Napoleon dan Hikmah di Balik Invasi Prancis atas Mesir

Share the idea

Penulis : Ibnu Aghniya

Memang tak dapat disangsikan bahwa pendudukan Mesir oleh Legiun Perancis telah meniscayakan tergadainya kedaulatan di lapangan politik serta ekonomi. Tapi, seperti telah disinggung di awal, ternyata ada “hikmah” di balik pendudukan Perancis atas Mesir.

Kaum Muslimin yang sejak abad ketiga belas boleh dikatakan mulai mengalami kemunduran di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tenggelam dalam stagnansi pemikiran, ketika datangnya pasukan Grande Armee-nya Napoleon yang mentereng, menyentak kesadaran mereka. Betapa jauh tingkat peradaban kaum mukmin dengan bangsa Barat yang dulu pada masa klasik mereka ajari standar peradaban.

Pendudukan tersebut memang singkat saja, hanya 3 tahun, karena Perancis pun tak kuat berlama-lama menahan armada Inggris yang juga punya maksud di negeri Mesir. Namun, pendudukan tersebut berhasil membuat muslimin Mesir pada khususnya dan umat Islam pada umumnya, meninjau kembali realita kehidupan mereka dengan Firman Allah bahwa mereka adalah “khairu ummah”.

Mungkinkah label khairu ummah yang disematkan Allah itu berarti hidup di bawah telapak kaki penjajah? Apakah mungkin julukan khairu ummah itu tersemat jika umat diliputi kebodohan? Mustahil! Tidak mungkin! Berpikirlah para cerdik-pandai umat mengapa fenomena yang paradoks tersebut bisa terjadi..!

Nyatalah bahwa kehinaan, kebodohan, serta keterbelakangan yang dialami umat bukan disebabkan ajaran Islam yang sudah tak lagi relevan, tapi karena terdapat kekeliruan di tengah-tengah umat dalam memahami Islam yang mulia! Sebab pada hakikatnya, Islam tak mungkin lapuk dimakan waktu.

Menurut Prof. Ris’an Rusli, bangsa Perancis melakukan invasi ke tanah Mesir tidak semata didorong oleh motif tunggal atas nama kepentingan ekonomi. Sebab, pada kenyataannya Napoleon melengkapi pasukan tersebut dengan sederet ahli-ahli ilmu pengetahuan dan membangun pusat-pusat ilmu modern selama kekuasaannya di negeri para fir’aun tersebut. Apa yang dilakukan Napoleon persis seperti apa yang ditempuh oleh Alexander yang Agung maupun Thomas Stamford Raffles di Jawa.

Menanggapi hal tersebut, bermunculanlah satu-persatu tokoh-tokoh pembaharu Islam yang menawarkan gagasan baru sekaligus mendobrak kebekuan berpikir. Pintu ijtihad yang umum diyakini sudah tertutup sejak abad ketigabelas, digugat kembali.

Menurut mereka, ijtihad sebagai sarana untuk memperoleh hukum sesuatu dari Al-Qur’an dan Sunnah, mustahil untuk dikatakan tertutup. Sebab, zaman terus bergerak secara dinamis. Selalu ada hal-hal baru yang muncul dan membutuhkan jawabannya sesuai dalil-dalil agama. Semisal jika aktivitas ijtihad dilarang, maka umat selamanya akan hidup dalam alam kebodohan, sesuatu yang sangat kontradiktif dengan spirit Islam itu sendiri yang menganjurkan umatnya untuk “Bacalah!”.

Tidak lebih dari satu abad sejak pendudukan tersebut, tampillah tokoh-tokoh besar semisal Rifa’at al-Tahtawi (1801-1873), Jamaluddin al-Afghani (1838-1897), Muhammad Abduh (1849-1905), Muhammad Rasyid Rida (1865-1935), dan lain-lain. Antara satu tokoh dengan tokoh lain, masing-masing memiliki gagasan yang berbeda. Ada yang sangat ekstrem liberal, dan ada pula yang sangat lantang menyuarakan penerapan Islam secara total.

Kita mengenal Jamaluddin al-Afghani dengan gagasan Pan-Islamismenya yang dianggap merepotkan pihak imperialis Barat. Tak asing juga kita dengan nama Rasyid Rida yang menggagas konsep Negara Islam (Khilafah) yang ideal. Kemudian ada Hasan al-Banna dengan gerakan Ikhwanul Musliminnya yang fenomenal. Di kutub yang berlawanan, ada tokoh semisal Toha Husein yang menganjurkan sekularisme ke tengah-tengah umat, dan bahkan sempat dituduh murtad oleh Rasyid Rida.

Dan tentu, yang paling kontroversial adalah sosok Ali Abdur Raziq yang dengan berani mengatakan tidak ada konsep Negara Islam dalam ajaran Islam lewat karyanya Al-Islam wa Ushul al-Hukm yang terbit tahun 1925. Padahal konsep ini tidak pernah dipermasalahkan oleh ulama-ulama Al-Azhar, apalagi oleh Imam 4 madzhab. Walhasil akibat sikap nekatnya tersebut, ia pada 12 Agustus 1925 disidang oleh 24 ulama Al-Azhar yang mencabut status keulamaannya.

Namun demikian, pada hakikatnya mereka semua didorong oleh semangat untuk menjawab tantangan zaman. Perkara manakah gagasan yang benar atau mana yang salah, biarlah kita kembalikan pada sang waktu, tugas kita hanyalah mengambil api sejarah tersebut, spirit sejarah, untuk kemudian dipindahkan pada konteks waktu hari ini.

Sekianlah Pembaca.. []

Sumber:

Enayat, Hamid. The Modern Islamic Political Thought (New York: MacMillan Press Ltd, 1982).

Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: Bulan Bintang, 1982).

Rusli, Ris’an. Pembaharuan Pemikiran Modern dalam Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014).

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *