Mengapa Umat Islam Tidak Menjadi Umat yang Terbaik? Review Buku “Minhaj: Berislam dari Ritual hingga Intelektual” karya Hamid Fahmy Zarkasyi

Share the idea

Penulis : M Rafi Fakhriananda

Dr. Hamid mengawali bukunya dengan menyajikan satu kisah menarik untuk menggambarkan kondisi terkini umat Islam di seluruh dunia. Kisah tersebut datang dari Syekh Muhammad ‘Abduh yang pada tahun 1884 berkesempatan mengunjungi Paris, Perancis.

Dalam perjalanannya, beliau kagum dengan kondisi masyarakat Barat yang beretos kerja tinggi (pekerja keras), ramah terhadap tamu, bersahabat, serta negaranya berkembang maju, bersih, dan teratur.

Syekh Muhammad ‘Abduh kemudian mengeluarkan pendapatnya yang sangat terkenal, “Al Islam Mahjubun Bil-Muslimin”; “Islam tertutupi oleh Muslim”. Beliau menyimpulkan, bahwa Islam sebenarnya sudah cukup menjadi daya dorong yang luar biasa bagi kemajuan suatu peradaban. Pekerja keras, tertib, bersih, dan ramah juga merupakan perintah agama Islam.

Namun, mengapa justru umat lain yang mengamalkan ajaran itu? Bukankah umat Islam lebih lebih berkewajiban atasnya?

Makna Islam

Dr. Hamid terlebih dahulu menyajikan pembahasan mendasar tentang konsep “Islam”, baik dari segi bahasa maupun istilah. Menurut beliau, konsep Islam dan berislam itu dinamis. Terdapat tiga makna penting dalam kata “Islam”. Ketiga makna tersebut adalah ketaatan, ketundukan, dan keselamatan.

Dr. Hamid membuat korelasi penting dengan salah satu filsafat hukum Barat, yaitu konsep hukum alam (natural law). Yang dimaksud ketaatan adalah sikap seorang manusia untuk menaati sunnatullah.

Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, seorang Muslim tidak boleh berlepas dari sunnatullah. Sunnatullah secara sederhana dipahami sebagai aturan-aturan Allah yang terjelma dalam alam dunia. Seseorang yang lapar hendaknya makan. Seseorang yang haus, maka hendaknya minum. Sunnatullah pada makanan ialah menghilangkan lapar dan minuman menghilangkan haus. Maka, seorang Muslim, secara sederhana, tidak akan mengandaikan laparnya hilang tanpa memakan sesuatu.

Dalam konteks ketundukan, berislam itu tandanya adalah “berserah diri” kepada Allah. Ketundukan erat kaitannya dengan kerelaan. Kerelaan yang dimaksud adalah rela menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Seorang Muslim tidak mungkin dikatakan berislam dengan sempurna tanpa memiliki kerelaan yang sempurna. Kerelaan itulah yang menjadi motor bagi seorang Muslim untuk senantiasa beribadah dalam kesehariannya.

Selanjutnya, konsep ketiga dalam memaknai “Islam” adalah tentang keselamatan. Kata “Islam” yang sangat dekat dengan kata “Salam” dalam bahasa Arab, menyiratkan bahwa keberislaman juga berarti keselamatan.

Keselamatan ini memiliki dua sisi. Sisi yang pertama menekankan sisi personal yang berarti bahwa seseorang yang berislam tidak akan menyakiti dirinya sendiri. Seorang muslim juga akan terjamin keselamatannya di dunia dan akhirat.

Sisi yang kedua menekankan sisi interpersonal atau kemasyarakatan. Dengan demikian, seorang Muslim mustahil menyakiti dirinya sendiri dan orang lain. Apalagi, ketika kita menyaksikan fenomena bom bunuh diri yang dikaitkan dengan aksi terorisme. Tentu tidak masuk akal apabila seorang Muslim yang memahami konsep keselamatan, ternyata melakukan hal yang sangat membahayakan diri dan masyarakat sipil.

Berislam dengan Ritual

Islam mengenal beberapa ritual keagamaan yang memiliki filosofi tersendiri. Beberapa ritual tersebut dikenal sebagai “Rukun Islam”. Seorang Muslim disebut mengalami kecacatan dalam berislam, jika tidak melaksanakan dan menghayati rukun Islam ini.

Kelima rukun Islam tersebut adalah Syahadat, Salat, Zakat, Puasa, dan Haji. Pelaksanaan terhadap kelima rukun Islam tersebut, tidak dapat dipisahkan dari dimensi penghayatan secara filosofisnya. Oleh karena itu, kuantitas dalam menjalankan rukun Islam tidak serta merta memberikan kebaikan tanpa diiringi oleh kualitas yang juga memadai. Keduanya—kuantitas dan kualitas—tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.

Sebagai contoh, salat dalam Al-Qur’an mempunyai dampak mendasar, yaitu mencegah kemungkaran. Namun, apakah banyaknya salat seseorang pasti berkorelasi positif terhadap kualitasnya, yaitu mencegah kemungkaran tersebut?

Sayangnya, jika kita mengamati realita, banyak di antara orang-orang yang salat justru masih saja melakukan berbagai macam kejahatan.

Banyak di antaranya yang melakukan korupsi, menipu, berkata kasar, dan gemar menganiaya sesama saudaranya. Inilah efek apabila kuantitas sekedar dipenuhi tanpa adanya penghayatan terhadap kualitas salat yang sesungguhnya.

Berislam dengan Intelektual

Kehadiran Islam tidak hanya sebagai penuntun ritual manusia dengan Sang Pencipta. Seakan-akan Islam hanya berkutat pada masalah-masalah “melangit” tanpa mengatur masalah-masalah yang “membumi”. Tentu anggapan ini adalah anggapan umum para orientalis yang tidak mengkaji Islam secara objektif. Islam dikesankan sebagai agama yang terasing dan mengasingkan diri. Penuh kebekuan dan anti kemajuan.

Sebaliknya, Islam justru hadir dengan konsep-konsep yang bersifat sebagai pondasi kemajuan suatu peradaban. Islam merupakan cara pandang yang sempurna terhadap segala dimensi realitas. Baik realitas empiris-non empiris maupun realitas fisik-metafisik.

Oleh karena itu, seorang muslim akan menerima sesuatu yang empiris tanpa menganut paham empirisme. Seorang muslim akan mempercayai sesuatu yang tampak, tapi bukan berarti semua yang tidak tampak, maka lantas tidak dipercayai. Beberapa hal dalam Islam tidak dapat diindera penampakannya, tetapi bukan berarti hal tersebut tidak ada. Contohnya adalah dunia pasca kematian.

Dr. Hamid memberikan contoh terkait pengertian cara pandang. Jika seorang muslim melihat daging kambing, ia akan melihat dari dua sisi: pertama, sisi benda atau zat daging tersebut yang kasat mata. Dan kedua, sisi kehalalan daging tersebut yang tak kasat mata. Seorang non-muslim hanya melihat kasat mata zat daging tersebut, tapi mereka tidak akan memikirkan — atau tidak memiliki konsep —mengenai kehalalan suatu daging.

Karena dalam setiap detiknya, Allah telah memerintahkan baik manusia dan jin untuk beribadah (QS Az-Zariyat: 56). Maka, segala hal termasuk di dalamnya makan, bagi seorang muslim selalu memiliki dimensi spiritual di samping dimensi material. Apabila hal ini luput, maka bisa jadi seorang muslim kenyang ataupun kaya raya, tetapi makanan dan harta yang diperolehnya tidak dengan cara yang halal. Akibatnya, seorang muslim dapat terjerumus dalam kesengsaraan di dunia dan akhirat.

Definisi cara pandang Islam yang lebih fundamental diutarakan oleh seorang filsuf muslim modern asal Malaysia, yaitu Syed Muhammad Naquib al-Attas. Dikutip oleh Dr. Hamid, al-Attas dalam bukunya Prolegomena to the Methaphysics of Islam, menyatakan bahwa cara pandang Islam adalah pandangan Islam tentang wujud, yaitu sebuah realitas yang komprehensif. Mencakup empiris dan non-empiris. Dengan demikian, cara pandang Islam atau Islamic Worldview akan menjadi asas-asas pokok bagi segala perbuatan.

Seorang Muslim tidak akan berakhlak baik tanpa memiliki ilmu mengenai apa yang baik dan buruk dalam Islam. Ia juga tidak akan berpikir benar jika tidak mengetahui perbedaan mengenai kebenaran dan kesalahan dalam Islam. Sehingga, trilogi ilmu-iman-amal akan menjadi worldview yang saling berkesinambungan antara satu dengan yang lain dalam pikiran seorang muslim ketika menafsir realitas.

Kesimpulan

Buku ini sangat kaya akan penjelasan mengenai konsep-konsep keberislaman yang menyeluruh. Mulai dari keimanan hingga perbuatan. Dr. Hamid juga menjelaskan dengan sangat sistematis bagaimana keimanan (aqidah) menjadi titik sentral segala macam perbuatan seorang Muslim. Baik yang sifatnya ritual hingga intelektual.

Nilai tambah buku ini juga terdapat pada catatan-catatan kritis beliau terhadap berbagai macam usaha yang mengelirukan cara pandang Islam. Di antaranya adalah paham sekularisme, liberalisme, dan pluralisme. Sehingga, catatan kritis tersebut menambah kekayaan referensi yang terdapat dalam buku ini.

Tesis yang konsisten beliau pertahankan adalah: umat Islam belum maksimal dalam berislam. Oleh karena itu, apabila keberislaman ini telah dihayati secara menyeluruh, maka Islam akan (kembali) bangkit dengan peradabannya yang gilang-gemilang.[]

Rincian Buku:

Judul Buku: Minhaj: Berislam, dari Ritual Hingga Intelektual

Penulis: Dr. Hamid Fahmy Zarkasy

Penerbit: INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations)

Cetakan: 2020/ 311 halaman

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *