkat 13), namun kekalahan itu tetap saja memalukan.
Saat itu, Manchester City hanyalah klub medioker yang tak terlalu diperhitungkan. Sangat berbeda dengan rival mereka, Manchester United. Di tahun yang sama, United tak hanya mampu menjuarai liga Inggris, tapi juga liga Champions yang mempertemukan klub-klub papan atas Eropa.

Uniknya, masih di tahun yang sama, Manchester City dibeli oleh Abu Dhabi Group. Melalui suntikan dana melimpah dari Timur Tengah lengkap dengan pengelolaan manajemen yang serius, City terus merangkak naik dan menjuarai berbagai kompetisi.

Walhasil, roda peradaban sepakbola Inggris saat ini telah berputar. Jika liga Inggris sebelumnya dikuasai oleh Manchester United, maka dalam 10 musim terakhir United justru tak menjuarai satu pun liga. Penguasa liga justru beralih ke Manchester City yang telah menjuarainya sebanyak 6x.

Saat ini, kita hanya bisa melihat Manchester United layaknya “sick man”, orang yang sakit. Lemah, tak berdaya, dan sulit untuk bangkit. Meski ganti manajer berkali-kali hingga membeli pemain triliunan rupiah, ternyata hasilnya tetap saja tak memuaskan.
Sebaliknya, Manchester City pada musim ini justru berhasil mengulang pencapaian rivalnya di masa jayanya yang pernah meraih Treble Winner (yakni menjuarai tiga kompetisi besar sekaligus, di tingkat domestik maupun level Eropa). Sebuah gelar yang sepanjang sejarah klub Inggris, sebelumnya hanya pernah didapuk Manchester United pada 1998/1999.
Uniknya, salah satu piala sebagai syarat mendapat gelar Treble Winner tahun ini, yakni piala FA, justru diraih City setelah mengalahkan rivalnya yang dulu pernah berjaya itu.

Kisah kejayaan Manchester United dan Manchester City yang saat ini berbeda nasib, hanyalah salah satu contoh dari sebuah siklus peradaban. Bahwa semua, akan ada fasenya.
Umat Islam, ternyata juga begitu.
Kaum muslimin pernah mengalami abad-abad kejayaan dan menjadi adidaya dunia di masa Khilafah. Charlemagne (k. 800-814 M), pendiri Kekaisaran Romawi Suci, pernah dibuat kagum oleh kecanggihan teknologi Khilafah ‘Abbasiyyah. Begitupun dengan kekuatan ‘Utsmaniyyah, pernah membuat gentar para penguasa di Eropa…. Di masanya.
Namun menjelang keruntuhannya, kondisi Khilafah dan Eropa kemudian berbalik. Kekuasaan ‘Utsmani menjelma bagai auman macan ompong. Sebagaimana yang juga disampaikan dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda”, publik Eropa kemudian meledek ‘Utsmaniyyah sebagai “The Sick Man of Europe”. Orang Eropa yang Sakit.

BERIKUT BEBERAPA BUKTINYA…




HAL INI, TENTU MEMBUAT KITA SEMUA BINGUNG.
BAGAIMANA MUNGKIN SANG ADIDAYA BISA MENGALAMI KEMUNDURAN?
KENAPA BISA TERJADI? APA YANG SALAH?
Dalam kesempatan kali ini, izinkan kami mengulik isi pemikiran Bernard Lewis, profesor sekaligus orientalis yang memopulerkan istilah “Clash of Civilization” dan bahkan menyebut peradaban Barat dengan istilah “Christian Civilization”
Tentu saja, bedah pemikiran ini akan diimbangi dengan pandangan cendekiawan muslim lainnya.

Simak diskusinya melalui link berikut:
