Benarkah Hasil Penelitian Sejarah Tak Bisa Berubah?

Share the idea

Penelitian sejarah itu bukanlah sesuatu yang bisa dihargamatikan. Masih banyak objek-objek sejarah yang belum tersentuh, dan tentu dapat merevisi apa-apa yang sudah diyakini selama ini.

Itulah kiranya pengalaman yang kita dapatkan selama di Aceh kemarin, misalkan. Ketika pergi ke kawasan tinggalan sejarah yang terabaikan di kawasan Gampong Pande. Cukup terhenyak hati ini; betapa banyak artefak dan pusara yang berantakan tergerus oleh lumpur, air laut yang pasang, dan tentu zaman yang kejam.

“Inilah kubur al-Faqih (ahli fiqh), yang bertakwa, orang yang menjadi tempat memelihara diri serta yang dipatuhi oleh raja yang tinggi, yang dikhususkan dengan ‘inayah Allah, raja yang kedua, Muhannad ibn Mahmud ibn Syuhbah al-Farnawiy yang wafat pada hari Senin dua puluh (20) dari bulan al-Muharram tahun empat puluh dan sembilan ratus dari hijrah (940 H).”

Dalam kajian yang dilakukan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA), Syaikh Muhannad bin Mahmud bin Syuhbah al-Farnawi, sang sohibul-makam, adalah ulama yang berasal dari Farnah, sebuah kawasan di antara Makkah dan Tha’if. Berdasarkan gelarnya yang terpahat di makamnya seperti “orang yang menjadi tempat memelihara diri serta yang dipatuhi oleh raja yang tinggi” (المتقي به المطيع له ملك العالي), patut diduga bahwa Syaikh Muhannad ini menjadi pendidik dan pengasuh para keluarga kesultanan.

Lebih spesifik lagi, siapa yang dididik oleh Syaikh Muhannad? Dengan penyebutan gelarnya yakni “yang dikhususkan dengan ‘inayah Allah” (المخصوص بعناية الله), dimana penyebutan gelar tersebut juga dan hanya ditemukan di makam Sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah al-Qahhar di Kompleks Pemakaman Baiturrijal Kandang XII. Maka boleh jadi, bahwa Syaikh Muhannad adalah guru dari Sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah al-Qahhar, dimana Sultan Aceh inilah yang terang-terangan membaiatkan dirinya ke Khalifah Utsmaniyyah di Istanbul, Sultan Selim II.

Dengan penemuan dirham dan dinar emas dari Khilafah Utsmaniyyah dan Kesultanan Aceh di kawasan rawa berlumpur Gampong Pande pada tahun 2013 lalu, tesis yang dikeluarkan oleh MAPESA di atas dapat dikuatkan. Dengan peran ulama dan fuqaha yang berasal dari pusat kuasa Islam di Timur Tengah, para sultan di Aceh dan kawasan-kawasan lain di Asia Tenggara dapat memperoleh informasi tentang perpolitikan aktual di wilayah Khilafah. Berkat peran jaringan ulama trans-nasional ini jualah, para sultan di negeri ini diberi dorongan untuk mengajukan baiat dan ketaatannya kepada Sang Pemimpin Khilafah, Amirul Mu’minin yang diakui ummah. Karena itulah yang lazim tertera dalam kitab-kitab fiqh, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam.

Dan kini, kawasan Gampong Pande masih saja tak terurus. Ketika kita coba mengangkatnya ke dalam wacana dokumenter, masih saja dipermasalahkan atas nama sesuatu yang katanya harga mati padahal ngga dibawa-bawa mati amat.

Begitulah yang namanya hidup, kawan. Penuh drama! Ya tapi asikin aja lah, hehe. Semoga niat tetap lurus mengharap ridho Allah.

و ما توفيقي إلا بالله عليه توكلت و إليه أنيب

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *