Kondisi Khilafah Pasca Pembantaian Mongol

Share the idea

Pemerintahan Islam di tangan dinasti Umayyah dan ‘Abbasiyyah setelah masa Khulafa’ al-Rasyidin berjalan penuh dinamika dan fluktuasi. Sepeninggal Khalifah Harun al-Rasyid, Khilafah ‘Abbasiyyah mengalami kemunduran. Perselisihan internal, persaingan antar-faksi militer dan birokrat, dan ancaman dari pemberontakan mewarnai keseharian negara yang beribukota di Baghdad itu. Tatkala Khalifah al-Musta’sim berkuasa (k. 640-656/1242-1258), umat Islam menghadapi prahara baru dengan adanya invasi besar-besaran dari bangsa Mongol yang datang dari arah Timur.

Walaupun al-Musta’sim dikenal sebagai pribadi yang saleh, jantan, dan easy-going, namun untuk kapasitas seorang pemimpin dia sangatlah lemah, tidak punya pengalaman dan miskin kemampuan manajemen. Padahal, jauh sebelum al-Musta’sim hidup, Imam Ahmad b. Hanbal (w. 241/855) pernah berucap,

“(Muslim) pendosa yang memiliki kapabilitas memimpin itu kapabilitasnya berguna bagi umat Islam dan perbuatan dosanya merugikan diri sendiri, sedangkan orang baik yang tidak punya kapabilitas memimpin maka kebaikannya untuk dirinya dan kelemahannya akan merugikan umat Islam.”

Malang bagi sang Khalifah, bahwa ia memiliki seorang menteri yang oleh Ibn al-‘Amid dinilai sifat khianatnya sudah begitu mahsyur. Ia adalah Mu’ayyad al-Din Muhammad b. al-‘Alqami, seorang Syiah. Dialah yang mengundang Hulegu Khan, pemimpin bangsa Mongol untuk datang ke Baghdad. Kedatangan Mongol yang laksana awan mendung yang memenuhi langit dan siap memuntahkan api listrik, membuat penduduk Baghdad waspada.

Pada awalnya, penduduk Baghdad berusaha untuk melawan. Namun, Ibn al-‘Alqami mencegah mereka dengan alasan ia ingin bernegoisasi dengan pasukan Mongol, dan jangan sampai membuat pasukan Mongol marah yang disebabkan oleh serangan rakyat Baghdad sebelum terjalinnya negoisasi.

Sesampainya di depan Hulegu, Ibn al-‘Alqami justru meminta Hulegu untuk membunuh al-Musta’sim agar kekuasaan Mongol semakin terjamin. Pada akhirnya, Baghdad dihancurkan oleh pasukan Mongol hanya dalam waktu beberapa hari. Penduduknya dibantai dan khazanah intelektual umat Islam dimusnahkan. Baghdad, sontak menjadi kota kosong. Akibat peristiwa itu, maka kosong pula jabatan Khalifah selama sekitar 3 tahun, sejak 1258 sampai tahun 1261.

Ada beberapa keturunan Bani ‘Abbas yang selamat dari peristiwa pembantaian Baghdad pada 1258. Menurut Snouck Hurgronje, di antara mereka ada yang berhasil meloloskan diri dan kini berbaring di sebuah makam di Sumatera Utara. Ada lagi yang berhasil mengungsi ke Mesir dan mendapat suaka dari penguasa Mamluk yang berkuasa di sana.

Kaum Mamluk kemudian membai’at salah satu keturunan Bani ‘Abbas ini, yakni Abu al-Qasim Ahmad b. al-Zahir. Beliau kemudian digelari sebagai al-Mustansir Billah, sebagai Amir al-Mu’minin, Khalifah umat Islam yang baru, setelah tiga tahun dunia Islam tidak memiliki seorang Khalifah. Dengan seorang Khalifah yang berada dalam lindungannya, penguasa dinasti Mamluk menikmati posisi mereka sebagai Na’ib al-Sultan, wakil dari Khalifah.

Ketika Mamluk menjadi pusat gravitasi dunia Islam dengan Khalifah Bani ‘Abbas di sisi mereka sebagai daya tariknya, penguasa-penguasa Muslim dari dinasti lain tunduk kepada Mamluk dan menyatakan loyalitasnya. Termasuk Utsmani yang kekuatannya saat itu semakin lama semakin besar dan menjadi penantang utama Eropa.

Tatkala Sultan Mehmed II (Muhammad Al Fatih) dari Negara ‘Utsmani berhasil menaklukkan Konstantinopel pada 1453, dia mengirimkan surat kepada Sultan Mamluk yang baru naik takhta, Inal (k. 1453-1461) akan berita kemenangan tersebut. Inal pun segera mengirim utusan ke Konstantinopel yang dijadikan Mehmed II sebagai ibukota ‘Utsmani yang baru itu untuk mengucapkan selamat atas kemenangannya.

Sayangnya hal tersebut tak berlangsung lama, karena pada 1454 Sultan Inal memutuskan untuk membantu musuh bebuyutan Mehmed II dari dinasti Karaman, Akkoyunlu. Sebagaimana yang dicatat Ibn Iyas, setelah itu tidak ada lagi pengiriman utusan persahabatan antara ‘Utsmani dan Mamluk.

Ketika masa pemerintahan Bayezid II, maka Mamluk dan ‘Utsmani menjalin hubungan baik kembali karena keduanya saling membutuhkan untuk melawan dinasti Safavi (Safawiyah) di Persia. Baik ‘Utsmani maupun Mamluk menganggap penyebaran sekte Syiah yang didukung oleh Safavi adalah berbahaya.

Ketika Selim I (cucu Muhammad al-Fatih) naik tahta tahun 1512, Mamluk mengirimkan utusannya bernama Emir Akbay untuk memberikan selamat. Namun, hubungan Mamluk dan Utsmani justru semakin memburuk khususnya setelah anak-anak dari pangeran Ahmet (keponakan Selim I, penerus takhta Utsmani), yaitu Suleyman dan Alauddin mengungsi ke Kairo dibawah perlindungan Sultan al-Asyraf Qansuh al-Gauri dari Mamluk. Peristiwa itu, ternyata justru membuat Selim I menjadi marah.

Qansuh al-Gauri yang menyadari konsekuensi perbuatannya juga turut bersiap-siap menghadapi kemarahan Selim I. Untuk mengukuhkan legitimasi kekuasaannya di hadapan pasukan ‘Utsmani, Qansuh al-Gauri memerintahkan Khalifah al-Mutawakkil III untuk berangkat ke medan peperangan Marj Dabiq di Suriah, sesuatu yang menurut Ibn Iyas tidak pernah dilakukan oleh sultan-sultan Mamluk sebelumnya. Namun sayang, usaha Qansuh al-Gauri tersebut kurang digubris oleh masyarakat, karena kepemimpinannya sendiri dirasakan oleh rakyatnya begitu zalim. Akhirnya dia berangkat sendiri ke Suriah dan menempatkan keponakannya, Tumanbay, sebagai wakil Sultan di Kairo.

Eugene Rogan menggambarkan begitu dramastis peperangan yang berlangsung antara Mamluk dan ‘Utsmani di medan Marj Dabiq. Walau datang dengan pasukan yang begitu megah, dimana Khalifah al-Mutawakkil III al-‘Abbasi beserta 40 syarif yang memegang Al Quran berlapis sutra kuning berada di sisi mereka, pasukan Qansuh al-Gauri sangat kesulitan menghadapi pasukan Selim I yang tangguh, yang diperparah dengan teknologi senapan (arquebus) yang telah digunakan oleh pasukan ‘Utsmani.

Eugene Rogan menggambarkan begitu dramastis peperangan yang berlangsung antara Mamluk dan ‘Utsmani di medan Marj Dabiq. Walau datang dengan pasukan yang begitu megah, dimana Khalifah al-Mutawakkil III al-‘Abbasi beserta 40 syarif yang memegang Al Quran berlapis sutra kuning berada di sisi mereka, pasukan Qansuh al-Gauri sangat kesulitan menghadapi pasukan Selim I yang tangguh, yang diperparah dengan teknologi senapan (arquebus) yang telah digunakan oleh pasukan ‘Utsmani.

Gemuruh peperangan yang membara akhirnya menetapkan pasukan ‘Utsmani sebagai pemenang. Qansuh al-Gauri terbunuh dalam pertempuran. Kemudian, Selim melanjutkan kampanye militernya menuju Kairo untuk menumpas habis sisa-sisa kekuatan Mamluk yang kini dipimpin oleh Tumanbay. Januari 1517, Tumanbay berhasil dieksekusi dan Selim menjadikan Mesir sebagai wilayah baru dari ‘Utsmani. Selim kembali ke Istanbul dengan membawa al-Mutawakkil III dan diberi tempat tinggal serta pelayanan yang baik di sana. Juli 1517, Syarif Makkah mengirim kunci Ka’bah sebagai simbol transisi politik kepada ‘Utsmani. Peristiwa ini menandakan masuknya wilayah Hijaz sebagai wilayah kekuasaan ‘Utsmani dan mengukuhkan Selim I sebagai Khalifah pertama yang bukan keturunan Quraisy.

Terjadi perbedaan pendapat terkait tempat Selim I menerima gelar dan legitimasi sebagai Khalifah dari al-Mutawakkil III. Ada yang mengatakan prosesi tersebut berlangsung di Masjid Aya Sophia di Istanbul, ada pula yang menyebut di Masjid Agung Aleppo pasca-pertempuran Marj Dabiq. Yang jelas, sebagaimana yang ditandaskan oleh Inalcik, setelah peristiwa ini ‘Utsmani bukan lagi hanya sekedar negara tapal batas antara dunia Islam dengan Eropa, tapi juga sebagai Khilafah Islam, dan sultan-sultannya bukan lagi berfungsi hanya sekedar penjaga tapal batas wilayah Eropa-Islam, tapi sekaligus pelindung kaum Muslim di seluruh dunia.

Dalam literatur ‘Utsmani, sebutan “Khalifah” untuk Yavuz Sultan Selim terdapat pada manuskrip yang ditulis oleh Lütfi Pasha yaitu Tevarih al-Osman (Sejarah-Sejarah Dinasti ‘Utsmani). Dalam Tevarih, Lutfi menulis adanya dua ulama Transoxania yang menyebut Selim sebagai “Alexander Kedua” (Iskender-i Sani); “Messiah Akhir Zaman” (Mehdi-yi Ahir-i Zaman); dan “Kekuatan Ilahi” (Kudret-i Ilahi). Selim juga disebut sebagai “Syah yang duduk di takhta Khalifah” (hilafet-serirun sahi) dan “Khalifah Allah dan Nabi Muhammad” (Khoda-ra o Muhammad-ra Khalifah). Wallahu a’lam bis Shawab. []

Sumber dan Rekomendasi Bacaan:

A.C.S. Peacock, Three Arabic Letters from North Sumatra of the Sixteenth and Seventeenth Centuries, Indonesia and the Malay World Vol. 44, 2016.

Eugene Rogan, Dari Puncak Khilāfah: Sejarah Arab-Islam Sejak Era Kejayaan Khilāfah Utsmaniyah, terj. Fahmy Yamani (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2017).

Halil Inalcik. 2001. The Ottoman Empire.  Phoenix Press: New Haven.

Ibn Taimiyyah, al-Siyāsah al-Syar’iyyah fī Iṣlāhi al-Rā’i wa al-Rā’iyah, (Beirut: Dar al-Jīl, 1413/1993) dalam Syamsuddin Arif, Islam dan Diabolisme Intelektual, (Jakarta: INSISTS, 1438/2017).

Mona Hassan. 2017. Longing for the Lost Caliphate. Princeton University Press: Princeton.

Muḥammad b. Iyas, Badā’i al-Żuhūr fī Waqā’i al-Duhūr, (Wiesbaden: Franz Steiner, 1960) dalam Mustafa Banister, The Abbasid Caliphate of Cairo.

Mustafa Banister, The Abbasid Caliphate of Cairo (1261-1517): History and Tradition in the Mamluk Court, (Tesis S3 Departement of Near and Middle Eastern Civilizations, University of Toronto, 2015).

Ralph S. Hattox, Mehmed the Conqueror, the Patriarch of Jerusalem, and Mamluk Authority, Studia Islamica, No. 90, 2000.

Snouck Hurgronje. 1993. Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje VI . INIS: Jakarta.

Share the idea