Memahami Latar Belakang Pemikiran antara Soekarno dan Mohammad Natsir

Share the idea

“Islam beribadah itu akan dibiarkan. Islam berekonomi akan diawasi. Islam berpolitik itu akan dicabut ke akar-akarnya.”
― 
Mohammad Natsir

Pertentangan serta konfrontasi antara Soekarno dengan Natsir bukanlah terjadi beberapa saat. Ini adalah konfrontasi yang terjadi sebelum, saat, dan bahkan sesudah Indonesia merdeka. Singkatnya, konfrontasi pemikiran antar keduanya langgeng mewarnai jagad perpolitikan Indonesia. Membaca kedua sosok tersebut, agak nya menarik bila kita coba menilik sisi sosiokultural antar keduanya. Boleh jadi ini menjadi sebuah hikmah yang patut direnungi kita bersama.

KEHIDUPAN SOEKARNO

Secara kultur dan sosiologis, Soekarno dibesarkan di tengah kalangan kejawen dan teosofi. Pemikiran mitologis lebih banyak mempengaruhi Soekarno. Mulai dari kisah wayang, gagasan ratu adil dan Jayabaya. Sayang nya, ini minus pendidikan Islami.

Benar bahwa dia sempat dididik oleh HOS Tjokroaminoto di rumah nya. Bahkan, menikah dengan anaknya Tjokroaminoto. Tetapi, dia lebih banyak mengambil ilmu berpolitik-nya HOS Tjokroaminoto bukan di “deen” nya (Agama Islam).

Secara kultur dan sosiologis, Soekarno dibesarkan di tengah kalangan kejawen dan teosofi. Pemikiran mitologis lebih banyak mempengaruhi Soekarno. Mulai dari kisah wayang, gagasan ratu adil dan Jayabaya. Sayang nya, ini minus pendidikan Islami.

Benar bahwa dia sempat dididik oleh HOS Tjokroaminoto di rumah nya. Bahkan, menikah dengan anaknya Tjokroaminoto. Tetapi, dia lebih banyak mengambil ilmu berpolitik-nya HOS Tjokroaminoto bukan di “deen” nya (Agama Islam).

Di periode ini, Soekarno lebih banyak mengambil pemikiran sekuler (Barat) serta marxisme. ‘Pemuja’ Kemal at-Taturk, pengikut pemikiran Ali Abdul Raziq. Berkawan dengan Sneevliet (pendiri PKI), A. Baars, Semaoen, Muso, bahkan Soekarno menggambarkan Alimin, sebagai, “orang yang memperkenalkan saya dengan Marxisme”.

Di sisi lain, pendidikan Islam lebih banyak dia pelajari dari karya-karya Orientalis Barat, walau memang sempat bertukar pikiran dengan salah seorang pendiri PERSIS, A. Hasan ketika dijebloskan di Penjara Sukamiskin serta saat di pembuangan-nya di Ende.

KEHIDUPAN NATSIR

Hal itu terasa kontras dengan perjalanan hidup Moh Natsir. Lahir di tengah masyarakat Minangkabau, tepatnya di Asahan Panjang. Perlu diketahui, di kota itu terdapat suatu norma berupa folkways, yaitu sebuah norma yang berpusat pada akar-akar keIslaman. Terlebih di periode itulah perkembangan pembaharuan Islam begitu kental disana.

Dilanjut dengan terjun nya ia di pandu Natipij (Jong Islamiten Bond). Singkatnya, Natsir muda hidup ditengah gelora keislaman yg tinggi. Dilanjutkan pendidikan di Bandung. Ia dididik di bawah asuhan A. Hasan (Salah seorang pendiri PERSIS), lalu bergabung di PERSIS. Mempelajari lebih banyak ilmu-ilmu agama. Bahkan di umur 21 tahun ia sudah menguasai lima bahasa asing (Belanda, Arab, Inggris, Perancis, Latin) ditambah dua bahasa daerah (Minangkabau dan Sunda).

Berbekal penguasaan bahasa yang beragam, menjadikan ‘pengembaraan intelektual’ Natsir nyaris tanpa batas. ‘Bertempur’ membawa marwah Islam di tengah penghinaan misi zending kala itu. Dibawah ‘panji’ majalah Pembela Islam, tulisan-tulisan nya mengacak-acak dan membongkar persekutuan kolonialisme belanda dengan misi zending.

KHATIMAH

Menilik keduanya. Ada hal yang menarik. Walau keduanya adalah hasil didikan “Politik Etis” ala Belanda. Dididik ala pendidikan Belanda. Namun, lingkungan telah menciptakan jurang perbedaan di antara keduanya.

Menariknya adalah, lagi-lagi ini menjadi fakta kesekian kali bahwa lingkungan dimana ia hidup ialah yg menjadi faktor kuat pembentuk diri serta pemikiran seseorang. Lalu pertanyaan untuk kita, “Sudahkah kita berada di lingkungan yang terus mendukung menjadi lebih baik? Menjadi seorang hamba Allah swt seutuhnya?” [].

Sumber:

Ahmad Suhelmi. 2014. Polemik negara Islam : Soekarno vs Natsir. UI Press: Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *