Benarkah Terorisme Adalah Musuh Umat Manusia?

Share the idea

Terdapat anekdot menggelikan tentang terorisme dan petir. Sebelum peristiwa 9/11, warga yang terbunuh di AS karena tindakan terorisme jauh lebih sedikit dibanding yang terbunuh karena serangan petir.[1]

Peristiwa 9/11 seakan menjadi titik balik dari konsepsi common enemy di komunitas internasional. Sebelum adanya peristiwa 9/11, terorisme masih dilihat sebagai kejahatan kecil (potensi dampaknya belum dilihat secara luas bagi komunitas global).

Pasca peristiwa itu, AS meyakinkan dunia bahwa ia dan aliansinya harus menghancurkan rezim yang mensponsori terorisme. Tak lain dan tak bukan, adalah Afganistan dan Iraq yang dituduh oleh AS telah menyembunyikan senjata pemusnah massal. Oleh karena itu, AS dan aliansinya harus segera mengambil tindakan dengan cara menyerangnya terlebih dahulu sebelum AS dan negara-negara lain yang diserang duluan (preventive strike).[2]

Argumen itulah yang melandasi invasi AS ke Afganistan dan Iraq di tahun 2003. Namun, perang yang dipimpin AS di Iraq ini, ternyata justru menyebabkan “serangan balik terorisme”. Artinya, perang cenderung meningkatkan, bukan menurunkan potensi rekrutmen terorisme internasional.[3]

Dalam tesis magisternya, Mubarok menyebutkan bahwa saat terjadi peristiwa ledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton (2009-2010), media Indonesia, seperti Kompas, banyak memberitakan bahwa terorisme merupakan musuh demokrasi. Kompas sendiri bahkan sampai mengutip pernyataan dari Presiden Prancis Nicholas Sarkozy, “… terorisme adalah musuh demokrasi”.[4]

Baris atas: Menara Kembar World Trade Center terbakar. Baris ke-2, dari kiri ke kanan: Bagian Pentagon yang roboh; Penerbangan 175 menabrak 2 WTC. Baris ke-3, dari kiri ke kanan: Seorang petugas pemadam kebakaran meminta bantuan di lokasi World Trade Center; Mesin dari Penerbangan 93 ditemukan. Baris bawah: Tabrakan Flight 77 dengan Pentagon seperti yang ditangkap oleh tiga bingkai CCTV berturut-turut

Mari kita coba konstruksikan kembali apa yang sebenarnya lebih pantas disebut sebagai common enemy. Hal ini dimulai dengan pertanyaan, “common enemy bagi siapa?”.

Jawabannya, tentu saja adalah musuh bersama bagi umat manusia seluruhnya, bukan bagi eksistensi rezim maupun kekuasaan pihak-pihak tertentu.

Lalu, apa yang paling mengancam eksistensi manusia dan kesejahteraannya? Terorisme memang salah satunya. Namun, apakah terorisme adalah ancaman terbesar bagi eksistensi manusia dan kesejahteraannya? Matt McFarland, di dalam tulisanya yang dimuat di halaman Washington Post dengan judul “The 12 Threats to Human Civilization, Ranked”, ia menyebutkan bahwa terdapat 12 hal yang dapat mengancam peradaban manusia.[5]

Kedua belas ancaman tersebut seperti, kecerdasan buatan, unknown consequences, biologi buatan, perubahan iklim secara ekstrim, nanoteknologi, perang nuklir, ancaman jatuhnya asteroid, global pendemik, letusan gunung berapi besar, runtuhnya ekologi, runtuhnya sistem status quo, dan pemerintahan global yang buruk. Dari semua itu, kita berusaha mencari faktor yang paling mengancam.

Kalau kita berkenan untuk menengok sejarah peradaban masa lalu, kita akan mendapati banyak fakta bahwa banyak manusia terbunuh karena perang dan wabah penyakit. Untuk hasil yang instan dan masif, tak berlebihan jika kita nobatkan perang sebagai ancaman yang paling berpotensi memusnahkan manusia sekaligus.

Nyatanya, berubahnya arus perpolitikan dunia memang karena perang, sebagaimana ketika perang dunia kedua melahirkan dua negara adidaya (Amerika Serikat dan Uni Soviet), melemahkan dua negara adidaya sebelumnya (Inggris dan Prancis), dan melenyapkan eksistensi dua negara lainnya (Italia dan Jerman).[6]

Banyak orang-orang terdahulu tewas sia-sia akibat perang yang diciptakan oleh pemimpin-pemimpin ekspansionis dan haus akan kekuasaan. Khususnya, peperangan irasional dan tanpa aturan yang melibatkan masyarakat sipil, perempuan, hingga anak-anak.

Penguasa-penguasa yang rakus juga pada akhirnya berbuat sewenang-wenang, hingga menimbulkan kesengsaraan pada rakyatnya. Bahkan, kesengsaraan itu juga dialami rakyat dari negara lain, dengan tingkat yang lebih parah. Kesengsaraan tersebut disebabkan kerakusaan dari negara ekspansionis untuk merebut kekayaan alam dari negara lain. Atas nama demokratisasi dan perang terhadap terorisme, negara itu bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat dan kedaulatan negara lain. Melanggar aturan-aturan yang mereka buat sendiri, tanpa tedeng aling-aling.

Negara seperti itu seakan menjadi pahlawan di setiap tindakannya. Padahal ia, ingin menguasai berbagai sumber daya untuk menopang keberlangsungan hegemoninya supaya kerakusan mereka terus terpenuhi. Mereka, bahkan menciptakan pesawat-pesawat tanpa awak yang dipersenjatai untuk diterbangkan di wilayah negara lain serta membantai rakyat sipil.

Semua itu dilakukan dengan legitimasi perang terhadap terorisme, padahal ia sendiri yang patut kita sebut sebagai teroris. Tak jauh berbeda dengan pihak-pihak yang menggunakan isu radikalisme, mereka menggunakan kekerasan hingga pembunuhan, demi melanggengkan kekuasaan dan menutup aib-aibnya.

Terorisme memang musuh bersama bagi manusia. Namun, tindakan terorisme tak hanya dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu. Terorisme, juga dapat dilakukan oleh sebuah negara demi menjaga eksistensi kekuasaanya. Kerakusanya tak pernah merasa terpenuhi, meski telah merampok banyak sumber daya di negara lain.

Negara dan penguasa seperti itulah yang patut disebut teroris dan musuh bersama, karena ia akan melakukan berbagai cara termasuk menginvasi dan mengobrak-abrik tatanan internasional yang tak sesuai dengan kepentingannya. Negara seperti inilah yang telah banyak menyengsarakan rakyat di negara lain dengan tindakan-tindakanya tersebut.[]

Sumber:

[1] Mueller, J. (2004). The Remnants of War. New York: Cornell University Press.

[2] Farid Wadjdi. 2010. Menantang Amerika: Menyingkap Imperialisme Amerika di Bawah Obama. Al Azhar Press. Bogor.

[3] Mann, M. (2003). Incoherent Empire. London: Verso

[4] Mubarok, Mubarok. (2010). Stigmatisasi Pemberitaan Terorisme di Media Massa. Semarang: Universitas Diponogoro. http://eprints.undip.ac.id/38355.

[5] McFarland, Matt. The 12 Threats to Human Civilization, Ranked. https://www.washingtonpost.com/news/innovations/wp/2015/02/20/the-12-threats-to-human-civilization-ranked/

[6] Muhammad Musa. 2003. Hegemoni Barat terhadap Percaturan Politik Dunia: Sebuah Potret Hubungan Internasional. Wahyu Press: Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *