Mengapa Semakin Banyak Membaca Justru Semakin Banyak Lupa?

Share the idea

1) Miliki Alasan Kuat dari Pertanyaan, “Mengapa Saya Harus Membaca?”

Umumnya, seseorang akan melakukan suatu perbuatan, ketika ia merasa membutuhkan hal tersebut. Sebagai contoh: manusia membutuhkan aktivitas makan dan minum. Oleh karena itu, ia melakukan aktivitas tersebut. Karena jika tidak, cepat atau lambat, ia akan mati.

Manusia makan dan minum, karena butuh. Manusia menikah, karena butuh. Manusia belajar, karena butuh. Manusia beribadah, karena butuh. Jika tidak didasarkan karena kebutuhan, tentu akan dilakukan setengah-setengah.

Oleh karena itu, aktivitas membaca pun selayaknya dilakukan seperti aktivitas makan dan minum, yang jika tidak dilakukan, akan menyebabkan “kematian”.

Maka, bertanyalah dengan jujur pada diri sendiri, “Mengapa saya harus membaca?”

Apakah membaca hanya sebagai pencitraan untuk terlihat lebih pintar?

Apakah membaca hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu?

Apakah membaca hanya untuk mengisi waktu luang?

Apakah membaca hanya untuk mengikuti trend?

Bagi seorang muslim, ia seharusnya memiliki alasan yang jauh lebih kuat daripada itu.

“Jika membaca bukan untuk Allah, lantas untuk apa?”

Yuk, luruskan niat!

2) Garisbawahi dan Beri Catatan pada Hal-Hal Penting

“Nobody is ever ‘too busy’. If they’ll interested, they’ll make time.”

Ketika menganggap suatu hal itu penting, maka kita cenderung lebih memusatkan perhatian untuk mengingatnya.

Namun, sejatinya sebuah buku menyimpan wawasan berharga yang tak terhitung jumlahnya. Maka, diperlukan strategi khusus agar kita dapat ‘memanggil ulang’ ingatan dari buku yang telah kita baca. Salah satunya adalah membuat catatan khusus.

Hal inilah yang sering luput dan terlupa, atau memang merasa sayang karena buku yang dibeli harganya mahal dan kualitas kertasnya bagus, hingga mencorat-coret, menggaris bawahi, memberi stabilo, melipat, memberi notes, memberi catatan atau komentar dianggap sebagai perbuatan yang ‘mendzalimi’ buku.

Perlu diingat, bahwa sejatinya membaca adalah belajar. Ia tak jauh beda dengan ketika kita belajar untuk ulangan harian di sekolah, ujian akhir semester, ujian tengah semester, ujian nasional, dan ujian-ujian lainnya.

Mari kita renungi lagi, “Untuk apa membaca jika kita tak dapat memahami dan menjelaskan kembali apa yang telah selesai kita baca?”

Memang betul, tidak harus digarisbawahi. Tidak harus distabilo, tidak harus dilingkari, tidak harus diberi checklist, tidak harus diberi catatan pinggir, tidak harus diberi komentar, tidak harus diberi catatan dan notes. Itu semua hanyalah cara. Maka, lakukanlah! Dan temukanlah cara tersendiri untuk lebih cepat dalam mengingat hingga kita dapat menjelaskan kembali berbagai wawasan penting tersebut dengan gaya bahasa kita sendiri.

3) Sampaikan Ulang Apa Yang Telah Dibaca

Buku adalah jawaban atas berbagai pertanyaan yang ada di benak banyak orang. Maka, berperilakulah layaknya seorang guru yang sedang menyampaikan jawaban atas pertanyaan murid-muridnya.

Untuk menguji seberapa dalam pemahaman kita, idealnya kita mengajarkan kembali hal yang telah dibaca kepada orang lain dengan lisan. Itulah salah satu alasan kenapa guru semakin ahli dalam menyampaikan materi yang sama berulang kali, bahkan seolah menjadi kebiasaan yang muncul secara otomatis.

Jika kita belum berkesempatan untuk mengajarkan atau menyampaikannya melalui lisan, maka sampaikanlah melalui tulisan. Baik melalui media cetak, blog, maupun media sosial. Dengan menulis, kita dipaksa untuk membaca berulang kali. Tentu saja proses ini akan jauh lebih cepat jika sebelumnya kita telah memberi catatan khusus terhadap hal-hal penting dalam isi buku.

“If you can’t explain it to a six year old, you don’t understand it yourself”

(Albert Einstein)

4) Ciptakan kondisi yang efektif

Tantangan!

Berapa menit kita dapat fokus membaca tanpa terganggu hape? 10 menit? 15 menit? 20 menit?

Tanpa sadar, smartphone menjadikan kita memiliki sebuah ‘ketergantungan’. Namun, poin pentingnya adalah “Bagaimana kita dapat menciptakan suasana yang kondusif demi mendapat fokus dalam membaca?”

Membaca di lingkungan ramai kah?

Membaca di ruangan sepi kah?

Membaca di perpustakaan kah?

Membaca di dalam kereta kah?

Suasana kondusif tak hanya berbicara tentang tempat, namun juga waktu. Kondisi otak dan badan yang masih fresh dan kosong dari rumitnya pikiran serta beban hidup, membuat membaca sebelum dan setelah subuh menjadi pilihan menarik.

5) Menghindari ‘overdosis’

Mencicil suatu pekerjaan cenderung memudahkan kita dalam mencapai target daripada menumpuknya. Memakan 300 gram pizza yang dibagi menjadi 8 bagian tentu cenderung lebih mudah dibandingkan memakan 300 gram pizza yang hanya dibagi menjadi 2 bagian.

Sama halnya dengan membaca buku.

Kita cenderung mencari waktu yang benar-benar kosong demi menamatkan sebuah buku, dan barangkali waktu tersebut adalah antara Sabtu dan Minggu. Hingga sebagian besar waktu kita dalam sehari dihabiskan dengan membaca buku.

Cobalah cara baru dengan membaca 15 menit saja, namun dilakukan setiap hari. Istiqomah. Buat kebiasaan baru, lakukan perlahan, step by step. Ketika telah terbiasa, maka tingkatkan secara perlahan, 15 menit x 2 waktu (sebelum dan setelah subuh misalnya), 15 menit x 4 waktu (sebelum subuh, setelah subuh, sebelum maghrib, sebelum tidur), dan seterusnya. Kala mata sudah lelah, beranjaklah. Kopi dan teh barangkali dapat menjadi teman setia.

6) Teruslah Mendekatkan Diri Pada Allah

“…niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”

(TQS. Al-Mujadilah/58:11)

Allah Yang Maha Memuliakan, Allah pula Yang Maha Menghinakan. Allah lah satu-satunya dzat yang berkehendak menitipkan ilmu-Nya pada kita, maka Allah pula yang berkehendak mengambil kembali titipan-Nya hingga membuat kita lupa.

Lantas, bukankah terus mendekat adalah cara terbaik untuk selalu mendapat rahmat-Nya?

Demikianlah, beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mengurangi efek lupa setelah banyak membaca. Setiap orang memiliki caranya masing-masing. Nah, bagaimana denganmu? []

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *