Ketika Shakespeare Terinspirasi oleh Sastra Islam

Share the idea

Penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara dimulai sejak masa awal terbentuknya negara Islam, dan terus berlanjut ketika dakwah Islam berhasil meluas hingga ke luar jazirah Arab. Khalifah Umar melarang penggunaan bahasa non-Arab dan mengatakan, “Karena hal itu adalah Khibb, yaitu rekayasa dan tipudaya.

Dakwah Islam yang terus menerus meluas menyebabkan agama tauhid ini berhasil memasuki Eropa. Tak heran, Islam dengan konsep jihadnya berhasil menginspirasi para sastrawan ulung untuk menghasilkan berbagai karya sastra dengan tema-tema kepahlawanan para pejuang Islam yang mencerminkan semangat perjuangan. Rangkaian bahasa-bahasa indah tersebut memberi pengaruh yang sangat besar terhadap karya sastra Barat, terutama di Andalusia. Seorang penulis Spanyol bernama Abaniz bahkan mengatakan, “Sesungguhnya bangsa Eropa tidak mengenal syair-syair kepahlawanan, tidak memperhatikan etika-etikanya, dan semangat perjuangannya sebelum datangnya orang Arab ke Andalusia dan menyebarnya para pejuang dan pahlawan mereka ke belahan selatan.”

Pengaruh tersebut bahkan membuat terabaikannya bahasa Latin dan Yunani di kalangan masyarakat Eropa. Seorang orientalis Belanda bernama Reinhart Pieter Anne Dozy (1820-1883 M) mengungkap sejauh mana sastra Arab memberi dampak atas karya para sastrawan Barat abad pertengahan. Ia mengutip pernyataan seorang penulis Spanyol bernama Algheri, yang sangat menyesalkan ketika bahasa umat Islam tersebut mendapat perhatian lebih dibandingkan bahasa Latin dan Yunani, hingga menunjukkan kebenciannya terhadap Islam,

“Sesungguhnya orang-orang pintar tersihir oleh dengungan sastra Arab sehingga mereka meremehkan bahasa Latin dan menulis dengan bahasa penakluk mereka tanpa lainnya. Hal itu diperparah dengan kebanggaan mereka yang melebihi kebanggaan dengan tanah airnya sendiri. Sungguh, saya sangat menyesalkan hal itu.”

“Sesungguhnya saudara-saudara kami dari kalangan Kristen merasa kagum dengan syair dan kisah-kisah Arab. Mereka mempelajari karya-karya para filosof dan ahli fikih kaum muslimin. Adakah sekarang, selain tokoh agama, orang yang mau membaca tafsir-tafsir agama terhadap kitab Taurat dan Injil? Adakah sekarang orang yang membaca kitab Injil dan wasiat-wasiat para Rasul dan Nabi? Betapa menyedihkan hal ini! Sesungguhnya generasi baru dari kaum Nasrani yang cerdas tidak dapat membuat sastra atau berbahasa kecuali bahasa sastra dan bahasa Arab. Sungguh, mereka biasa melahap buku-buku Arab dan mengoleksinya ke dalam perpustakaan-perpustakaan besar walaupun dengan harga yang sangat mahal. Nyanyian mereka adalah pujian-pujian atas warisan Arab.”

“Sementara itu, ketika mereka mendengar buku-buku Nasrani mereka bersikap acuh tak acuh terhadapnya dengan alasan bahwa buku-buku tersebut tidak berhak sama sekali untuk ditoleh! Betapa menyedihkan! Sesungguhnya kaum Nasrani telah melalaikan bahasa mereka. Sekarang kamu tidak akan menemukan satu dari seribu orang yang menulis surat kepada temannya dengan bahasanya sendiri. Adapun bahasa Arab, betapa banyak orang-orang yang pandai menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Bahkan mereka merangkai syair-syair yang kualitas keindahan dan kebenaran penyampaiannya lebih baik daripada syair orang Arab sendiri.”

Fenomena orang-orang Eropa yang menulis surat menggunakan bahasa Arab hingga penyair Eropa yang pandai dalam membuat syair-syair Arab tentu bukan fenomena sembarangan. Hal ini dibutuhkan penguasaan bahasa Arab yang baik pula. Ibnu Hazm (ulama abad ke-11 Masehi yang besar di Spanyol) menguatkan peristiwa ini. Menurutnya, bahasa Arab telah menjadi bahasa yang umum digunakan, baik oleh masyarakat maupun kelompok elit. Para penyair Kristen dan para penyair muslim seringkali berkumpul di istana kerajaan Kristen untuk menghasilkan berbagai karya sastra. Seperti yang terjadi di istana Raja Sancho (Sancho I of Leon) yang mengumpulkan 13 penyair Arab, 12 penyair Kristen, dan 1 penyair Yahudi. Tak terbatas pada syair, hal ini juga merambah pada musik. Manuskrip dari zaman Raja Alphonse (Alfonso X of Castile) menunjukkan gambar penyair Arab dan penyair Kristen sedang menyanyi bersama menggunakan gitar.

Ternyata, hal ini tak hanya terjadi di Spanyol, melainkan di berbagai wilayah Khilafah lainnya. Bahasa Arab bahkan menjadi lingua franca (bahasa pengantar) yang dapat menyatukan orang dari berbagai bahasa dan latar belakang. Peristiwa ini menjadi sangat populer terutama di masa kejayaan peradaban Islam, ketika Baghdad dengan Baitul Hikmahnya menjadi pusat intelektualitas dunia. Jika hari ini kita mengakses berbagai literatur seperti jurnal dan buku berbahasa Inggris, maka berbagai hasil penelitian kala itu ditulis dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Orang-orang selain Arab mulai meninggalkan bahasa mereka, bahasa Arab menjadi bahasa mereka, hingga bahasa-bahasa non-Arab dianggap sebagai bahasa pendatang dan bahasa asing. Bahasa Arab disebut-sebut sebagai ‘bahasa Hadhariy’ (bahasa peradaban) di semua kota Islam.

Ibnu Khaldun dalam bukunya yang sangat terkenal, “Mukaddimah” menjelaskan, secara alamiah hal tersebut sangatlah wajar, mengingat bahasa warga yang dikuasai akan mengikuti bahasa dari bangsa yang menguasai. Jika manusia dan kehidupan bernegaranya mengikuti pemimpin dan agamanya, maka Islam dengan berbagai penaklukkannya berhasil memberi pengaruh yang demikian besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bahkan jika hari ini kita melihat banyak kosakata bahasa Indonesia yang merupakan hasil serapan dari bahasa Arab, begitu pun dengan Eropa. Sebagai contoh adalah jar (guci) dari jarrah, lemon (lemon) dari limun, zero (nol) dari shifr, cotton (kapas) dari quthn, dan berbagai kata lain yang tak terhitung jumlahnya. Tak heran jika Prof. Dr. Raghib As-Sirjani mengakui bahwa karya sastra Eropa berhutang besar kepada umat Islam yang menjadikan kehidupan abad pertengahan Eropa menjadi lebih ‘hidup’, seperti rangkaian kata-kata indah yang menenangkan jiwa dan kisah-kisah kreatif yang mengangkat batas imajinasi manusia atas dunia.

Tak heran, jika berbagai cerita yang muncul di masa kekhilafahan juga memberi pengaruh yang demikian besar atas berbagai novel Eropa. Bahkan salah satu kisah yang sangat populer, yaitu Kisah Seribu Satu Malam telah menginspirasi buku “Gulliver’s Travels” karya Jonathan Swift, “Robinson Crusoe” karya Daniel Defoe, kisah “Ten Tales” dari buku “The Decameron” karya Giovanni Boccaccio, “Nathan the Wise” karya Gotthold Ephraim Lessing, dan William Shakespeare (pengarang Romeo and Juliet) dengan naskah dramanya “The Taming of the Shrew” yang kala itu populer sebagai cerita yang dikisahkan dari mulut ke mulut sebelum diterjemahkan secara resmi.

Demikianlah, Islam dengan bahasa Arabnya ternyata tidaklah sesempit yang dibayangkan. Semoga hal ini dapat menguatkan iman kita, menginspirasi untuk meningkatkan aktivitas membaca, dan tentunya semakin bersemangat dalam mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa resmi agama. Wallahu a’lam. []

Sumber :

Prof. Dr. Raghib As-Sirjani. Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia. 2017. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

Ibnu Khaldun. Mukaddimah. 2014. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

Firas Alkhateeb. Lost Islamic History. 2016. Zahira: Jakarta.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *