Islam Liberal: Kesalahan Pemikiran “Sekularisme-Sekularisasi” Ala Cak Nur

Share the idea

Dengan sekularisasi tidaklah dimaksudkan penerapan Sekularisme, sebab “secularism is the name for an ideology, a new closed world view which functions very much like a new religion”. Dalam hal ini jang dimaksudkan ialah setiap bentuk “liberating development”. Proses pembebasan ini terutama diperlukan karena ummat Islam, akibat daripada perdjalanan sedjarahnja sendiri, tidak sanggup lagi membedakan antara nilai-nilai jang disangkanja Islamis itu mana jang transedental dan mana jang temporal.

Malahan hirarki nilai itu sering dalam keadaan terbalik, transedental mendjadi temporal dan sebaliknja atau mendjadi transedental semuanja, bernilai uchrowi tanpa ketjuali. Sekalipun mungkin mereka tidak menguntjapkannja setjara lisan, malahan memungkirinja, namun sikap itu terjermin dalam tindakan-tindakan mereka sehari-hari. Akibat dari hal itu, sudah maklum, tjukup parah : Islam mendjadi senilai dengan tradisi dan mendjadi Islamis sederadjat dengan mendjadi trandisionalis.

Karena pembelaan Islam mendjadi sama dengan pembelaan tradisio inilah maka timbul kesan bahwa kekuatan Islam adalah kekuatan tradisi jang bersifat reaksioner. Katjamata hirearki nilai di kalangan kaum Muslim telah membikinja tidak sanggup mengadakan responsi jang wadjar terhadap perkembangan pemikiran jang ada didunia dewasa ini. 

Djadi dengan sekularisasi tidaklah dimaksudkan penerapan sekularisme dan merobah kaum Muslimin mendjadi kaum sekularis. Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai jang sudah semestinja bersifat duniawi, dan melepaskan ummat Islam dari ketjendrungan untuk menguchrowikannya. 

Dengan demikiran kesediaan mental untuk selalu mengudji dan mengudji kembali kebenaran suatu nilai dihadapkan kenjataan-kenjataan materil, moril maupun historis, menjdadi sifat kaum Muslimin. Lebih landjut dengan sekularisasi dimaksudkan untuk lebih memantapkan tugas duniawi manusia sebagai “Chalifah Allah dibumi”.

Fungsi sebagai Chalifah Allah itu memberikan ruangan bagi adanja kebebasan manusia untuk menerapkan dan memilih sendiri tjara dan tindakan-tindakan dalam rangka perbaikan hidupnja di atas bumi ini, dan sekaligus memberikan pembenaran bagi adanja tanggung djawab manusia atas perbuatan-perbuatan itu dihadapan Tuhan. 

Tetapi apa jang terdjadi sekarang ialah bahwa ummat Islam kehilangan kreativitas dalam hidup duniawi ini, sehingga : mengesankan seolah-olah mereka telah memilih untuk tidak berbuat dan salah. Dengan kata lain mereka telah kehilangan semangat “idjtihad”.

Sebenaranja pandangan jang wadjar dan menurut apa adanja kepada dunia dan masalah-masalahnja harus dipunjai oleh seorang Muslim setjara otomatis, sebagai konsekwnesi jang logis dari pada “Tauhied”.

Pemutlakan transedensi semata-mata kepada Tuhan sebenarnja harus melahirkan “desakralisasi” pandangan terhadap selain Tuhan jaitu dunia dan masalah-masalah serta nilai-nilai yang bersangkutan dengannja. Sebab sakralisasi kepada sesuatu selain Tuhan itulah hakikatnja apa jang dimakan “sjirik”, lawan tauhied. Maka, sekularisasi itu sekarang memperoleh maknanja jang kongkrit, jaitu desakralisasi terhadap segala sesuatu selain hal-hal jang benar-benar bersifat Illahy (transedental), jaitu dunia ini. 

Jang dikarenakan proses desakralisasi itu ialah objek duniawi, moril maupun materil. Termasuk objek duniawi jang bersipat moril, sedangkan jang bersipat materil ialah benda. Maka djika terdapat ungkapan “Islam is Boldsjewism plus God” (Iqbal), salah satu pengertiannja ialah bahwa pandangan Islam terhadap dunia ini dan masalah-masalahnja adalah sama dengan kaum komunis (realistis, dilihat menurut apa adanja, tidak mengadakan penilaian lebih dari apa jang sewadjarnja dipunjai oleh object itu), hanya sadja Islam mengatakan adanja sesuatu jang transedental, jaitu Allah. 

Djustru Islam meletakkan pandangan dunia (wetltanschuauung) dalam hubungannja antara alam dan Tuhan itu sedemikan rupa, sehingga wadjar bagaikan badan dengan kepala di atas dan kaki di bawah (istilah Marx), artinja kepertjajaan kepada Tuhan mendasari pandangan pada alam dan tidak sebaliknja seperti adjaran materialisme dialektika. 

(Drs. H. Nurcholis Madjid)

Djakarta, 2 Djanuari 1970

___

Narasi Cak Nur terkait “sekularisme-sekularisasi” sebelumnya, cukup menarik untuk dibahas. Hal ini setidaknya cukup mengonfirmasi salah satu kritik Ust. Ismail Yusanto, dalam dua magnum opus-nya, buku “Perjuangan Dengan Dakwah Islam” dan buku “Khilafah Jalan Menuju Kaffah”, terhadap pandangan Cak Nur.

Setidaknya, menurut beliau ada semacam ketidakjelasan Cak Nur dalam mendefiniskan suatu istilah, yaitu berkenaan dengan istilah “sekularisme-sekularisasi”.

Cukup banyak kalimat yang membingungkan berujung multitafsir. Seperti berikut :

“Djadi dengan sekularisasi tidaklah dimaksudkan penerapan sekularisme dan merobah kaum Muslimin mendjadi kaum sekularis. Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nila-nilai jang sudah semestinja bersifat duniawi, dan melepaskan ummat Islam dari ketjendrungan untuk menguchrowikannya”.

Pendefiniskan arti “…menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinja bersifat duniawi…” sangatlah multitafsir. Definisi mana yang perlu kita gunakan untuk menilai “apa itu hal-hal berkenaan dengan duniawi dan uchrowi?” memang benar setidak nya istilah duniawi-ukhrawi itu memang ada dan disebutkan dalam beragam dalil. Namun, apa maksud dari “menduniawikan hal yang semestinya duniawi itu”? Terlebih Cak Nur tidak menjelaskan, mana yang dimaksudkan dengan kejadian “menguchrowikan hal yang duniawi…”. 

Kembali kepada definisi yang tidak jelas tersebut, bisa jadi istilah politik, pemerintahan, ekonomi dan budaya serta segala hal yang tidak berkenaan langsung secara transedental kepada Tuhan dianggap sebagai suatu yang duniawi sehingga perlu dilakukan “desakralisasi” dalam arti pelepasan diri terhadap Tuhan.

Tentu ini sebuah ‘ke-gegar-an’ intelektual. Hal ini akan diperparah dengan minusnya pemahaman keislaman dalam diri seseorang ketika memandang ajaran Islam hanya dari sisi transedental tanpa mau melihat 2 dimensi lain, yaitu dimensi mu’amalah dan uqubat serta dimensi terhadap diri sendiri. 

Hal ini semakin diperparah dengan kalimat Cak Nur, seperti berikut,

“Lebih landjut dengan sekularisasi dimaksudkan untuk lebih memantapkan tugas duniawi manusia sebagai “Chalifah Allah dibumi”. Fungsi sebagai Chalifah Allah itu memberikan ruangan bagi adanja kebebasan manusia untuk menerapkan dan memilih sendiri tjara dan tindakan-tindakan dalam rangka perbaikan hidupnja di atas bumi ini, dan sekaligus memberikan pembenaran bagi adanja tanggung djawab manusia atas perbuatan-perbuatan itu di hadapan Tuhan”. 

Kalimat di atas seolah-olah memberikan garansi dari sebuah ayat, “khalifah di bumi” sebagai bentuk kebebasan bertindak. Kalimat “adanja kebebasan manusia” kemudian “perbaikan hidupnja di atas bumi ini…” ditambah dengan “pembenaran bagi adanja tanggung djawab manusia…” sangatlah multitafsir dan sangat besar kemungkinan untuk disalah pahami dan bahkan digunakan oleh para propagandis kebebasan untuk menjustifikasi sekularisme yang ditentang oleh Cak Nur di awal tulisan beliau. 

Terlebih bila kita merujuk pada kalimat beliau, seperti berikut: “Proses pembebasan ini terutama diperlukan karena ummat Islam, akibat daripada perdjalanan sedjarahnja sendiri, tidak sanggup lagi membedakan antara nilai-nilai jang disangkanja Islamis itu mana jang transedental dan mana jang temporal”. Ada sebuah hal menarik, yaitu upaya beliau menjadikan sejarah menjadi sebuah “tulang punggung” yang menuntut terjadinya sebuah perubahan, yang artinya beliau benar-benar menginginkan sejarah menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam mendefiniskan sesuatu. 

Namun nyatanya dalam mendefinisikan istilah sekularisasi saja beliau terlupa sejarah panjang sekularisasi di dunia. Bila kita ingin merujuk pada sejarah sekularisasi, kita dapati bahwa sekularisasi merupakan fenomena khas dalam dunia Kristen. Menurut Bernard Lewis (2012), pemikir politik paling berpengaruh di Amerika Serikat sesudah berakhirnya Perang Dingin, “Sejak awal mula, kaum Kristen diajarkan–baik dalam persepsi maupun praktis–untuk memisahkan antara Tuhan dan kaisar dan dipahamkan tentang adanya kewajiban yang berbeda antara keduanya”. 

Paham ini bahkan sengaja disebarluaskan oleh Barat. Dalam bukunya, Christian in World History, Arend Theodor van Leeuwen, mencatat, penyebaran Kristen di Eropa membawa pesan sekularisasi. Dalam buku karangan Mark Juergensmeyer (1993) yang berjudul, “The New Cold War?” Leeuwen berpendapat bahwa, “Kristenisasi dan sekularisasi terlibat bersama dalam suatu hubungan yang dialektikal”. Maka, menurutnya persentuhan antara kultur sekular Barat dengan kultur tradisional religious di Timur Tengah dan Asia, adalah bermulaannya babak baru dalam sejarah sekularisasi. Sebab, kultur sekular adalah hadiah Kristen kepada Dunia (Christianity’s gift to the World).

Arus sekularisasi ini merubah secara radikal pandangan Kristen Eropa saat zaman kegelapan yang disebut “The Dark Ages of Europe”. Pada masa ini di Eropa, agama, sains, dan filsafat dipandang dari sudut pandang teologi Kristen. Semua agama selain Kristen merupakan penyimpangan dan sesat, Sementara Katolik mengeluarkan sikap Extra Ecclesiam nulla Salus (tidak ada keselamatan di luar gereja), bahkan kalangan protestan menegaskan sikap Extra Christos nulla Salus (tidak ada keselamatan di luar Kristus). Bibel dianggap oleh Katolik dan Protestan sebagai perkataan Tuhan. 

Kritik Ust. Ismail terhadap ketidakjelasan pendefinisian arti sekularisasi yang digaungkan Cak Nur menjadi jelas. Terlebih terdapat banyak kalimat yang sangat multitafsir yang malah menjustifikasi arus sekularisme yang ditolak oleh Cak Nur di awal. Bagaimana mungkin arus ‘sekularisasi’ yang menurut Cak Nur inginkan dapat terjadi?

Namun fakta sejarah membuktikan sebaliknya. Akhirnya apa yang dibawanya malah membawa kepada arus sekularisme yang teramat parah dewasa ini, bahkan yang akhirnya definisikan terkait sekularisme itu, “secularism is the name for an ideology, a new closed world view which functions very much like a new religion”. Alhasil, sekularisme benar-benar menjadi sebuah sesembahan baru abad ini. 

Inilah yang dapat disebut dengan kolonialisasi intelektual. Peminjaman istilah dan definisi yang serampangan untuk menarik dan meningkatkan sisi emosional dalam penerimaan sebuah hal yang mungkin dapat terjadi resistensi. Padahal sejatinya, hal ini benar-benar tidak diperlukan.

Benar, bahwa kita perlu berusaha menurunkan tensi resistensi untuk diterimanya ide-ide dan ajaran Islam. Namun, hal ini butuh sebuah pendefinisian yang jelas terhadap sesuatu. Jangan akhirnya justru kita yang terkooptasi oleh ide-ide dan cara pandang di luar Islam. Maka, disinilah autokritik secara mendalam terkait pentingnya kita untuk mendefinisikan sebuah istilah [].

Sumber:

Adian Husaini, 2005. Wajah Peradaban Barat dan Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal. Gema Insani. Jakarta.

Ismail Yusanto, 2017. Khilafah Jalan Menuju Kaffah. Penerbit Irtikaz. Jogjakarta.

Ismail Yusanto, 2017. Perjuangan Dengan Dakwah Islam. Penerbit Irtikaz. Jogjakarta.

Nurcholis Madjid, dkk., 1970. Pembaharuan Pemikiran Islam. Islamic Research Center Djakarta. Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *