Apa Jadinya Jika Pejabat Negeri Ini adalah Muslim yang Literat?

Share the idea

Naskah Omnibus Law yang mencapai 1052 halaman (dengan beragam versinya), memanglah epic. Maka, para pejabat negeri ini sejatinya sangat layak disematkan gelar sebagai kaum yang literat.

Jika 1052 halaman itu dihabiskan untuk membaca buku-buku keislaman, buku-buku epic apa saja yang layak ditamatkan oleh para anggota dewan?

(Hampir) menamatkan terjemahan dari buku “Mukaddimah” karya Ibnu Khaldun

Hasil terjemahan dari kitab Mukaddimah ke dalam bahasa Indonesia nya mencapai lebih dari 1088 halaman. Uniknya, buku Mukaddimah ini hanyalah tulisan pendahuluan dari kitab Al-’Ibar yang terdiri dari 7 jilid.

Inilah karya mega-fenomenal yang ditulis oleh cendekiawan muslim abad pertengahan yang bahkan juga diakui dengan julukan “bapak sosiologi Islam”.

(Hampir) menyelesaikan buku “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia” karya Prof. Dr. Raghib As-Sirjani yang dikombinasikan dengan buku “TSQ Stories” Edisi 1 karya Prof. Dr. – Ing. Fahmi Amhar

Gabungan kedua buku ini berjumlah tak kurang dari 862 halaman + 212 halaman.

Keduanya merupakan salah dua buku yang menjelaskan kontribusi para ilmuwan dan ulama muslim terhadap kemajuan peradaban dunia dengan bahasa yang sangat mudah dicerna.

(Hampir) menkhatamkan serial “Api Sejarah” karya Ahmad Mansur Suryanegara.

Sebagai buku yang berhasil membangkitkan kembali dahaga intelektual umat Islam atas sejarah perjuangan santri, ulama, dan kaum muslimin di Indonesia dalam meraih kemerdekaan negerinya, serial ini berjumlah tak kurang dari 1196 halaman.

Merampungkan trilogi bedah buku Khilafah bareng KLI

Tiga buku ini (dua diterbitkan oleh Oxford University Press dan satu diterbitkan oleh Princeton University Press) pernah dibahas dalam acara bedah buku yang diadakan oleh pegiat KLI. Kombinasi buku yang berjumlah 984 halaman ini merupakan hasil penelitian para cendekiawan terkait dinamika isu Khilafah, baik di masa lalu maupun untuk masa depan. Mempelajarinya memberikan kita hikmah, bahwa pembahasan tentang Khilafah bukanlah sesuatu yang serta merta ditolak tanpa adanya diskusi intelektual yang adil.

Menyelesaikan 4 dari 7 rekomendasi buku dari KLI terkait Islam dan Feminisme

Dalam postingan tertanggal 15 Mei 2020, KLI sempat merekomendasikan 7 buah buku seputar Islam dan Feminisme. Rekomendasi tersebut diurutkan berdasarkan komprehensivitas pembahasan, yang jika harus memilih kembali, maka 4 judul awal (dengan total 1009 halaman) adalah buku yang amat sangat direkomendasikan sekali banget.

Jadi, akankah empat buku ini menjadikan para pejabat muslimah berjilbab syar’i dan mengadopsi Islam sebagai ideologi?

Perubahan orientasi politik pasca membaca buku “Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah” dan buku “Malapetaka Runtuhnya Khilafah”

Enlightening, inspiring. Dua buku karya Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi dan Syekh Abdul Qadim Zallum ini memang hanya sebagai awalan, namun pemahaman kita atas kondisi politik di masa akhir Utsmani tentu memberi insight menarik terkait penyebab kemunduran umat Islam hari ini. Masing-masing terdiri dari 706 dan 236 halaman.

Sebagai (pihak yang dekat dengan calon) ahlu nushrah, menyelesaikan 5 buku awal Hizbut Tahrir tentu sangatlah epic (210 + 75 + 81 + 368 + 294 halaman).

Ada banyak sekali pertanyaan seputar Khilafah yang terjawab oleh buku-buku bersampul putih merah ini, yang tentu saja ini hanya menjadi pengantar atas kajian yang lebih intens mengenai mekanisme kerja Khilafah yang dibahas secara rinci dalam puluhan kitab yang diterbitkan oleh Hizbut Tahrir.

Akankah pejabat negeri ini menjadi perantara bagi munculnya ahlu nushrah berikutnya, sebagaimana Sa’ad bin Mu’adz?

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *