BudayaSejarah

Benarkah Masa Sebelum Islam Datang Layak Disebut Era Hindu-Buddha?

Share the idea

Mungkin kita menyangka, bahwa benturan peradaban (clash of civilization) itu hanya  terjadi di pusat negeri kaum muslimin, yakni Timur Tengah. Padahal, wilayah muslim yang juga mengalami benturan hebat itu adalah negeri kita yang notabene jauh dari pusat peradaban Islam. Menariknya, perubahan arah peradaban di Nusantara, ternyata memang banyak dipengaruhi oleh agama. Yang pertama adalah proses Islamisasi, dan yang kedua adalah nativisasi.

Nativisasi adalah gerakan untuk mengecilkan peran Islam pada sebuah bangsa dengan cara membangkitkan budaya atau sejarah keagungan pra-Islam dan secara licik, menggambarkan Islam sebagai sesuatu yang asing dan merusak kebudayaan lama. Nativisasi dilakukan oleh Prancis di Mesir dan Inggris di India, lalu diujicoba juga di Jawa pertama kali oleh Thomas Stanford Raffles.

Borobudur, digali kembali oleh Raffles, perwakilan Inggris ketika menjajah Indonesia. Jadi, apa kepentingan Raffles – yang bukan seorang Buddha – menggali bangunan yang sudah lama tertimbun abu vulkanik dan diabaikan masyarakat?

Agama Nusantara di Masa Pra-Islam

Jauh sebelum era Hindu Buddha, Nusantara bukanlah wilayah yang kosong dari agama. Kebudayaan awal yang berkembang di Nusantara adalah Kebudayaan Melanesoid. Kebudayaan ini adalah satu kebudayaan yang memiliki sistem kepercayaan penyembahan terhadap roh leluhur, termasuk bahwa Tuhan (sebagai roh tertinggi) memberikan kekuatan ke benda-benda alam seperti gunung, lautan, sungai, batu besar, pohon, yang juga dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh nenek moyang mereka. Di negeri kita, peninggalannya digambarkan dengan punden berundak: bahwa di puncak tertingginya, berdiam roh leluhur.

Karena gejolak politik, di abad ke-3 M terjadi perpindahan beberapa dinasti dari India ke negeri kita, sebuah wilayah yang sebenarnya sudah sejak sebelum masehi memang kerap menjalin hubungan dengan India (bahkan sampai ke Afrika), khususnya melalui jaringan lalu lintas laut. Di masa inilah, mulai muncul masa kerajaan yang skalanya lebih besar. Jadi, sebenarnya di awal, sistem sosial politik di Nusantara itu adalah sebuah bangsa di mana entitas terbesarnya adalah skala desa.

Di Indonesia Timur misalnya, kita akan menemukan bahwa kerajaannya kecil dan hanya berskala kecamatan. Kerajaan masa ini tidak bisa dibayangkan sebagai sebuah kerajaan yang besar dan luas.

Ketika migrasi dari India, terjadi perubahan besar melalui pengenal 3 sistem: 1) sistem pemerintahan baru berupa kerajaan besar, 2) sistem sosial baru yakni kasta, dan juga 3) agama baru, yaitu Hindu, walau faktanya agama Hindu bersifat elitis (karena adanya sistem kasta) dengan mayoritas penganutnya adalah kalangan istana.

Melalui fakta ini, para sejarawan sebenarnya meragukan, bahwa benarkah era sebelum Islam datang di Nusantara itu layak disebut sebagai era Hindu-Buddha? Karena ternyata, di zaman sebelum era Islam, Hindu Buddha itu bukan agama mayoritas penduduk Nusantara, karena sistem kasta itu sendiri.

Lalu mengapa era sebelum Islam disebut era Hindu Buddha? Inilah yang kemudian mengenalkan kita pada nativisasi, yang strateginya akan kita bahas di bagian selanjutnya.

Adapun terkait agama Buddha, meski asalnya sama-sama dari India, namun mendapat pengaruh besar sebagai hasil hubungan dengan Tiongkok. Di Nusantara, agama ini berkembang pesat di masa Dinasti Tang (618 – 907 M) yang sangat mendukung penyebaran Buddha. Walhasil, muncul Kerajaan Sriwijaya yang sangat erat dengan unsur Buddha-nya.

Ada juga wangsa Syailendra yang juga berasal dari Sriwijaya. Wangsa inilah yang nanti memimpin di dua tempat, yakni Sriwijaya dan Medang (Kerajaan Mataram kuno yang nanti mewariskan Borobudur). Wangsa ini didukung oleh Dinasti Tang. Narasi kritisnya adalah, dukungan ini bermotif untuk menggulingkan Sri Indrawarman (k. 702 – 728 M), raja pertama Nusantara yang tercatat berkirim surat dengan Khalifah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz dan memeluk Islam.

Riwayat dari Nu’aim bin Hammad yang menceritakan tentang korespondensi antara Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan ‘Malik al-Hind’ (Raja India/Sriwijaya). (Sumber: S. Q. Fatimi, Two Letters From The Maharaja to the Khalifah, hal. 126)

Yang ketiga adalah yang paling menarik, yakni Bhairawa Tantra. Sekte hasil sinkretisme Buddha aliran Mahayana dan Hindu aliran Siwa inilah yang banyak mendominasi kisah-kisah sejarah Nusantara di masa pra-Islam. Sekte ini juga memiliki ritual yang paling mengerikan. Para penganutnya sering digambarkan sebagai raksasa dan siluman pemakan manusia.

Kalau di cerita Aji Saka, Raja Dewata Cengkar yang dibunuh Aji Saka itu adalah penganut Bhairawa Tantra, karena dia makan daging manusia, yang merupakan bagian dari ritual mereka. Kisah lainnya adalah Timun Mas dan legenda Calon Arang. Contoh ritual lain mereka adalah, molimo, yang nantinya ditentang dan digubah oleh Sunan Ampel. Bhairawa Tantra banyak dianut oleh elit Kerajaan Singasari dan Majapahit.

Yang keempat adalah Kapitayan. Inilah agama mayoritas penduduk Nusantara di era pra-Islam, bahkan sebelum Hindu-Buddha datang ke Nusantara. Agama Kapitayan ini menarik, karena dia adalah suatu sistem kepercayaan kuno yang menyembah roh leluhur namun sudah mengenal satu Tuhan. Kalau di Jawa, Tuhan mereka sering digambarkan sebagai Sang Hyang Toyo (Taya).

Menurut mereka, Tuhan itu “tan keno kiniro” (tak bisa dikira-kira wujudnya) dan “tan keno kinoyo ngopo” (tak bisa digambarkan seperti apa). Makanya nanti, bentuk ritual peribadatannya berbentuk pundenberundak, yang di bagian atasnya datar dan kosong, tanpa hiasan apapun. Sebab, Tuhan tidak bisa digambarkan seperti apa (kosong), berada di puncak, dan Tuhan mewujudkan kekuatannya kepada benda-benda yang dianggap magis.

Kapitayan dan punden berundak, punya pengaruh kuat di Nusantara. Karena pengaruhnya, arsitektur candi di Indonesia dan India banyak berbeda.
Candi Sukuh (kiri) dan arsitektur umumnya candi di India (kanan).

Kapitayan juga populer di masa Majapahit. Makanya, candi-candi yang muncul di akhir Majapahit, apalagi yang berkaitan dengan ritual keagamaan (seperti Candi Sukuh yang bentuknya paling aneh) ternyata dibuat oleh penganut Kapitayan.

Bentuknya yang seperti piramid bukan berarti berhubungan dengan Mesir kuno atau Aztec. Itu hanya bentuk lebih modern dari punden berundak, yang akhirnya banyak ditemukan, mulai dari Sumatra sampai Papua. 

Menariknya, kita sering salah pengertian. Masjid-masjid kuno (Masjid Agung Demak misalnya), atapnya berbentuk meru. Di berbagai narasi sejarah, katanya hal itu terpengaruh oleh agama Hindu. Padahal masjid-masjid tersebut dibangun untuk menarik para penganut Kapitayan agar tertarik pada Islam.

Punden berundak dan pengaruh ajaran Kapitayan banyak digunakan pada masjid-masjid kuno di Nusantara. Masjid Agung Demak (kiri) dan Masjid Tua Indrapuri di Aceh (kanan). Secara filosofis, atap bertingkat itu kemudian digubah menjadi tiga tingkatan seorang muslim dalam beragama: iman, islam, ihsan.

Uniknya, atap masjid berbentuk meru ini kita temukan di banyak lokasi di Indonesia. Di India saja yang menjadi asal agama tersebut, tidak jamak ditemukan bentuk bangunan yang beratap meru. Pun dengan banyaknya bangunan Hindu maupun Buddha di kepulauan Nusantara yang berbentuk meru, karena pengaruh ajaran Kapitayan juga.

Di Jawa saja, kenapa sih sholat dibahasakan menjadi sembahyang? Karena orang-orang Kapitayan menganggap Tuhan tertinggi mereka adalah Hyang. Islam lalu menjelaskan, bahwa Allah itu konsepnya sama dengan Tuhan mereka: tidak bisa diindra.

Hal ini semakin menarik ketika Islam datang. Mereka yang awalnya adalah penganut Kapitayan, dan melihat Islam sebagai agama yang konsep ketuhanannya kurang lebih sama dengan agama mereka, kemudian justru tertarik karena Islam selain banyak miripnya, juga memberikan konsep hidup yang jelas.[]

Aksara Jawa dari “Hyang”. Kepada para penganut Kapitayan, para da’i menjelaskan bahwa Allah itu konsepnya sama dengan Tuhan mereka: tidak bisa diindra.

Persepsi atas hantu, roh halus, maupun dewa-dewa kecil dari para penganut Kapitayan kemudian diubah, bahwa mereka sejatinya adalah jin: ciptaan Allah yang derajatnya sama dengan manusia sebagai makhluk.

Sumber dan Rekomendasi Bacaan

Agus Sunyoto. 2012. Atlas Walisongo. Pustaka IIMaN: Tangerang Selatan.

Irfan Afifi. 2019. Saya, Jawa, dan Islam. Buku Langgar: Yogyakarta.

Martin van Bruinessen. 1995. Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat. Mizan: Bandung.

Nur Khalik Ridwan. 2021. Islam di Jawa Abad XIII-XVI. Buku Langgar: Yogyakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *