Corona: Pesan Bagi Generasi Kaum Rebahan Sebagai Pemimpin Masa Depan

Share the idea

Wabah penyakit adalah salah satu kondisi alam yang seringkali dihadapi oleh umat manusia. Kemunculan bakteri dan virus yang menimbulkan penyakit memang tidak didesain secara langsung oleh manusia. Apalagi berkaitan dengan karakteristik virus, susunan genetik, dan car anyamenyerang organ tubuh manusia pun tidak diketahui pada saat kemunculannya.

Maka, keberadaan makhluk ciptaan Allah yang saat ini diberi nama SARS-Cov-2 adalah berada di luar area yang dikuasai oleh manusia. Lantas di bagian mana manusia berperan? Yaitu ketika terjadi transmisi pertama dari trenggiling ke manusia, kemudian berpindah melalui transmisi manusia ke manusia, serta penyebarannya yang semakin meluas.

Manusia memiliki kecenderungan untuk selalu berusaha bertahan dari ancaman yang membahayakan eksistensi dirinya. Wabah sejenis ini memang bukan yang pertama kali terjadi. Tercatat sejak sekitar 400 tahun sebelum masehi wabah epidemik dan pandemik sudah menjadi penyebab kematian yang terbesar dalam sejarah, hingga yang terakhir ialah Flu Babi di tahun 2009-2010. Maka, mestinya penanganan yang prima serta kesiapan yang cukup sudah dimiliki oleh umat manusia terlebih lagi para pengambil kebijakan di setiap negara.

Namun semenjak merebaknya penyebaran virus corona di akhir tahun 2019, alih-alih melakukan risk assessment yang memadai, pemerintah Indonesia justru sibuk membuka pintu pariwisata lebih lebar daripada sebelumnya dan sibuk menimpali ekspresi kekhawatiran masyarakat dengan kelakar yang sama sekali tidak lucu.

Padahal jika kita berandai-andai pemerintah mampu melakukan kajian terhadap risiko secara cepat dan tepat tentu akan lebih mudah memitigasi risiko kerugian berupa korban jiwa dan dampak dalam aspek perekonomian. Strategi kesiapsiagaan pun akan lebih matang. Melalui penilaian risiko yang memadai, berbagai rencana dapat dirumuskan dengan lebih akurat. Begitu pula langkah-langkah yang akan ditempuh jika sampai pada kondisi yang benar-benar darurat. Tidak seperti saat ini yang begitu banyak kebijakan seakan diambil dalam kondisi setengah sadar tanpa pertimbangan yang mendalam.

Ditambah lagi dengan komunikasi publik yang dilakukan dalam kondisi sangat tidak siap mengakibatkan banyak informasi yang seringkali diterima dengan pemahaman yang salah oleh masyarakat, atau justru memang informasi yang disampaikan adalah informasi yang salah. Berbagai fakta tersebut tentu semakin memperparah sepak terjang pemerintah dalam penanganan wabah virus corona.

Padahal secara tertulis WHO sudah mengeluarkan arahan yang sangat rinci dalam menghadapi pandemik influenza. Mulai dari arahan dalam penilaian risiko, hingga arahan dalam melakukan pengelolaan risiko akibat penyebaran wabah influenza.

Begitu pula dalam UU No 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, yang dijadikan dasar dikeluarkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 12 tahun 2020 tentang penetapan bencana non alam penyebaran corona virus disease (covid-19) sebagai bencana nasional, sudah memberikan arahan yang jelas terkait bagaimana menangani suatu kondisi bencana yang berpotensi memberikan kerugian bagi masyarakat.

Dengan menyadari hal ini, betapa berantakannya penanganan bencana wabah corona di Indonesia maka menjadi wajar jika banyak kegaduhan yang dihasilkan. Kebijakan-kebijakan yang cenderung blunder dan menuai kritik bertubi-tubi pun menjadi hal yang sangat bisa dimaklumi.

Semoga dengan selesainya wabah ini di Indonesia akan memberikan pelajaran berharga terkait pentingnya menegakkan usaha-usaha penanggulangan bencana secara benar, sejak tahapan risk assessment, mitigasi, kesiapsiagaan, hingga akhirnya pada tahap pemulihan setelah bencana berakhir.

Begitu pula, semoga rakyat semakin sadar bahwa ada masalah integritas kepemimpinan yang sangat kronis di negeri hingga terjadi kelalaian yang begitu parahnya dalam penanganan bencana wabah covid-19 ini. Karena sejatinya, Indonesia tidak pernah kekurangan orang pintar.

Kepada para “generasi rebahan” yang hari ini telah menyaksikan sebuah sejarah luar biasa dalam kehidupan manusia, maka jadikanlah peristiwa ini sebagai sebuah pelajaran besar. Ingatlah, bahwa 10, 20, atau bahkan 30 tahun lagi, kalianlah yang kelak menjadi pemimpin umat yang keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Sumber:

Coppola, D. “Introduction to International Disaster Management. Butter‐worth.” (2015).

Smith, KY Petley, and David Petley. “DN (2009): Environmental Hazards. Assessing riks and reducing disaster.” Geographical Research 47.4.

World Health Organization. Tool for influenza pandemic risk assessment (TIPRA). No. WHO/OHE/PED/GIP/2016.2. World Health Organization, 2016.

World Health Organization. “Pandemic influenza risk management: WHO interim guidance.” World Health Organization (2017).

Indonesia, Republik. “Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.” Lembaran Negara RI Tahun 68 (2007).

https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/135718/keppres-no-12-tahun-2020 Keputusan Presiden (KEPPRES) Nomor 12 Tahun 2020 Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Sebagai Bencana Nasional

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *