Mengapa Aktivitas Literasi dan Ngaji ditinggalkan?

Share the idea

Ismail ibn Abdullah berkata bahwa Sa’dun menulis surat kepada salah satu teman nya sebagai berikut,

“Orang yang menggunakan cangkul pemahaman akan kuat melubangi parit kegigihan. Orang yang mendatangi sumur pengetahuan akan mendapatkan air dari ember kesungguhan. Orang yang melihat ke cermin pemikiran akan hilang darinya kenikmatan kantuk”. (Ditulis oleh Abu Qasim An-Naisaburi, dalam buku “Kebijaksanaan Orang-Orang Gila”).

Cukuplah ungkapan dari Sa’dun tersebut menggambarkan, bahwa kita, selaku umat Islam, haruslah bersungguh-sungguh dan melakukan usaha semaksimal mungkin demi meraih ilmu.

Salah satu masalah terbesar umat Islam saat ini adalah ketika setiap individu umat telah terpengaruh oleh kapitalisme, sehingga menjadikan standar kemuliaan hanya berdasarkan perolehan materi.

Akibatnya, ketika tsaqofah Islam dirasa tidak mendatangkan keuntungan materi, maka aktivitas literasi, ngaji, dan diskusi pun ditinggalkan.

Padahal, berbagai tsaqofah Islam yang kita pelajari, sudah selayaknya menjadi tambahan wawasan kita, demi terwujudnya kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah), melalui pembentukan pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) kita.

Sudah saatnya kita sebagai umat terbaik (khoiru ummah) mengevaluasi diri, “Sudah seberapa besar kesungguhan dalam mendapatkan ilmu? Sudahkah kita banyak pengorbanan yang selama ini kita lakukan sudah layak?

Maka, sudah selayaknya kita kembali mengingat, standar kemuliaan yang telah Allah tetapkan sebagai pedoman hidup umat Islam

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“…Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu….” (TQS Al-Hujurat 13)

Sumber:

Abu Qasim An-Naisaburi. 2018. Kebijaksanaan Orang-Orang Gila: 500 Kisah Muslim Genius yang Dianggap Gila dalam Sejarah Islam. Wali Pustaka: Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *