Siasat Oligarki Di Negeri Pandemi

Share the idea

Indonesia, negeri muslim terbesar sekaligus wilayah Asia Tenggara yang hari ini menjadi rebutan antara Amerika Serikat (AS) dan China. AS mendapatkan Indonesia setelah berhasil menghilangkan pengaruh Inggris dari kawasan ini serta mengosongkan kekuasaan Indonesia pada tahun 1965 melalui intrik kudeta gerakan komunis. Selain untuk mengeruk kekayaan alamnya serta mengamankan jalur transportasi lautnya yang menghubungkan Samudra Hindia ke Samudra Pasifik, dari Asia menuju Australia, Amerika sangat berkepentingan di Indonesia karena ia menjadi rumah bagi ratusan juta umat Islam.

Di beberapa abad sebelumnya hingga 10 tahun setelah Perang Dunia II, Amerika menyaksikan bagaimana spirit Islam menjadi pemantik semangat perjuangan. Kaum muslimin di Indonesia dengan spirit Islam berhasil mengusir Belanda yang hendak bercokol kembali di negeri ini. Perjuangan kaum muslimin di Indonesia inilah yang menginspirasi bangsa muslim di belahan dunia lain untuk melakukan hal sama ketika negerinya terancam.

Membaca hal tersebut, AS melalui agennya (yaitu rezim yang berkuasa di negeri ini), memastikan agar spirit Islam tersebut tidak kembali muncul dan menghalangi rencana Amerika. Maka Amerika beberapa dekade lalu menggariskan kebijakan penjajahan politik-ekonomi dan alih-alih memilih pendekatan direct action seperti yang ia pertontonkan di kawasan Timur Tengah. Melalui kebijakan ini, Amerika mencoba menutupi penjajahannya dengan istilah “pembangunan ekonomi” dan “demokratisasi”. Pada 1998, AS sekali lagi berhasil mengosongkan kekuasaan di Indonesia. Orde Baru yang berkuasa 32 tahun tumbang. Amerika semakin leluasa berkuasa di Indonesia.

Satu dekade lalu, Amerika disibukkan oleh peperangan di Timur Tengah yang menguras keuangan negaranya. Pada kondisi tersebut, Amerika sedikit melonggarkan cengkramannya di Indonesia. Inilah momen masuknya China dengan dana yang seakan tak terbatas. Rezim baru pun merapat kepada China dan membangun kekuasaan oligarki. Indonesia sedikit demi sedikit keluar dari mulut harimau korporatokrasi yang dibangun Amerika sedekade sebelumnya dan masuk dalam mulut buaya oligarki yang dibangun rezim melalui kucuran dana dari China.

Rezim bukannya pihak yang tanpa kritik. Sejak awal kelahirannya, banyak politisi, ormas Islam, bahkan rakyat yang langsung bereaksi keras terhadap kebijakan rezim. Dengan licik, rezim menjerat banyak politisi dan partai politik dengan jeratan kasus korupsi. Melalui hal ini, pada akhirnya partai politik memilih diam dan segendang sepenarian dengan rezim.

Hal yang sama juga dilakukan rezim kepada ormas-ormas Islam yang menjadi harapan umat untuk kebangkitan Islam di negeri ini. Beberapa ormas Islam tiarap dan memilih bergabung sebagai pendukung rezim. Sebagian yang lain memilih melawan.

Dipicu dukungan rezim pada petahana gubernur DKI Jakarta yang kafir, meledaklah aksi tolak pemimpin kafir yang dimotori oleh HT1 dan FP1. Aksi meledak menjadi demo kolosal 411 dan 212, dan dana triliunan rupiah yang digelontorkan rezim selama pilkada Jakarta untuk memenangkan calonnya menguap.

Untuk selanjutnya, rezim menjadikan HT1 dan FP1 sebagai musuh besarnya. HT1 dicabut BHP-nya secara semena-mena, dan FP1 dirusak citranya melalui tuduhan chat mesum yang menyasar HR5 selaku tokoh berpengaruh FP1. Pasca kepulangannya, perusakan citra ini terus berlangsung melalui beberapa skenario terencana yang menggiringnya ke penjara.

Pergolakan di Indonesia ini dilihat oleh Amerika Serikat di depan hidungnya, namun ia tak bereaksi. AS tak hendak segera mengosongkan panggung kekuasaan Indonesia, meski kebencian rakyat Indonesia terhadap rezim telah mencapai ubun-ubun. Amerika Serikat yang memiliki masalah keuangan seakan lesu darah melihat kolaborasi rezim Indonesia dengan China. Di sisi lain Amerika Serikat memandang masalah Indonesia tak ubahnya pergolakan di Syria, dimana Amerika belum menemukan sosok yang pas untuk menggantikan Bashar Asad.

Wabah COVID-19 yang sedikit melumpuhkan ekonomi China serta perubahan peta politik Amerika sedikit banyak pasti akan mengubah kondisi perpolitikan Indonesia. Rezim tentu melihat ini sebagai ancaman bagi bangunan oligarki yang tengah mereka bangun. Sebuah bangunan yang mencengkeram rakyat Indonesia dengan sangat kejam. Kembalinya HR5, tentu dipandang sebagai ancaman bagi kekuasaan rezim. Ini adalah alarm ancaman dari Amerika agar rezim tunduk patuh pada paman Sam, bukan paman Deng.

Politik Indonesia ke depan terlihat masih suram. Di tengah kondisi pagebluk, rezim justru menari di atas penderitaan rakyat dan semakin menjadi-jadi menumpuk bangunan oligarki politik. Beberapa peristiwa belakangan kembali menegaskan, bahwa tidak ada lagi partai politik di sistem ini yang bisa dipercaya, karena sebenarnya mereka telah terjerat oleh jebakan rezim. Andai ada yang terlihat oposisi, itu hanya fenomena semu agar demokrasi Indonesia terlihat sehat dan rakyat masih mau digiring ke bilik suara untuk melegitimasi kekuasaan rezim.

Lakon politik Indonesia ini mirip dengan lakon wayang Petruk Dadi Ratu yang dulu dikarang oleh Sunan Kalijaga. Petruk, manifestasi rakyat kecil diberi amanah oleh Batara Kresna (penasehat Pandawa) untuk membawa dan menyimpan Jamus Kalimasada (pusaka sakti yang apabila ada pada diri seseorang maka orang tersebut akan menjadi raja). Petruk diamanahi hal ini agar dia dapat segera menyelesaikan krisis di negeri Amarta. Namun apa lacur, Petruk yang otomatis jadi raja justru menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri sendiri, dzalim, dan seenaknya. Ia berpura-pura pro rakyat dan memasang wajah polos, namun berhati iblis.

Karena memegang Jamus Kalimasada, kekuasaan Petruk tak terbantah dan kesaktiannya membuat Pandawa yang dibantu Semar (ayah Petruk) dan saudara-saudara Petruk dari kalangan punakawan takluk dan tidak mampu menjatuhkan Petruk. Lalu tampillah Wisanggeni, putra Arjuna yang dengan gagah berani menghadapi Petruk, mengambil Jamus Kalimasada, dan menghajar Petruk habis-habisan. Ternyata terbukti, yang selama ini memimpin bukan Petruk tapi Batara Kala, dewa pembuat kekacauan dan kejahatan.

Sebuah kisah yang mengandung makna naiknya seseorang yang dianggap pro rakyat pada panggung kekuasaan dengan legitimasi. Namun ternyata ketika duduk di atas kursi kekuasaan, ia berubah jahat. Bak setan berbaju manusia, kombinasi sempurna dalam sistem yang mengizinkannya berlaku semena-mena membuatnya dengan mudah terus merampok sembari duduk di atas singgasananya.[]

Referensi Bacaan:

Abdul Qadim Zallum. 2001. Pemikiran Politik Islam. Pustaka Al-Izzah: Bangil.

Fareed Zakaria. 2008. The Post-American World. W. W. Norton & Company: New York.

Kuntowijoyo. 2018. Identitas Politik Umat Islam. IRCiSoD: Yogyakarta.

Kuntowijoyo. 2018. Muslim Tanpa Masjid. IRCiSoD: Yogyakarta.

Taqiyuddin an-Nabhani. 2003. Al-Syakhsiyyah Al-Islaamiyyah (Jilid 1). Dar al-Ummah: Beirut.

Taqiyuddin An-Nabhani. 2015. Konsepsi Politik Hizbut Tahrir. HTI Press: Jakarta.

Wawan Susetya. 2016. Dari Ilmu Hastha Brata Sampai Sastra Jendra Hayuningrat: Menguak Ilmu Makrifat dan Simbolisasi Perwatakan dalam Khazanah Pewayangan. Kreasi Wacana: Yogyakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *