Tahap Akhir Mengembangkan Khilafah Menjadi Negara Adidaya

Share the idea

Penulis : Prof. Dr. –Ing. Fahmi Amhar

Setiap negara yang dalam sejarah muncul sebagai negara adidaya, selalu mengalami perkembangan yang hampir sama. Perkembangan itu dapat diurai dalam tiga, lima atau tujuh tahap yang bisa disebut sebagai “era”.

Ibnu Khaldun dalam kitabnya yang berjudul “Muqaddimah” mengurainya dalam 3 tahap: tahap perintis, tahap pengembang, dan tahap konservasi. Tiga tahap atau era ini biasanya diteruskan dengan era penikmat dan era penghancur. Maka, tertutuplah siklus kejayaan dan kehancuran negeri itu.

Jika dalam tulisan sebelumnya disebutkan bahwa era perintis dilakukan dengan 3 tahapan, yaitu era pembangunan ruhiyah, era pembentukan ukhuwah dan era stabilitas dalam negeri, maka Paul Kennedy dalam “The Rise and Fall of Great Powers” mendetailkan lagi era pengembang dengan era menguatnya sains dan teknologi dan era pertumbuhan ekonomi. Dan tentu saja, dalam negara Islam dua hal tersebut tidaklah cukup. Selain mengurus politik dalam negeri, Khilafah juga memiliki metode (thariqah) politik luar negeri yang khas, yaitu jihad dan dakwah. Maka, faktor ini juga wajib diperhitungkan sebelum Khilafah menjadi negara adidaya yang memimpin dunia.

Membangun Kedaulatan Sains & Teknologi

Setiap negara adidaya selalu melalui tahapan menjadi negara maju lebih dahulu. Dan negara maju selalu ditandai oleh dua hal utama: (1) memiliki prosentase sumber daya manusia (SDM) cerdas yang besar, seperti para ilmuwan, insinyur, peneliti atau penemu; dan (2) menguasai sains dan teknologi yang canggih atau termaju, karena aktivitas inovasinya.

Tanpa keunggulan sains dan teknologi, maka negara yang bermimpi menjadi negara adidaya itu akan tergantung oleh sumber daya cerdas negara lain, yang cepat atau lambat akan menggerus kekuatannya.

Ketika negara Islam baru berdiri seperti di masa Rasulullah, mereka nyaris belum memiliki SDM cerdas dalam sains dan teknologi. Namun kekuatan ruhiyah yang mereka dapatkan di tahapan pertama, telah memberi energi pada mereka untuk berburu sains dan teknologi ke segala penjuru dunia.  Mereka dibekali oleh motivasi untuk menjadi umat terbaik di dunia yang akan membawa misi merahmati seluruh semesta. 

Visi ini membuat pendidikan Islam dapat menanamkan rasa ingin tahu yang besar (curiosity), selanjutnya tahu dengan pasti di mana sumber-sumber ilmu dan bagaimana cara memperolehnya yang efektif. Mereka paham bahwa teknologi membuat kertas mesti dipelajari di Cina, bahwa astronomi mesti dipelajari di Mesir, dan pengobatan dipelajari dari orang-orang Yunani. Mereka sadar bahwa Qur’an hanya memuat hal-hal yang umum saja tentang sains dan teknologi, meski Qur’an pada dasarnya adalah petunjuk kehidupan.

Setelah itu mereka terarah untuk mengembangkan teknologi yang dipelajari itu demi mewujudkan berbagai kewajiban syara’ dan menerapkannya sesuai syari’ah.

Bila perlu, negara Islam boleh membuat perjanjian untuk mendatangkan guru atau pakar sains dan teknologi dari luar negeri selama mereka terikat dengan kurikulum negara Islam.

Sebuah negara dikatakan telah berdaulat dalam sains dan teknologi jika telah membentuk kemampuan riset dan inovasi yang mampu menyelesaikan setiap problem yang dihadapinya serta membentuk sistem industri yang mengaplikasikan inovasi tersebut. 

Alasan belajarnya para SDM cerdas bukan sekedar karena ingin menjadi pekerja suatu korporasi internasional, atau sekedar ingin dikenal sebagai ilmuwan dengan publikasi terindeks global yang banyak. Namun yang lebih penting adalah mampu menyiapkan fondasi demi terwujudnya sebuah kekuatan adidaya.

Allah berfirman,

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Qs. al-Anfaal [8]: 60)

Dengan bekal penguasaan sains dan teknologi itu, maka industri akan melesat dan ekonomi sebuah negara akan terangkat.

Membangun Kedaulatan Ekonomi

Tidak ada negara yang menjadi kekuatan adidaya hanya karena kekuatan militernya, jumlah pasukannya, atau kecanggihan persenjataannya. Tanpa kekuatan ekonomi di belakangnya, para pasukan itu akan lapar dan persenjataan itu akan tak dirawat atau kehabisan bahan bakar.

Oleh karena itu, setiap negara yang membangun kekuatan adidaya, mesti menyiapkan ekonomi yang kokoh. Ekonomi kokoh bila ada basis industri yang kuat, yang ditopang sumber daya alam yang terawat baik. Sumber daya alam ini meliputi sumber-sumber pangan, energi, maupun mineral yang diperlukan industri. Bila sumber-sumber ini harus didatangkan dari luar, maka ekonomi negara akan labil, rawan oleh embargo, rawan pandemi, dan juga rawan oleh instabilitas dunia, misalnya bila ada bencana, krisis ekonomi, atau perang di jalur pasokan.

Nilai tambah ekonomi yang terbesar dihasilkan dari industri. Karena itu, industri wajib dibangun dan diarahkan untuk mengatasi seluruh kebutuhan rakyat, memenuhi kebutuhan vital negara, dan membentuk kemandirian negara.

Seluruh sistem ekonomi Islam wajib diterapkan baik dari sisi investasi, kepemilikan maupun pengelolaan. Sektor-sektor vital tetap di dalam kendali negara. Dan sektor tertentu dipersiapkan secara khusus untuk strategi dakwah dan jihad.  Sejumlah industri berat yang di masa damai menghasilkan alat-alat transportasi misalnya, bila diperlukan bisa diubah seketika menjadi industri senjata.

Ekspansi Dakwah

Dakwah adalah metode penyebaran Islam yang baku. Bila ini dapat dilakukan efektif hanya dengan teladan dari Negara Islam dan penyiaran, sehingga cukup efektif untuk mengubah persepsi rakyat suatu negeri, maka dengan negeri itu cukup dilakukan perjanjian diplomatis dan kerjasama ekonomi dan/atau budaya, dimana Negara Islam yang sudah lebih maju akan mendominasi. Maka dakwah akan berjalan cepat dan mengubah negeri-negeri dalam perjanjian itu menjadi bagian dari Negara Islam atau ahlul dhimmah. Itu terjadi seperti dalam islamisasi wilayah Nusantara di masa lalu.

Namun bila negara sasaran dakwah itu memusuhi dakwah, maka tak ada cara lain kecuali melucuti kekuatan penguasa negara itu dengan jihad. Di situlah diperlukan kekuatan yang terstruktur dan sistemik, gabungan antara diplomasi, intelijen, militer, industri, ekonomi dan teknologi dari Negara Islam.

Memimpin Dunia

Menjadi negara adidaya berarti siap-siap memimpin dunia. Memimpin dunia berarti siap-siap untuk mewujudkan ketertiban dunia, mendamaikan yang bertikai, melindungi yang lemah, menghukum yang salah, dan menghargai yang berjasa.

Fungsi ini yang dijalankan berabad-abad oleh Khilafah Abbasiyah dan Utsmaniyah pada era keemasannya. Dan semua ini dalam visi memberi rahmat ke seluruh alam, dengan menerapkan seluruh syari’at Islam.

Dulu Daulah Utsmani melindungi bangsa Crimea yang lari dari kedzaliman Tsar Rusia, mengirim bantuan pangan ke Amerika Serikat yang ditimpa kelaparan, bahkan melindungi beberapa raja Eropa yang diserang negara lain atau menghadapi pemberontakan.

Apakah Khilafah Islam di masa depan sebagai Negara Adidaya akan melindungi anak-anak kecil di Meksiko yang saat ini banyak diculik untuk dirampok organ tubuhnya? Apakah Negara Khilafah akan berjuang mengatasi perubahan iklim? Apakah Negara Khilafah akan memberi solusi untuk orang-orang di Cina atau Eropa yang kesepian di hari tuanya?

Tentu saja, karena posisi mereka sebagai adidaya adalah untuk merahmati seluruh semesta.[]

Sumber:

Hamdan Fahmi (2007). Khilafah Rasyidah Yang Telah Dijanjikan dan Tantangannya. HTl Press. Jakarta.

Ibnu Khaldun (1377): Muqaddimah. Diterjemahkan dan diterbitkan ulang oleh Pustaka Al-Kautsar (2014). 

Paul Kennedy (1987). The Rise and Fall of Great Powers – Economic Change and Military Conflict from 1500 to 2000. Random House: New York.

Muhammad Ash Shalabi (2002). Bangkit & Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *